Renungan & Kegelisahan

Tuesday, February 19, 2008

Fenomena Fareed Zakaria

Penyerangan gedung kembar WTC pada tanggal 11 September 2001 merupakan titik genting hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Islam. Pemerintahan Taliban di Afghanistan dihancurkan. Saddam Husein, Iraq, ditumbangkan. Penjara Guantanamo dikembangkan. Usamah bin Laden dikejar-kejar untuk dimusnahkan. Lebih penting dari itu, sikap umum AS terhadap masyarakat Muslim: curiga. Clash of Civilization seakan-akan menjadi nyata. Pada saat hubungan AS dan Islam ini mencapai titik terendah, munculla penyelamat Islam. Siapakah dia?


***



AS di Mata Santri: Fenomena Fareed Zakaria

Oleh: Rizqon Khamami
Penulis adalah peserta program International Visitor Leadership USA-2008 utusan Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang, Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur


Penyerangan gedung kembar WTC pada tanggal 11 September 2001 merupakan titik genting hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Islam. Pemerintahan Taliban di Afghanistan dihancurkan. Saddam Husein, Iraq, ditumbangkan. Penjara Guantanamo dikembangkan. Usamah bin Laden dikejar-kejar untuk dimusnahkan. Lebih penting dari itu, sikap umum AS terhadap masyarakat Muslim: curiga. Clash of Civilization seakan-akan menjadi nyata. Pada saat hubungan AS dan Islam ini mencapai titik terendah, muncullah Fareed Zakaria sebagai penyelamat Islam. Konon, di kalangan tertentu ia disebut-sebut sebagai mujaddid abad 21

Siapakah Fareed Zakaria? Ia adalah seorang kolumnis Muslim warga Amerika Serikat, lahir dan besar di India. Ayahnya adalah satu satu tokoh besar Muslim di India dengan buku diantaranya, “Struggle within Islam”, Rafiq Zakaria yang baru meninggal beberapa tahun lalu. Fareed Zakaria juga Chief Editor edisi international mingguan Newsweek. Lewat majalah ini, tulisannya disebut-sebut sebagai tulisan paling luas dibaca di dunia. Di majalah mingguan ini juga ia tercatat sebagai chief editor termuda dalam sejarah, umur 32 tahun. Sebelumnya, begitu juga, ia adalah editor termuda di jurnal bergengsi Foreign Affairs, 29 tahun. Ia alumni Yale University dan Harvard. Tulisan-tulisannya tersebar di The New York Times, The Wall Street Journal, The New Yorker dan The New Republic.

Beberapa buku menarik Fareed Zakaria antara lain: From Wealth to Power: The Unusual Origins of America's World Role (Princeton University Press), disertasi PhD di Harvard, dan menjadi co-editor The American Encounter: The United States and the Making of the Modern World (Basic Books). Karya fonumental dan terlaris buah karyanya adalah The Future of Freedom (2003), best-seller di New York Times. Buku ini sudah diterjemahkan kurang lebih ke dalam 18 bahasa. Majalah Esquire pada tahun 1999 menjulukinya sebagai orang penting abad 21. Pada 2006 disebut-sebut sebagai salah satu dari 100 lulusan Harvard paling berpengaruh.

Sebagai Muslim, Fareed Zakaria lewat beberapa tulisannya membuka mata AS dalam membuat pemetaan pada Islam di saat semua orang bingung dan dunia Barat melihat Islam sebagai entitas yang menakutkan sebagai akibat serangan gedung WTC. Para Islamis dan golongan keras, begitu ia tulis dalam salah satu artikelnya, berasal dari kalangan Wahabi, dengan madrasah dan masjid-masjid atas dana Saudi Arabia hampir tanpa batas. AS harus waspada.


Beberapa hari setelah serangan WTC, ia menulis di Newsweek, Oktober 2001, “Why They Hate Us”. Sebuah artikel penting dalam mempengaruhi cara pandang Barat terhadap Islam, dan menjadikan Fareed Zakaria seorang pemikir yang disegani. Dalam artikel ini ia menjelaskan bahwa serangan itu bukan semata-mata karena tidak tolerannya Islam. Tapi, itu cermin dari globalisasi yang timpang, khususnya pada aristrokasi Arab. Masyarakat Arab mengadopsi modernisasi dan budaya barat yang hambar --minum Pepsi, Kentucky, McDonnald, memakai jeans, menonton film-film Hollywood-- tapi meninggalkan formula-formula dasar modernisasi, yaitu kebebasan yang membuka kompetisi dan peluang transportasi vertikal. Hampir di semua negara Arab aspirasi politik dipancung. Ditambah lagi kegagalan sistem sosialisme Arab. Semua itu menjadikan masyarakat Arab melampiaskan semua kekesalan mereka melalui sarana Agama, karena hanya agamalah satu-satunya alat yang terbebas dari sensor penguasa.

Meskipun analisa Fareed Zakaria tidak sepenuhnya betul, melalui tulisan ini, paling tidak, kesalahan penyerangan WTC dialihkan bukan pada Islam sebagai agama, tapi pada kegagalan politik di Timur Tengah. Sebuah pengalihan yang cerdas.

Di samping itu, di balik pengalihan itu, tulisan Fareed Zakaria tadi secara tidak langsung juga mempengaruhi kebijakan luar negeri Presiden Bush. Selain ‘Why They Hate Us’, buku The Future of Freedom, saya kira, adalah buku yang paling mempengaruhi Bush dan Neo-Con. 5 doktrin Bush --mengutip Jacob Weisberg dalam The Bush Tragedy (2008): Unipolar Realism, With Us or Against Us, Preemtion, Democracy in the Middle East, dan Freedom Everywhere—tampak terpengaruh tulisan-tulisan Fareed Zakaria. Di sini posisi Fareed Zakaria menarik.

Sejauh mana keterlibatannya dalam proyek politik Timur-Tengah George W. Bush? Pada tahun 2006, dalam bukunya State of Denial, Bob Woodward, jurnalis Washington Post menulis bahwa tanggal 29 November 2001, sebuah pertemuan para pakar dan analis Timur Tengah digelar atas permintaan Paul Wolfowitz, orang penting Kementerian Pertahanan AS masa itu. Hasil dari pertemuan tersebut dilaporkan kepada Presiden Bush, selanjutnya terkait dengan kebijakan Amerika terhadap Afghanistan dan Timur Tengah selepas serangan 11 September 2001, sebuah laporan yang mendukung invasi AS ke Iraq. Fareed Zakaria mengajukan protes dirinya disebut-sebut sebagai salah satu dari mereka, karena baginya hasil pertemuan tersebut dikiranya tidak untuk dilaporkan ke Presiden dan hanya brainstorming saja. Ia berkeberatan. Bantahan tersebut diterbitkan pada 21 Oktober 2006 di The New York Times.

Awalnya Fareed Zakaria menyokong penggunaan militer melawan Iraq, dengan syarat: invasi itu di bawah komando PBB dengan penggunaan militer dalam jumlah besar, sekitar 400.000 tentara. Ia juga mengusulkan meniru penanganan Iraq seperti halnya di Bosnia dan Kosovo yang dilakukan oleh pasukan internasional, bukan Amerika sendirian. Beberapa hari setelah bom pertama meledak, Fareed Zakaria menulis “Why America Scares the World”. Tulisan yang secara terbuka mengkritik kegagalan pemerintahan Bush dalam upaya diplomasi dan membangun konsensus internasional untuk aksi-aksinya. Seminggu setelah penyerangan Iraq, ia mengkritik AS kembali, “The Arrogant Empire”, berisi detil-detil kegagalan kebijakan luar negeri Bush menjelang perang. Kritik pedasnya sejak kejatuhan Baghdad adalah pembubaran tentara Iraq beserta birokrasinya atas dalih “de-baathification”. Prediksinya tentang pembentukan tentara baru Iraq adalah munculnya dominasi Syiah dan Kurdi dalam militer, yang pada gilirannya hanya akan memperburuk ketegangan sektarian di negara tersebut. Dugaan itu terbukti. Empat bulan setelah masuknya tentara AS, kembali ia kritik AS, “Iraq Policy is Broken”, dan September 2003 ia menulis panjang lebar di Newsweek, “So What’s Plan B?”. Menjelang pemilu di Iraq, pada bulan Februari 2005 ia memprediksikan bahwa apapun hasil pemilu, prospek demokrasi di Iraq makin suram. Lagi-lagi prediksi yang dibenarkan oleh sejarah.

Kritik lain Fareed Zakaria terhadap pemerintahan Bush dituangkan dalam “Islam and Power” (February 13, 2006). Ia menulis bahwa demokrasasi di Timur Tengah menghasilkan buah yang aneh di mata AS, di luar prediksi mereka, berpuncak pada kemenangan Hamas di Palestina dan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Kenapa? Menguatnya kelompok ini, menurut Fareed Zakaria, karena tidak adanya alternatif-alternatif cara lain. Selama beberapa dekade Timur Tengah adalah wilayah a-politik. Di bawah Saddam tidak ada satupun partai hidup. Saddam menghancurkan semua, kecuali kelompok-kelompok yang berbasis masjid, bahkan pada masa akhir kekuasaannya ia menggunakannya untuk memperkokoh posisinya. Di hampir semua negeri Muslim, Islam menjadi sarana oposisi politik. Dan kritik lain pada Bush, bahwa dalam kebijakan demokratisasi Timur Tengah-nya, Bush belum lagi meningkatkan reformasi politik, ekonomi dan sosial di masyarakat Arab –dasar pokok dalam membentuk masyarakat demokratis. Menariknya, menurut Fareed Zakaria demokrasi tidak identik dengan pemilu.

Alasan kuat kemunculan politik islamis, lanjut Fareed Zakaria, adalah kegagalan politik sekular. Sekulerisme yang ada di Timur Tengah diwakili oleh Saddam Hussein, Muammar Kaddafi, Hosni Mubarak dan Yasir Arafat. Masyarakat Arab mempercayai bahwa mereka telah mencoba politik model Barat, tapi gagal. Mereka merasa model Barat tidak cocok. Dan hal ini, menurut Fareed Zakaria, didengung-dengungkan oleh kelompok Islamis fundamentalisme. Kelompok ini memproklamirkan “Islam adalah solusi”. Sebuah terma perlawanan.

Karena itu, untuk menyikapi kemunculan kelompok Islamis ini, pesan Fareed Zakaria, Barat harus memahami mereka. Biarkan kelompok islamis itu ikut pemilu, jangan dibatasi, apalagi dicurangi seperti kasus Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Hamas di Palestina beberapa waktu lalu. Sesungguhnya, semakin mereka ditekan, semakin besar daya tarik mereka. Jika kran politik dibuka lebar, daya tarik mistis itu akan memudar. Mereka akan dipaksa menyesuaikan dengan keadaan, menjadi pragmatis. (Lihat PKS di Senayan)

Bagi masyarakat Barat, suara Fareed Zakaria ini dianggap memiliki otoritas karena berasal dari kalangan Muslim sendiri. Di sini ia memposisikan dirinya sebagai jembatan antara Islam dan Barat. Bisakah ia menjadi mujaddid abad 21 sebagaimana didengung-dengungkan sebagian orang? Tidak, karena menurut saya ia tidak memiliki otoritas dalam ilmu-ilmu agama. Fareed Zakaria hanyalah mewakili suara Islam.
Wallahu a’lam bisshowab

Selengkapnya...



Monday, February 11, 2008

Masihkan Amerika Superpower?

Amerika Serikat (AS) meredup. Begitulah kira-kira gambaran AS sewindu di bawah pemerintahan George W. Bush. Posisi tawar AS semakin menipis. Penolakan terhadap AS terjadi hampir serentak di setiap penjuru dunia. Dunia bergeser, seakan-akan AS bukan lagi Polisi Tunggal Dunia. Melihat semua ini, layak kita bertanya, masihkan AS super power?




***

AS di Mata Santri: Masihkan Amerika Superpower?


Oleh: Rizqon Khamami
Penulis adalah peserta program International Visitor Leadership USA-2008 utusan Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang, Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur.


Amerika Serikat (AS) meredup. Begitulah kira-kira gambaran AS sewindu di bawah pemerintahan George W. Bush. Posisi tawar AS semakin menipis. Kenapa? Karena energi AS habis untuk menyelesaikan sisa-sisa perang di Afghanistan dan Iraq.

Sejak 2001, Washington menginvasi dua negara, dan di samping itu mengirim personel militernya ke penjuru dunia dari Somalia hingga Filipina: memerangi militansi Islam. Dan dana yang dikeluarkan untuk dua perang di atas tidak kurang dari $187 milyar, sebuah jumlah fantastis kombinasi anggaran militer 4 negara sekaligus: Cina, Rusia, India dan Inggris. Ditambah lagi Departement of Homeland Security, yang baru kemarin dibentuk, memiliki anggaran sekitar $40 milyar.

Beberapa dekade lalu, hegemoni global Amerika menjadi topic hangat. Sejarah mencatat: Amerika unggul. Namun kemenangan akibat runtuhnya Uni Sovyet itu membuat AS arogan, mau menang sendiri dan paranoid. Apalagi sejak serangan 11 September. Menjelang invasi Iraq, hubungan dengan beberapa negara menegang (contoh kasus: Perancis sebelum Sarkozy). Akibatnya, di mata publik dunia AS kurang disegani, bahkan cenderung marah, terutama publik Muslim.

Sejak beberapa tahun lalu, untuk pertama kali, ASEAN tidak melibatkan AS dalam sidang puncaknya. Malahan, meminta Cina dan India –dua negara yang melejit dalam bidang ekonomi disertai pengaruh mereka di dunia-- menjadi peserta. Untuk pertama kalinya, pada tahun 2001, Perdana Menteri Cina Zhu Rongji menawarkan Pakta Perdagangan Bebas (FTA) kepada negara-negara Asia Tenggara. Jika ini berlaku, 1,7 milyar orang akan menjadi konsumen, dengan kombinasi produk domestic kasar $1,5 hingga $2 triliun, tulis Kishore Mahbubani. Jumlah yang fantastis. Investasi Cina menyebar besar-besaran di tiap negara ASEAN, tidak terkecuali Indonesia.

Kishore Mahbubani, pakar politik internasional dari Singapura, mengamati bahwa pengaruh AS di Asia Tenggara semakin memudar, terganti oleh Cina. Masyarakat Filipina menuntut penutupan pangkalan militer AS di negaranya. Begitu juga di Jepang. Pada saat yang sama, Rusia di bawah Putin –Rusia kaya mendadak berkat harga minyak yang melonjak-- ikut bermain di Asia Tenggara. Beruang Kutub itu kini menjadi negara adidaya kembali dan sejak setahun ini mendadak sudah bertengger di Bumi Pertiwi. Posisi AS semakin terpinggir.

Bahkan beberapa negara yang secara tradisional punya hubungan erat dengan AS, survey memperlihatkan posisi AS menurun tajam. Menurut Pew poll, sikap positif warga Inggris terhadap AS menurun dari 83 persen pada tahun 2000 menjadi 56 persen pada tahun lalu. Di Jerman, angka menyusut dari 78 menjadi 37. Menurut sebuah survey lain di Jerman, Marshal Fund, hanya 36 persen menganggap kepemimpinan AS sebagai hal positif. Pada tahun 2002, angka itu mencapai 64 persen. Ditanya alasan apa yang mendasari penurunan itu: 34 persen menjawab karena Presiden Bush, dan 38 karena perang Iraq. Hal yang sama juga berlalu di Cina, sebanyak 57 persen menganggap AS sebagai negara yang kurang baik. Alasannya: arrogan, perang iraq dan unilateralisme.

Dalam perebutan sumber minyak dunia, di beberapa tempat AS kalah langkah oleh Cina. Konsesi minyak Sudan dikuasi Cina. Saat ini saja sedang dibangun pipa minyak langsung ke Cina dari negara-negara di Asia Tengah. Sedang hampir separuh minyak daerah ini di bawah konsesi Rusia. Iran menjual ke India. Venezuela kepada Cina dan kepada negara-negara tetangga Latin lainnya. AS gigit jari.

Cina mengungguli tidak saja dalam konsesi minyak, tapi juga dalam proyek-proyek pembangunan dan perdagangan di Afrika, dengan nilai perdagangan tahun lalu sebesar $50 milyar. Diproyeksikan pada tahun 2010 nilai itu akan mencapai $100 milyar. Bahkan Cina memberi pinjaman sebesar $11 milyar untuk Anggola –jumlah yang lebih banyak dibanding pinjaman Bank Dunia. Kuku naga Cina kini sedang menancapkan pengaruhnya di benua hitam pekat ini. Fareed Zakaria, pakar politik internasional asal Amerika, bahkan menyebut bahwa abad ini adalah abad Cina.

Keunggulan Cina atas AS ini diikuti juga oleh beberapa negara lainnya. Penguatan ini ditandai dengan menguatkan ekonomi negara-negara tersebut, tentu saja beserta pengaruh atas negara-negara di sekitarnya. Yang paling menonjol adalah India, Rusia dan Eropa. Setelah beberapa tahun ekonomi Eropa terpuruk, kini sedang bangkit dengan motor penggerak Jerman.

Eropa sendiri membentuk Uni Eropa yang meliputi tidak kurang dari 500 juta penduduk, dan mempunyai produk domestik kotor setara dengan AS. Bagi masyarakat Eropa, identitas tunggal mereka adalah menjadi orang Eropa. Bagi mereka, berarti: tidak bergaya Amerika dan membuang semua yang berkaitan dengan Amerika. Sikap mengental ini diakibatkan, salah satunya, cara pandang pemerintah AS terhadap Eropa menjelang penyerangan ke Iraq. Simpati masyarakat Eropa terhadap AS perlahan mulai menipis.

Ekonomi AS tidak bergerak, saat ini bahkan berkecenderungan resesi. Pengangguran meningkat dari 4,7 persen menjadi 5 persen. Di Hollywood sendiri 10.500 pekerja film diberhentikan.

Daya beli masyarakat AS yang selama ini terbesar di dunia menjadi susut. Jaringan retailer Macy sebanyak 850 toko dilaporkan mengalami penurunan 7,9 persen dalam bulan Desember saja –Macy selama ini dianggap mewakili kemampuan beli kelas menengah. Tiffany, yang berhasil meraup laba besar selama 2007 pada saat banyak retailer terpuruk, melaporkan bahwa penjualan selama Christmas tahun ini turun 2 persen. Kemampuan beli orang AS menurun.

Jika ekonomi betul-betul berada di ambang resesi tahun ini, hal itu dikarenakan kesulitan ekonomi orang-orang Amerika –yang menempati 70 persen aktivitas ekonomi. Jika daya beli berhenti, banyak perusahaan akan merugi dan mengakibatkan pemutusan kontrak kerja , dan akhirnya makin mengurangi daya beli orang-orang AS yang sudah melemah. Dan begitu seterusnya. Semua itu pada awalnya dipicu oleh macetnya sub-prime mortgage dalam bisnis perumahan.

Mata uang dollar melemah terhadap nilai mata uang asing. Tahun 2002 satu euro berharga 86 sen dollar AS, saat ini dihargai $1,46. Dengan menguatnya euro, ada kecenderungan transaksi internasional mulai melirik mata uang Eropa ini. OPEC sedang mempelajari kemungkinan penggunaan euro dalam penjualan minyak. Akibatnya, harga minyak menjadi tambah mahal bagi AS, membuat ekonominya memburuk, lalu dollar makin melemah. Memakai istilah Hasan Turabi, pemikir Muslim dari Sudan, dollar bukan lagi sebagai ‘umlah muqoddasah’, mata uang suci yang didewa-dewakan.

Pertanyaan muncul: Apakah ini pertanda Amerika kehilangan superpowernya? Iya, jika AS terus menerus disibukkan oleh carut-marut kegagalan “demokratisasi Arab”-nya Bush. Dan sebaliknya, saya melihat, Amerika akan bisa bangkit lagi.

Kenapa bisa begitu? Karena, meminjam istilah Chu Shulong --peneliti di the Brookings Institution, Washington-- kemunduran AS hanya pada tataran soft-power. Artinya: meredupnya AS masih hanya seputar reputasi, superioritas moral, kepercayaan bangsa lain, pengaruh, dan prestige.

Sedangkan untuk hard-power, AS masih merajai dunia. Tengok saja militer AS, masih terkuat. Kepemilikan hulu ledak nuklir masih terbesar kedua setelah Rusia: 5.045 buah. Anggaran militernya $528,7 milyar –terbesar di dunia-- sedang negara-negara lain: Inggris $59.2, Perancis $53,1 milyar, Cina $49,5, Jepang $43,7, Jerman $37,0, dan Rusia $34,7 milyar.

Di sisi lain, Amerika juga masih menjadi negara terkaya di dunia. Lalu disusul Jepang, Jerman, lalu Cina dan India.

Karena itu, pemilihan presiden AS kali ini menjadi titik penentu, apakah nasib AS akan mengikuti nasib kerajaan Inggris pada akhir abad 19, berhenti menjadi penguasa tunggal dunia digeser oleh Cina? Mari kita pantau. Dan, alhamdulillah, saya berkesempatan melihat semua pergolakan itu dari sarangnya langsung dalam program International Visitor Leadership USA-2008.
Wallahu a’lam bisshowab
(Washington DC, 11 Februari 2008)
Selengkapnya...



Sunday, February 10, 2008

Nasib Mie-ku Tercinta

Pesawat North-West dengan nomor penerbangan NW-20 tiba di airport Minneapolis disambut kumpulan salju. Meskipun matahari bersinar cerah, salju tampak dari jendela bandara berjatuhan. Pagi yang indah. Ini pengalaman pertama saya melihat langsung keindahan salju dan sekaligus pengalaman pertama ke Amerika Serikat dalam mengikuti program Visiting Leaderships atas undangan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat dari tanggal 8 Februari hingga 1 Maret 2008. Meskipun cukup lama di luar negeri, 13 tahun –Iraq dan India-- saya menetap dan singgah di negara-negara tidak bersalju kala musim dingin. Perjalanan yang mengesankan. Tidak lupa saya membawa-serta mie andalanku, mie goreng instan rasa ayam. Ingin tahu bagaimana cerita nasib mie tersayangku?

Memasuki ruang pemeriksaan imigrasi saya berdebar. Pemegang visa AS tidak serta merta bisa lolos pemeriksaan yang dikenal ketat setelah peristiwa WTC 11 September. Jujur, saya agak gugup menapak masuk ruang tersebut, kaki mulai bergetar. Apalagi di pagi dingin itu, jempol kaki menari-nari ingin lari. “Tenang saja lah”, sergap hati saya mencoba berdamai dengan diri sendiri. Rasanya tidak mudah, apalagi begitu banyak cerita teman-teman yang sudah pernah berangkat lebih dulu tentang kesulitan sesi imigrasi ini.

Pemeriksaan di bandara AS tidak cukup sekali, begitu cerita beberapa diantara mereka. Benar saja. Saya tidak cukup beruntung pada pemeriksaan kali ini, saya dilempar ke pemeriksaan lapis kedua, secondary inspection. Mungkin karena nama yang terlalu Arab, atau mungkin karena wajah terlihat terroris --padahal saya sudah mencukup jenggot manis saya. Entahlah. Ini berbeda dengan negara-negara lain yang pernah saya kunjungi. Alhamdulillah, pemeriksaan tidak terlalu ketat, meski berlangsung cukup lama, dari pukul 11 hingga 1 siang. Saya keluar dari ruang pemeriksaan itu di saat sudah tidak ada lagi orang, padahal saya adalah termasuk orang pertama dalam rombongan penerbangan tersebut yang masuk kamar pemeriksaan tersebut. Dan tidak sedikit orang digiring seperti saya, dari berbagai jenis kulit dan bangsa, bahkan ada diantara mereka menjawab petugas imigrasi dengan bahasa Tarzan. Ternyata, proses yang saya lalui menjadi lama karena si pemeriksa, petugas cewek, cantik dan muda, belum begitu pengalaman memasukkan data ke komputer. Oaaaalah. Lega.

Dari Minneapolis saya melanjutkan perjalanan menuju Washington DC. Sebelum menuju pintu penerbangan berikutnya tas dan barang bawaan saya melewati pemeriksaan X-ray yang ketat.
”Anda dari mana?”
”Indonesia.” Jawab saya mantap, bangga dengan Tanah Leluhur.
”Anda membawa ayam?”
”Tidak.”
“Tanaman atau binatang?”
“Tidak ada.”
”Makanan?”
”Iya, mie instan.”
Saya membawa satu kerdus penuh berisi mie goreng rasa ayam. Mie favorit kala malam-malam begadang. Saya sengaja membawanya, jujur saja, atas nama pengiritan. Dasar orang kampung.
”Apapun makanan yang terkait dengan ayam,” Ujarnya sontak dengan wajah galak, ”tidak boleh masuk ke AS terutama dari negara-negara terkena flu burung. Seperti Indonesia, Malaysia, Cina dan lain-lain”
Saya menatap lunglai mie satu kerdus dilempar begitu saja ke tong sampah airport. Saya lemas, tidak tahu harus bagaimana, ingat saat terburu-buru beli dan mengepak bekejaran dengan waktu keberangkatan. Malang nian mie tercintai. Good bye, mie-ku sayang. Ku kubur dirimu di tanah AS. Temui aku di sorga nanti.

(Ditoreh oleh Rizqon Khamami, peserta program Visiting Leaderships-USA 2008)

Selengkapnya...



Saturday, February 17, 2007

Kedubes AS Kunjungi Ponpes Rangkang

Tawarkan Program Pertukaran Santri

PROBOLINGGO - Pondok Pesantren (Ponpes) Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Kamis (1/2) mendapat tamu istimewa. Yakni rombongan dari kedutaan besar (kedubes) dan konsulat jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) untuk studi banding sistem pendidikan pesantren. Rombongan itu adalah Mary Beth (Konjen AS), Chaterine Sweet (Kedutaan Besar AS) dan Esti Durah Santi (Konjen AS di Surabaya). Mereka diterima langsung oleh pengasuh ponpes KH Abdul Hafidz Aminuddin. Apa yang mereka tawarkan untuk Pesantren ini?



***



RADAR BROMO Minggu, 18 Feb 2007

--------------------------------------------------------------------------------

Sabtu, 03 Feb 2007
Kedubes AS Kunjungi Ponpes Rangkang


Tawarkan Program Pertukaran Santri
PROBOLINGGO - Pondok Pesantren (Ponpes) Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Kamis (1/2) mendapat tamu istimewa. Yakni rombongan dari kedutaan besar (kedubes) dan konsulat jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) untuk studi banding sistem pendidikan pesantren.

Rombongan itu adalah Mary Beth (Konjen AS), Chaterine Sweet (Kedutaan Besar AS) dan Esti Durah Santi (Konjen AS di Surabaya). Mereka diterima langsung oleh pengasuh ponpes KH Abdul Hafidz Aminuddin.

Tentu saja, kehadiran pada bule itu disambut gembira oleh para santri. "Saya tidak menyangka, kami warga Amerika disambut baik oleh para santri," ujar Chaterine, doktor Islamic Studies asal Amerika Serikat ini.

Bahkan, para santri berfoto bersama dan berdialog tentang budaya Amerika. Saat Mary Beth bertanya apa yang terpikir tentang Amerika, para santri menjawab filmnya bagus-bagus. Dalam kesempatan itu, Mary Beth juga diminta menyanyi lagu Titanic.

"Islam tidak harus kaku dan antiseni," kata Rizqon Khamami, pengelola pesantren menanggapi permintaan para santri itu. Bahkan, kata alumni program master Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi ini, ponpesnya sedang mengembangkan Islam yang moderat.

Mary Beth dan Chaterine Sweet yang mengenakan kerudung pemberian Hj Badiah Hafidz - penasehat ponpes ini, terlihat makin akrab dengan para santri. Mereka berkerumun dan antusias mendengarkan cerita tentang pengenalan Bahasa Inggris di pesantren.

Dalan kunjungan tersebut, Mary Beth dan Chaterine menawarkan sejumlah program untuk pondok pesantren. Antara lain, program pertukaran santri ke Amerika. Hal itu diperuntukkan bagi santri yang menguasai Bahasa Inggris dan memiliki nilai tinggi dengan biaya biaya ditanggung pemerintah Amerika Serikat.

Menurut Mary Beth, "Bagi santri yang bisa Bahasa Inggris, kami punya banyak program ke Amerika, belajar tentang budaya, seminar pendidikan dan kunjungan ke museum sejarah di AS selama beberapa minggu," katanya.

Bahkan, lanjut Mary Beth, guru-guru pondok pesantren dipersilakan mengikuti kunjungan dan belajar di Amerika serikat. Seperti yang pernah dilakukan salah seorang guru Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Najlah Naqiyah, yang pernah mengikuti program kepemimpinan dan komunitas di Amerika serikat dengan biaya dubes AS.

Program yang kedua, kata Mary Beth, AS akan menyiapkan guru untuk mengajar Bahasa Inggris di pesantren. "Guru tersebut akan ditempatkan di pesantren," katanya.

Mendapat tawaran tersebut, pengasuh ponpes KH Abdul Hafidz Aminuddin menyambut dengan baik. "Bahasa Inggris bisa digunakan untuk hidup di era globalisasi," ujarnya.

Karena, selama ini, pesantren dikenal dengan basis pengembangan ilmu agama yang bersumber dari Bahasa Arab. "Dengan mengenal Bahasa Inggris, diharapkan santri bisa membaca literatur berbahasa Inggris tentang Islamic Studies, sain, dan perpaduan Islam dan abad modern." lanjutnya. (syt)

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_radar&id=151813&c=40

Selengkapnya...



Tuesday, January 24, 2006

Cerita Kenangan Temus 2006

Temus (tenaga musim) haji 2006 bagi saya menjadi cerita menarik. Bersama-sama beberapa petugas lainnya di Sub Daker 5 Makkah, kami menghabiskan waktu bersama selama dua bulan. Beberapa pengalaman teman-teman petugas saya rekam dalam cerita berikut ini....


***


Cerita Kenangan Temus 2006

Oleh Rizqon Khamami


Rentang waktu dalam kebersamaan senantiasa terasa sangat pendek. Meski tidak panjang, kenangan indah itu terlalu sayang untuk dibuang. Pergulatan sedemikian singkat bukanlah alasan untuk tidak selalu kita kenang. Bahkan, kerikil-kerikil kecil dalam kebersamaan adalah penyerta paling indah.

Pembuatan album Biodata PPHI 2006 M./1426 H., Sub Daker 5 Makkah adalah sebuah upaya untuk mengenang kebersamaan itu. “Jangan lupakan bahwa kita pernah bersama”, tulis Dr. Monthe, dokter berhati lembut, dalam album Biodata. Ada sejuta cerita indah yang tak mudah lekang oleh waktu. “Kenangan yang tak mudah terlupakan bagi saya,” ungkap Kasub Daker 5, Makkah, Muharam Marzuki sambil tertawa terkekeh-kekeh, “ketika pulang salat dari Masjid Haram menuju kantor Sub Daker 5 Makkah pada hari pertama tiba di Makkah, saya dan Pak Hegus lupa jalan. Kami naik taksi untuk jarak yang sangat dekat.” Hegus mengiyakan. Sesekali Hegus berseloroh bahwa dirinya sulit tidur setiap malam. Keluhannya tiap pagi, kepala pusing kurang tidur. Bukan karena suara mobil, tapi karena dengkur Kasub-Daker. Dengkur kelelahan. "Itu bukan karena kurang tidur," elak Muharam, "tapi karena rindu berat sama istri, apalagi tiap hari menyantap daging kambing mandi." (Daging kambing mandi: jenis makanan khas Arab yang berlemak dan mengandung daya bangkit seksual tinggi.)

Hal yang sama juga menimpa Djumhaedin, pegawai Ditjen Baga Islam, Depag. Untungnya, tak berapa lama sang istri menyusul ke Makkah, hajian. “Lega”, desah Djumhaedin dengan roman memerah sambil menyerahkan kunci barokah ke Marjudin, Temus Mahasiswa Al-Azhar, Mesir. “Bang Djum, berapa ronde permainan?”, tanya Dasimin, alias Pak Nano dengan nada iri. Zaini, anak Indonesia kelahiran Makkah, bengong. Ia melirik Jajang, sang Polisi ganteng, menyindir, “Pak Jajang harus memperhatikan kepentingan teman-teman Temus yang masih bujang, berikan kesempatan bagi mereka untuk mencari calon istri. Jangan embat sendiri.” Andi Hasnawati, dokter cantik kloter 4/BPN, menjadi incaran Zaini. Saat kepulangan ke Tanah Air, orang yang diincarnya sedang berbincang santai dengan Jajang. Zaini cemburu. Padahal, sebagai petugas pengamanan, Jajang harus dekat dengan jamaah. "Loe aja yang kagak berani." Bantah Jajang.

Pada hari pertama kepulangan dr. Atun, petugas sebuah kloter JKS, ke Tanah Air, mendadak badan Marjudin lemas. Pada hari kedua, bujang klimis dari Banjar ini hampir tidak bisa jalan kaki, asam urat kambuh. Betulkah karena asam urat? Bukan, jawab Azis Sholeh, dokter kalem dari Demak. Lalu apa? Itu karena Agustin, seorang jamaah dari Palembang sudah meninggalkan Makkah menuju Madinah, timpal Gozali, mahasiswa imut dari Sudan. Murtadho, kiai muda asal Demak, harus rela mendorong Marjudin kemana-mana dengan kursi roda.

Sebagai pengemudi, Ahmad Bakar, Temus dari Jeddah, suatu saat diludahi seorang jamaah. Ia dan seorang anggota tim medis Sub Daker 5, Ade Irwan, mengantar jamaah sakit yang mengamuk sepanjang jalan menuju BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia) Daker Makkah karena stres. Si jamaah meludah tepat pada mulut Ahmad Bakar. Ludah masuk, tertelan. “Rasanya seperti Albaik, bukan?” gurau Junediyono, Sansur brewok asal Jogja. “Kayaknya, sih, seperti madu.” Timpal Supardi sambil terkekeh-kekeh. Ahmad Bakar nyengir.

Saat tengah malam beberapa petugas Temus sedang begadang di kantor. Tiba-tiba terdengar suara teriakan. Mereka berhamburan. “Aku dipegangin makhluk hitam, sampai susah bernafas. Tolong bacain doa pengusir makhluk halus.” Rengek Rustika, petugas perawat di Sub Daker 5, dengan wajah pucat pasi. Al Farizi, dokter ganteng dari Depkes, membaca doa pengusir setan. Sukses. Dan Mardiati, teman sekamar Rustika, terbengong-bengong.

Muhamad Yusuf, petugas dari Sulawesi, kapok tidur di lantai 12 gedung nomor 52. Kala tidur, ia gelisah. Menurutnya, datang seseorang berbadan besar dan berwarna hitam, berdiri di samping. Ia merinding.
“Pak Nano, ayo turun ke bawah saja.” Ucapnya setengah berbisik ke Dasimin yang turut tidur di kamar tersebut.
“Kenapa tadi tiba-tiba minta turun?” Tanya Dasimin sesampai di hall.
“Aku melihat makhluk hitam, apakah Pak Nano juga melihat?”.
“Iya,” jawab Dasimin. "Tapi, tadi saya kira, itu si Zaini.
“Bukan,” sergah Yusuf. “Itu hantu”, sambungnya sambil memegangi tengkuknya yang masih merinding.

Semua cerita ini pada awalnya mengalir begitu saja. Menggelikan saat kembali diceritakan. Berkesan. Kebersamaan selama tugas, sebuah pengalaman berharga. Kekeluargaan terbangun. Kekompakan ini harus dijaga, dan jangan dirusak, pesan Sutisno. Selain itu, enaknya jadi petugas haji, ungkap Sanusi, aktivis PWNU Jakarta: Carilah kesempatan untuk beramal yang terbaik.

Akhirnya, kita berharap, semoga kekeluargaan ini terus terjaga, serta tugas kita selama musim haji tahun 2006 M / 1426 H menjadi amal saleh. Semoga haji kita menjadi haji Mabrur. Amin. []

Makkah, 24 Januari 2006.


******

============================================
PETUGAS HAJI INDONESIA
SUB DAKER 5 MAKKAH
TAHUN 2006 M / 1426 H.
Rumah no. 52 Jarwal Taysir. Telp: 0555998217 & 0555997149
=============================================

01. H. Muharam Marzuki, Ph.D. : Kepala Sub Daker 5
02. Drs. H. Hegus Soeharno, M.Si. : Wakasub Bidang Umum
03. dr. H.T. Thafsin Al Farizi : Wakasub Bidang Kesehatan
04. H. Sanusi : Wakasub Bidang Ibadah
05. H. Jajang Hasan Basri, S.Ag. : Pengamanan/PAM
06. H. U. Djumhaedin : Bidang Pelayanan Umum
07. H. Supardi A.T. : Bidang Pelayanan Umum
08. H. Eno Sutisno, M.Ag. : Bid Pelayanan Ibadah
09. Dr. H. Monthe Krishman, M. Kes. : Dokter Sub Daker 5
10. dr. H. Azis Soleh : Dokter/Aspiran Sub Daker 5
11. Dra. Hj. Mardiati, Apt. : Apoteker Sub Daker 5
12. DR. Hj. Rustika, SKM, M,Sc. : Perawat Sub Daker 5
13. H. Ade Irwan. T, AMK an : Perawat Sub Daker 5
14. H. Junediyono, SKM : Sansur Sub Daker 5
15. H. M. Yusuf : Pengemudi
16. H. Dasimin : Pengemudi
17. H. Gozali J. Sudirjo : Temus Mahasiswa Sudan
18. H. Marjudin Haji Ayan : Temus Mahasiswa Mesir
19. KH Murtadho Ridwan : Temus Mahasiswa Malaysia
20. H. Rizqon Khamami : Temus Mahasiswa India
21. H. Zaini Abd. Hanan : Temus dari Arab Saudi
22. H. Ahmad Bakar Salin : Temus dari Arab Saudi
23. H. Bahri Marjan : Temus dari Arab Saudi

******

Selengkapnya...