Tuesday, November 02, 2004

JIL, Amerika, dan Saudi

Dalam buku "The Crisis of Islam", Bernard Lewis berbicara panjang lebar seputar kenapa umat Islam gampang menyalahkan Amerika. Buku ini adalah kelanjutan tulisan Lewis sebelumnya yang cukup menggegerkan dunia, "What went wrong". Dimana letak daya tarik buku tersebut sampai menjadi best-seller?

***

Dear kawan-kawan,

Dalam buku "The Crisis of Islam", Bernard Lewis berbicara panjang lebar seputar kenapa umat Islam gampang menyalahkan Amerika. Buku ini adalah kelanjutan tulisan Lewis sebelumnya yang menggegerkan dunia, "What went wrong".

Dimana letak daya tarik buku "What Went Wrong" tersebut sampai menjadi best-seller? Karena Lewis bercerita satu hal yang langsung menusuk ke ulu hati: umat Islam telah mundur dan terbelakang. Dalam buku "What Went Wrong" ini Lewis bercerita tentang sikap resistensi umat Islam pada kemajuan, dan kegagalan umat Islam untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa Eropa. Padahal dua atau tiga ratus tahun sebelumnya, umat Islam jaya. Intinya, sejak abad 19-an, oleh sebagian politisi, misalnya Kamal Attaturk, para pemikir, seperti Ali Abdurraziq, dan lain-lain, kemunduran Umat Islam ini dicoba untuk dihilangkan. Berhasilkah? Kagak. Dan buku "What Went Wrong" tersebut bercerita seputar itu.

Lebih tragisnya, kemunduran umat Islam itu disikapi oleh umat Islam sendiri, tidak hanya dengan keengganan untuk bersedia maju dan membangun diri dengan membuka diskursus dan dekonstruksi pemikiran dan kepercayaan yang ada dalam diri mereka. Tapi alih-alih malah menyalahkan Amerika. Stagnasi, kemiskinan, kebobrokan, dan kemunduran, bukan dicari titik sebabnya oleh umat Islam sendiri, tapi mencoba berkilah bahwa semua itu adalah dikarenakan policy AS di wilayah global. Lewis dalam buku berikutnya, "The Crisis of Islam", bercerita soal ini. Lihat saja, ujar Lewis, kemiskinan di dunia Islam dikatakan karena dunia Islam dijadikan kambing perah untuk produk-produk AS. Kekalutan politik, kata umat Islam, karena campur tangan AS, dan seterusnya. Betulkah kata Lewis tersebut? Saya coba mencari jawabannya: embuh, gak ruh aku.

Sepertinya, sikap suka menyalahkan orang tersebut karena faktor ketidak-mampuan dan inferioritas umat Islam sendiri. Tapi singkat kata, cara umat Islam untuk maju adalah "meniru Barat" -- seperti ajakan Ulil, yang mengikuti ajakan Ali Abdurraziq dan kawan-kawannya seratus tahun yg lalu. Islam Liberal? Why not?

Satu lagi, tambahan, ketika semua gerakan Islam dan organisasi Islam non-NU banyak bergerak didanai oleh Saudi, kenapa anak-anak NU tidak boleh bergerak untuk menandingi gerakan mereka meskipun itu harus mengambil dana dari Amerika? (Emangnya untuk bergerak, anak-anak NU harus memakai dana dari mana? Saudi? Ingat, kemunculan NU karena untuk menandingi gerakan Wahabi.)
Apakah hanya karena didanai oleh Saudi lantas gerakan non-NU itu "bersih"?
Dan gerakan pemikiran anak-anak NU "sesat"?
Come on !!!!!!!

http://groups.yahoo.com/group/Kebangkitan_Bangsa/message/3018/

6 comments:

Afandri Adya, SCALA Institute said...

Inilah realita kita sekarang bung, sangat menyedihkan. Umat Muslim hanya bisa menyalahkan AS dan kapitalis sebagai biang kerok kemunduran umat. Umat Muslim tidak pernah merenungi bahwa kemunduran sesuatu umat pastilah merupakan kesalahan mereka sendiri, dan bukan orang lain. Tidakkah Allah telah berfirman dalam kitab-Nya bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum pabila kaum tersebut tidak berusaha mengubahnya sendiri. Kadang inilah yang dilupakan oleh mayoritas umat Muslim.
Kalau kita simak sejarah umat Nasrani, pada tahun 1000-1100, umat Nasrani hanya bisa mengeluh atas kemunduran dan kemiskinan yang mendera mereka, dan mereka selalu menyalahkan orang-orang Muslim (Abassiyah) sebagai biang keroknya, tanpa pernah mau mengkritisi dirinya sendiri. Dan sekarang, inilah yang sedang terjadi pada umat Muslim. Hanya bisa menyalahkan dan menyalahkan, tanpa mau berusaha dengan keras. Coba tengok China yang mayoritas Konfusian dan Atheis, dibawah tekanan AS-pun mereka bisa melesat menjadi kekuatan ekonomi dunia. Kerja keras dan kerja cerdas, mungkin itu solusinya.

Untuk JIL yang menerima dana dari AS mungkin tidak ada salahnya. Tetapi yang agak mengusik ialah JIL berusaha untuk mengobrak-abrik tatanan dan tata cara ibadah yang telah dirumuskan oleh Rasulullah SAW. Dalam siratan hadist-nya Rasulullah telah berujar bahwa, untuk urusan hablu min Allah janganlah kita utak-atik lagi, tetapi untuk tataran muamalah (hablu min annas) bolehlah kita tafsirkan lagi sesuai dengan perkembangan zaman, dan inilah kontrofersi yang dialami kawan-kawan JIL. Kalo JIL hanya berbicara dan menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan hablu min annas, saya rasa pasti JIL banyak pendukungnya. Semoga kawan-kawan JIL mau mengkoreksi kembali misi-misi pergerakannya.

maul said...

tulisannya bagus...
om,ada ebookny????share dong...

thanks

Anonymous said...

itulah yg dikehendaki Amerika, merusak Islam dengan tangan-tangan Islam agar antar umat Islam cakar-cakaran, jik tidak demikian mana mau Amerika mendanai...

muhammad said...

itulah yg dikehendaki Amerika, merusak Islam dengan tangan-tangan Islam agar antar umat Islam cakar-cakaran, jik tidak demikian mana mau Amerika mendanai...

Anonymous said...

omfg dy http://www.muzika.cc/files/dl.php?id3r8s8=Picture00.JPG

Anonymous said...

Bagus ...Sekolah tentang Islam ke Amerika, Bagus....dana dari Amerika...apa salahnya ? Tapi janganlah mentang2 sudah sangat pintar dengan gelar akademik yang tinggi, lantas Al-Quran dan Sunnah di obrak abrik..Jangan anda dukung pula JIL itu. Sehebat apapun otak kalian... yakinlah tidak akan mampu menyaingi kalamullah yang di obrak abrik JIL itu... JIL bertobatlah sebelum Allah Murka !!!racrospo