Tuesday, February 19, 2008

Fenomena Fareed Zakaria

Penyerangan gedung kembar WTC pada tanggal 11 September 2001 merupakan titik genting hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Islam. Pemerintahan Taliban di Afghanistan dihancurkan. Saddam Husein, Iraq, ditumbangkan. Penjara Guantanamo dikembangkan. Usamah bin Laden dikejar-kejar untuk dimusnahkan. Lebih penting dari itu, sikap umum AS terhadap masyarakat Muslim: curiga. Clash of Civilization seakan-akan menjadi nyata. Pada saat hubungan AS dan Islam ini mencapai titik terendah, munculla penyelamat Islam. Siapakah dia?




***



AS di Mata Santri: Fenomena Fareed Zakaria

Oleh: Rizqon Khamami
Penulis adalah peserta program International Visitor Leadership USA-2008 utusan Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang, Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur

Penyerangan gedung kembar WTC pada tanggal 11 September 2001 merupakan titik genting hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Islam. Pemerintahan Taliban di Afghanistan dihancurkan. Saddam Husein, Iraq, ditumbangkan. Penjara Guantanamo dikembangkan. Usamah bin Laden dikejar-kejar untuk dimusnahkan. Lebih penting dari itu, sikap umum AS terhadap masyarakat Muslim: curiga. Clash of Civilization seakan-akan menjadi nyata. Pada saat hubungan AS dan Islam ini mencapai titik terendah, muncullah Fareed Zakaria sebagai penyelamat Islam. Konon, di kalangan tertentu ia disebut-sebut sebagai mujaddid abad 21

Siapakah Fareed Zakaria? Ia adalah seorang kolumnis Muslim warga Amerika Serikat, lahir dan besar di India. Ayahnya adalah satu satu tokoh besar Muslim di India dengan buku diantaranya, “Struggle within Islam”, Rafiq Zakaria yang baru meninggal beberapa tahun lalu. Fareed Zakaria juga Chief Editor edisi international mingguan Newsweek. Lewat majalah ini, tulisannya disebut-sebut sebagai tulisan paling luas dibaca di dunia. Di majalah mingguan ini juga ia tercatat sebagai chief editor termuda dalam sejarah, umur 32 tahun. Sebelumnya, begitu juga, ia adalah editor termuda di jurnal bergengsi Foreign Affairs, 29 tahun. Ia alumni Yale University dan Harvard. Tulisan-tulisannya tersebar di The New York Times, The Wall Street Journal, The New Yorker dan The New Republic.

Beberapa buku menarik Fareed Zakaria antara lain: From Wealth to Power: The Unusual Origins of America's World Role (Princeton University Press), disertasi PhD di Harvard, dan menjadi co-editor The American Encounter: The United States and the Making of the Modern World (Basic Books). Karya fonumental dan terlaris buah karyanya adalah The Future of Freedom (2003), best-seller di New York Times. Buku ini sudah diterjemahkan kurang lebih ke dalam 18 bahasa. Majalah Esquire pada tahun 1999 menjulukinya sebagai orang penting abad 21. Pada 2006 disebut-sebut sebagai salah satu dari 100 lulusan Harvard paling berpengaruh.

Sebagai Muslim, Fareed Zakaria lewat beberapa tulisannya membuka mata AS dalam membuat pemetaan pada Islam di saat semua orang bingung dan dunia Barat melihat Islam sebagai entitas yang menakutkan sebagai akibat serangan gedung WTC. Para Islamis dan golongan keras, begitu ia tulis dalam salah satu artikelnya, berasal dari kalangan Wahabi, dengan madrasah dan masjid-masjid atas dana Saudi Arabia hampir tanpa batas. AS harus waspada.


Beberapa hari setelah serangan WTC, ia menulis di Newsweek, Oktober 2001, “Why They Hate Us”. Sebuah artikel penting dalam mempengaruhi cara pandang Barat terhadap Islam, dan menjadikan Fareed Zakaria seorang pemikir yang disegani. Dalam artikel ini ia menjelaskan bahwa serangan itu bukan semata-mata karena tidak tolerannya Islam. Tapi, itu cermin dari globalisasi yang timpang, khususnya pada aristrokasi Arab. Masyarakat Arab mengadopsi modernisasi dan budaya barat yang hambar --minum Pepsi, Kentucky, McDonnald, memakai jeans, menonton film-film Hollywood-- tapi meninggalkan formula-formula dasar modernisasi, yaitu kebebasan yang membuka kompetisi dan peluang transportasi vertikal. Hampir di semua negara Arab aspirasi politik dipancung. Ditambah lagi kegagalan sistem sosialisme Arab. Semua itu menjadikan masyarakat Arab melampiaskan semua kekesalan mereka melalui sarana Agama, karena hanya agamalah satu-satunya alat yang terbebas dari sensor penguasa.

Meskipun analisa Fareed Zakaria tidak sepenuhnya betul, melalui tulisan ini, paling tidak, kesalahan penyerangan WTC dialihkan bukan pada Islam sebagai agama, tapi pada kegagalan politik di Timur Tengah. Sebuah pengalihan yang cerdas.

Di samping itu, di balik pengalihan itu, tulisan Fareed Zakaria tadi secara tidak langsung juga mempengaruhi kebijakan luar negeri Presiden Bush. Selain ‘Why They Hate Us’, buku The Future of Freedom, saya kira, adalah buku yang paling mempengaruhi Bush dan Neo-Con. 5 doktrin Bush --mengutip Jacob Weisberg dalam The Bush Tragedy (2008): Unipolar Realism, With Us or Against Us, Preemtion, Democracy in the Middle East, dan Freedom Everywhere—tampak terpengaruh tulisan-tulisan Fareed Zakaria. Di sini posisi Fareed Zakaria menarik.

Sejauh mana keterlibatannya dalam proyek politik Timur-Tengah George W. Bush? Pada tahun 2006, dalam bukunya State of Denial, Bob Woodward, jurnalis Washington Post menulis bahwa tanggal 29 November 2001, sebuah pertemuan para pakar dan analis Timur Tengah digelar atas permintaan Paul Wolfowitz, orang penting Kementerian Pertahanan AS masa itu. Hasil dari pertemuan tersebut dilaporkan kepada Presiden Bush, selanjutnya terkait dengan kebijakan Amerika terhadap Afghanistan dan Timur Tengah selepas serangan 11 September 2001, sebuah laporan yang mendukung invasi AS ke Iraq. Fareed Zakaria mengajukan protes dirinya disebut-sebut sebagai salah satu dari mereka, karena baginya hasil pertemuan tersebut dikiranya tidak untuk dilaporkan ke Presiden dan hanya brainstorming saja. Ia berkeberatan. Bantahan tersebut diterbitkan pada 21 Oktober 2006 di The New York Times.

Awalnya Fareed Zakaria menyokong penggunaan militer melawan Iraq, dengan syarat: invasi itu di bawah komando PBB dengan penggunaan militer dalam jumlah besar, sekitar 400.000 tentara. Ia juga mengusulkan meniru penanganan Iraq seperti halnya di Bosnia dan Kosovo yang dilakukan oleh pasukan internasional, bukan Amerika sendirian. Beberapa hari setelah bom pertama meledak, Fareed Zakaria menulis “Why America Scares the World”. Tulisan yang secara terbuka mengkritik kegagalan pemerintahan Bush dalam upaya diplomasi dan membangun konsensus internasional untuk aksi-aksinya. Seminggu setelah penyerangan Iraq, ia mengkritik AS kembali, “The Arrogant Empire”, berisi detil-detil kegagalan kebijakan luar negeri Bush menjelang perang. Kritik pedasnya sejak kejatuhan Baghdad adalah pembubaran tentara Iraq beserta birokrasinya atas dalih “de-baathification”. Prediksinya tentang pembentukan tentara baru Iraq adalah munculnya dominasi Syiah dan Kurdi dalam militer, yang pada gilirannya hanya akan memperburuk ketegangan sektarian di negara tersebut. Dugaan itu terbukti. Empat bulan setelah masuknya tentara AS, kembali ia kritik AS, “Iraq Policy is Broken”, dan September 2003 ia menulis panjang lebar di Newsweek, “So What’s Plan B?”. Menjelang pemilu di Iraq, pada bulan Februari 2005 ia memprediksikan bahwa apapun hasil pemilu, prospek demokrasi di Iraq makin suram. Lagi-lagi prediksi yang dibenarkan oleh sejarah.

Kritik lain Fareed Zakaria terhadap pemerintahan Bush dituangkan dalam “Islam and Power” (February 13, 2006). Ia menulis bahwa demokrasasi di Timur Tengah menghasilkan buah yang aneh di mata AS, di luar prediksi mereka, berpuncak pada kemenangan Hamas di Palestina dan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Kenapa? Menguatnya kelompok ini, menurut Fareed Zakaria, karena tidak adanya alternatif-alternatif cara lain. Selama beberapa dekade Timur Tengah adalah wilayah a-politik. Di bawah Saddam tidak ada satupun partai hidup. Saddam menghancurkan semua, kecuali kelompok-kelompok yang berbasis masjid, bahkan pada masa akhir kekuasaannya ia menggunakannya untuk memperkokoh posisinya. Di hampir semua negeri Muslim, Islam menjadi sarana oposisi politik. Dan kritik lain pada Bush, bahwa dalam kebijakan demokratisasi Timur Tengah-nya, Bush belum lagi meningkatkan reformasi politik, ekonomi dan sosial di masyarakat Arab –dasar pokok dalam membentuk masyarakat demokratis. Menariknya, menurut Fareed Zakaria demokrasi tidak identik dengan pemilu.

Alasan kuat kemunculan politik islamis, lanjut Fareed Zakaria, adalah kegagalan politik sekular. Sekulerisme yang ada di Timur Tengah diwakili oleh Saddam Hussein, Muammar Kaddafi, Hosni Mubarak dan Yasir Arafat. Masyarakat Arab mempercayai bahwa mereka telah mencoba politik model Barat, tapi gagal. Mereka merasa model Barat tidak cocok. Dan hal ini, menurut Fareed Zakaria, didengung-dengungkan oleh kelompok Islamis fundamentalisme. Kelompok ini memproklamirkan “Islam adalah solusi”. Sebuah terma perlawanan.

Karena itu, untuk menyikapi kemunculan kelompok Islamis ini, pesan Fareed Zakaria, Barat harus memahami mereka. Biarkan kelompok islamis itu ikut pemilu, jangan dibatasi, apalagi dicurangi seperti kasus Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Hamas di Palestina beberapa waktu lalu. Sesungguhnya, semakin mereka ditekan, semakin besar daya tarik mereka. Jika kran politik dibuka lebar, daya tarik mistis itu akan memudar. Mereka akan dipaksa menyesuaikan dengan keadaan, menjadi pragmatis. (Lihat PKS di Senayan)

Bagi masyarakat Barat, suara Fareed Zakaria ini dianggap memiliki otoritas karena berasal dari kalangan Muslim sendiri. Di sini ia memposisikan dirinya sebagai jembatan antara Islam dan Barat. Bisakah ia menjadi mujaddid abad 21 sebagaimana didengung-dengungkan sebagian orang? Tidak, karena menurut saya ia tidak memiliki otoritas dalam ilmu-ilmu agama. Fareed Zakaria hanyalah mewakili suara Islam.
Wallahu a’lam bisshowab

7 comments:

Anonymous said...

Wah.. putra Indonesia kpn bisa ky gini ya om?
kan katanya, Kebangkitan Islam diprediksi dari Indonesia....

Mahdi said...

Mbah Rizqon, mau nanya dikit.

Kalau di India itu setahu saya ada aliran Islam Barelwi, Deoband, dan Ahlul hadits. Kalau Barelwi lebih bercorak tasawuf thariqat (Qadiriyah kalau tidak salah saya). Cuma saya agak bingung dengan Deoband dan Ahlul Hadits, beda antara mereka di mana? apakah Deoband bermadzhab Hanafi sedangkan Ahlul Hadits ini versi lain dari Wahabisme Saudi atau bagaimana? Bukankah Madrasah Deoband yang ada di Pakistan juga adalah tempat belajar para Thaliban Afghanistan yang juga bercorak Wahabiyah?
Kalau saya baca tulisan-tulisannya Yoginder Sikand (peneliti Madrasah di India), ia menyebutkan kalau Deoband dan Ahlul hadits pernah terlibat konflik saling mengkafirkan selama periode 90-an karena memperebutkan uang Wahabi Saudi. Ini bagaimana, kalau benar mereka sesama Wahabi, mengapa harus konflik? Atau Deoband adalah kalangan Hanafi India yang sudah terwahabikan atau ingin mewahabikan diri?

Mohon pencerahan karena sampeyan lama di India.

Terimakasih banyak Mbah.

Anonymous said...

Allahhu Akbar......ternyata tidak smua orang islam bodoh.mari tunjukan bahwa islam bukan agama yg menyebabkan ke onaran.mari tunjukan INNADINA INDALLOHIL ISLAAAAAAAAAM...HIDUP ISLAM

Estananto said...

Mbah apa kabar Mbah! mana updatenya...

Estananto said...

masih di Amerika mbah?

Anonymous said...

Salam, Ustadz Rizqon...

Perkenalkan, saya Muhammad Al-Fayyadl, dari Nurul Jadid. Sekarang di Jogja.

Senang baca tulisan sampeyan tentang Fareed Zakaria. Informatif.

Fayyadl
(fayyadl.wordpress.com)

Muchamad jengki tommy yanto said...

shiiipppp dah

lam kenal..:)