Tuesday, August 09, 2005

Kebangkitan Neo-Wahabi

Sejak bergulir Reformasi dapat kita tandai dengan adanya kebangkitan berbagai aliran gerakan. Tidak terkecuali Islam. Pada umumnya, gerakan-gerakan baru Islam ini mengusung faham Salafi. Tercatat sejumlah gerakan dalam aliran ini: Fron Pembela Islam (FPI), Lasykar Jihad (LJ), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Lasykar Ahlussunah wal Jamaah, dan lain-lain. Beberapa di antaranya sudah membubarkan diri. Bahkan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masuk kategori gerakan ini. Bagaimana pengelompokan ini didasarkan?




***

Kebangkitan Neo-Wahabi

Oleh Rizqon Khamami

Duta Masyarakat, 2005.
Sejak bergulir Reformasi dapat kita tandai dengan adanya kebangkitan berbagai aliran gerakan. Tidak terkecuali Islam. Pada umumnya, gerakan-gerakan baru Islam ini mengusung faham Salafi. Tercatat sejumlah gerakan dalam aliran ini: Fron Pembela Islam (FPI), Lasykar Jihad (LJ), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Lasykar Ahlussunah wal Jamaah, dan lain-lain. Beberapa di antaranya sudah membubarkan diri. Bahkan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masuk kategori gerakan ini.

Bagaimana pengelompokan ini didasarkan? Dalam tradisi Islam, aliran Salafi mengacu pada pandangan madzhab salaf. Karakteristik menonjol aliran ini, di antaranya, seruan kembali ke Al Qur’an dan Sunnah Nabi dengan kecenderungan penafsiran secara tekstual dengan mengabaikan konteks, dan semangat meniru generasi salaf al-shalih yang dielu-elukan sebagai masa paling ideal.

Ibnu Taymiah dikenal sebagai penggagas awal teologi Salafi. Istilah Salafi, bisa dikatakan, muncul sejak Ibnu Taymiah ini. Kata “salafi” merujuk ke generasi salaf al-shalih. Sepeninggal Ibnu Taymiah, teologi Salafi makin berkembang. Beberapa kurun selanjutnya, di tanah Najd, Semenanjung Arabia, Muhammad bin Abdul Wahab mengembangkan teologi Salafi dengan lebih spesifik dan makin tajam. Pengembangan teologi oleh Muhammad bin Abdul Wahab dikenal dengan aliran Wahabi. Bagi pengikut Wahabi, istilah ini terdengar kurang baik. Mereka lebih suka disebut pengikut Salafisme.

Pada awal abad 20, pemikiran Ibnu Taymiah dan Muhammad bin Abdul Wahab, sedikit banyak, menjadi pemantik pemikiran Muhammad Abduh. Berangkat dari perpaduan ajaran Ibnu Taymiah dan pencarian Muhammad Abduh, gerakan salafi lantas dikembangkan dengan lebih tertata melalui gerakan Ikhwanul Muslimin. Tokoh paling penting pemberi warna ideologi gerakan ini adalah Sayyid Qutub. Di kalangan islamisis (pakar kajian keislaman), pemikiran Sayyid Qutub disebut dengan istilah Salafi Modern.

Di Indonesia, pemikiran-pemikiran Salafi dibawa oleh KH Ahmad Dahlan. Muhammadiyah berdiri. Organisasi ini menyebut dirinya sebagai persyarikatan kaum Puritan Islam. Untuk pertama kali, dalam disertasi doktornya, Deliar Noer menyematkan Muhammadiyah sebagai gerakan Modernis. Sebuah istilah, yang saya duga, untuk menstigma organisasi sejawatnya, Nahdlatul Ulama (NU) agar identik dengan gerakan kampungan.

Hal menarik dari perjalanan Muhammadiyah, selama beberapa dasawarsa awal, organisasi ini lebih cenderung mengadopsi Salafisme Wahabi. Perubahan penting terjadi menjelang tahun 80-an beberapa saat setelah terjadi Revolusi oleh para mullah Syiah di Iran. Keberhasilan Revolusi Iran tahun 1979 menciptakan kegairahan baru dunia Islam. Dimana-mana orang menganggap bahwa Revousi ini adalah awal dari kebangkitan dunia Islam yang selama beberapa abad mengalami kemunduran. Muslim Indonesia tidak terkecuali. Meski Revolusi itu terjadi di Iran, tetapi Ikhwanul Muslimin, yang bersumber di Mesir, mendapat berkah. Ikhwanul Muslimin mendadak populer. Di Indonesia, terjemahan buku-buku Sayyid Qutub laris. Apa sebab? Bagi kalangan Muslim Indonesia, pemikiran Sayyid Qutub lebih bisa diterima, karena sama-sama Sunni. Selain itu, Sayyid Qutub mampu meramu pemikirannya dengan amat tertata. Bersamaan dengan tren ini, Muhammadiyah mengadopsi pemikiran Salafi Modern. Sebuah pemikiran yang lebih moderat dibanding Salafi Wahabi. Apa alasannya? Wahabi gampang menyalahkan dan membid’ahkan kaum Muslim yang tidak sepaham. Saya kurang sepakat dengan pendapat Karen Armstrong yang menyatakan bahwa Qutubisme (merujuk ke pemikiran Sayyid Qutub) lebih radikal dibanding Wahabi, seperti tulisannya di The Guardian, 11 Juli 2005. Yang lebih tepat, sebaliknya.

Pilihan Muhammadiyah ini tidak terlepas dari peran anak-anak muda kala itu. Kemunculan tokoh seperti Amien Rais, Kuntowijoyo, Syafi’I Maarif, Affan Ghafar, Syafiq Mughni, M Amin Abdulla, Abdul Munir Mulkhan, Moeslim Abdurrahman -–untuk menyebut beberapa nama saja-- adalah penanda kebangkitan Muhammadiyan baru. Di tangan mereka, Muhammadiyah menjadi organsisasi Islam moderat dan makin disegani. Diperkuat lagi dengan akomodasi politik Suharto dalam perlakuannya terhadap organisasi-organisasi Islam, dengan memanjakan organisasi Islam Puritan ini. Wajah keras Wahabisme di tangan mereka perlahan luntur. Apa buktinya? Perang TBC (Taqlid, Bid’ah & Churafat) yang selama bertahun-tahun menjadi agenda utama, perlahan-lahan mereda. Bahkan beberapa tahun lalu, sebagian warga Muhammadiyah mulai mempertanyakan keefektivan cara dakwah “keras” ini. Mereka mengusulkan dakwah kultural, yang tidak lagi dengan gampang menyebut orang lain bid’ah hanya karena berdakwah dengan pendekatan budaya setempat. Di tangan tokoh-tokoh moderat ini pemikiran Ikhwanul Muslimin tidak serta merta dijiplak utuh. Mereka membuang jauh-jauh ide pan-Islamisme, mengambil hanya sisi pemikiran gerakan sosialnya. Suatu saat, Amien Rais mengatakan: Tidak ada negara Islam.

Apakah usaha mereka berhasil? Selama beberapa dekade, iya. Namun, di tataran massa Muhammadiyah, kegandrungan pada pemikiran Sayyid Qutub tidak hanya terbatas pada pemikiran sosialnya, tetapi juga pada politisnya. Pada saat suara-suara warga ini tidak ditampung oleh elit-elit Muhammadiyah, mereka lebih memilih bermain di luar area. Gerakan usroh, tarbiyah, halaqah, dan sejenisnya, yang menjamur di lingkungan kampus dan masjid, merupakan bentuk luapan kegelisahan anak-anak muda dan suara protes tidak langsung. PKS berkembang dari gerakan protes ini.

Di samping itu, kepulangan para veteran perang Afghanistan pasca kejatuhan Uni Soviet memberi warna baru. Persentuhan langsung dengan para pejuang dari negara lain selama perang pembebasan Afghanistan makin memperteguh Wahabisme mereka. Pengalaman tempur di medan perang menambah keyakinan bahwa otot dan senjata menjadi identitas baru. Sebuah identitas kekerasan.

Akan tetapi, sekembali mereka di Tanah Air, ide Wahabisme yang mereka bawa tidak diberi tempat oleh elit Muhammadiyah kala itu. Mereka lantas mendirikan atau berkumpul dalam organisasi-organisasi baru, seperti Lasykar Jihad, Fron Pembela Islam, Majelis Mujahidin Indonesia dan Hizbut Tahrir. Organisasi ini adalah diantara organsisasi yang menjadi pilihan warga Muhammadiyah yang menganggap organisasi ini terlalu lembek dalam menyuarakan kepentingan baru mereka. Bahkan, dalam kaitan dengan Syariat Islam, Muhammadiyah pernah dituduh sebagai banci oleh warganya yang radikal. Dulu, warga Muhammadiyah garis kanan, seperti Ali Imran, Amrozi, Ja’far Umar Thalib dan Abu Bakar Baasyir, tidak mendapat tempat di Muhammadiyah. (Ahmad Najib Burhani, Menebak Masa Depan Liberalisme di Muhammadiyah, Islam Progresif, message no. 1519). Mereka inilah Neo-Wahabi itu, gerakan Wahabi baru yang dipadu dengan kemampuan tempur yang dibawanya ke tengah-tengah masyarakat.

Kini, sejak Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, 3-8 Juli 2005, para veteran itu sudah kembali menguasai Muhammadiyah. Tokoh-tokoh moderat tersingkir. MUI pun sepertinya sudah mulai direngkuhnya. Apa indikasinya? Fatwa-fatwa keluaran MUI baru-baru ini terlihat memiliki kesan terwarnai oleh tangan-tangan Neo-Wahabi tersebut. Mereka mengagungkan teks secara berlebihan dengan mengabaikan konteks Mereka mudah membid’ahkan dan mensesatkan segala bentuk perbedaan. Gampang menyerbu bukan kelompok sepaham, tanpa toleransi. Gampang mencibir kalangan Islam yang bukan pengikut mati generasi salaf al-shalih. Kata-kata “bid’ah”, “kafir”, “musuh Islam”, “penghancur Islam dari dalam”, dan seterusnya, mudah menjadi ungkapan harian.

Dengan kebangkitan Neo-Wahabi ini, kita bisa menebak arah perjalanan Islam Indonesia ke depan. Wajah Islam Indonesia mulai memunculkan ketidak-ramahan. Akankah semua ini dibiarkan?

Sumber: Duta Masyarakat

56 comments:

Anonymous said...

http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/2726

Assalamu'alaikum wrwb.

paparan tulisan calon master/doktor rizqon khamami ini
tak ada yang baru, baik dari subtansi, maupun
metodologi memahami teks sosial.

saya malah menilai bung rizqon tak menguasai masalah.
referenesinya cuma buku-buku "pinggiran" dari kalangan
yang apriori terhadap kebangkitan Islam.

seharusnya, kalau memang dia itu akademis-ilmiyah
seharusnya mengawali dan menganalisa sesuatu dengan
dasar a posteori ( kaidah keilmuan). Apa yang
diungakpan bung rizqan tak lebih hanya sekadar
pengetahuan/atau dalam dunia jurnalistiknya sebagai
hard news.

Dan dia juga menunjukan sikap dan pikiran tidak
simpati dan empati terhadap shahwah islamiyah.....
masak orang Islam yang bawa senjata dituduh pembawa
identitas kekerasan? lalu bagaimana dengan imperialis
israel, AS dan sekutunya...? apa mereka pembela HAM,
keadilan?......memang seorang Muslim haram membawa
senjata? Kenapa seorang rizqon bisa berpikir yang tak
membuahkan rizki.....

agar tidak ngawur dan kabur, bolehlah bung rizqon
seklai-kali shilaturahim ke PKS, HTI, MMI, FPI atau
jama'ah lainnya yang mereka tuding neo-wahabi.

Wassalam wrw wb.

Anonymous said...

http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/2728

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Saya sependapat dengan mas Saifuddin berkenaan dengan
tulisan Rizqon. Bung Rizqon telah salah melakukan pemetaan
gerakan Islam sehingga kemudian melakukan generalisasi
yang salah kaprah. Seharusnya sebagai calon Doktor bung
rizqon tidak boleh gegabah dalam membuat generalisasi.
Apakah bisa digeneralisasi atau tidak mesti harus dipeta.
Untuk memeta mesti harus diteliti dulu pemikiran tokohnya,
buku-buku karya standarnya musti harus dibaca.
Amat disayangkan model-model generalisasi ala Rizqan ini
sering dijumpai, yang disayangkan justru pelakunya adalah
orang-orang yang ada di komunitas ilmuwan.
Kayaknya ini pulalah yang dilakukan Goldziher dan Schacht
ketika meneliti hadits.

Wassalaam

Ainul Y

Anonymous said...

Saya pikir seorang akademisi seyogyanya menelaah dengan dalam dan komprehensif suatu persoalan sebelum membuat kesimpulan.

Alangkah lebih baiknya kita saling bersilaturahmi dengan setiap gerakan atau kelompok Islam. Bukannkah setiap orang yang bersyahadat adalah bersaudara?

Bukankah kewajiban muslim yang satu dengan yang lain adalah beramar-ma'ruf?

Bagaimana mungkin kita bisa beramar-ma'ruf dengan baik apabila bersilaturahmi dan menyelami "kehidupan" saudaranya saja enggan.

Mudah-mudahan Allah swt memudahkan langkah Anda untuk mencari kebenaran. Amiin.

Anonymous said...

Assalamu'alaikum wrwb.

1. Setahu saya, paham Wahabi itu tidak terlepas dari paham yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahabdan Ibnu Taymiah. Nah, saya tidak paham bagaimana bisa Hizbut Tahrir bisa dimasukkan ke dalam Neo-Wahabi ? Setahu saya, Hizbut Tahrir tidak sedikit pun merujuk kepada Muhammad bin Abdul Wahab maupun Ibnu Taimiyah.

2. Kalaulah penulis ini tidak setuju dengan gerakan Neo-Wahabi, apa yang hendak ditawarkan untuk memperbaikinya ?

Wassalam wrw wb.

tumpah said...

Assalamualaikum,
maaf, tulisan anda kosong dan anda sama sekali tidak menguasai materi. kok bisa2nya FPI, HT, Laskar Jihad dimasukkan pada kelompok salafi? padahal kelompok2 tersebut amat jauh menyimpang manhajnya dari manhaj salaf. tulisan anda serupa (tapi tak sama) dengan tulisan para nahdiyyin lainnya yang sangat anti wahabi, salafi (ato apalah namanya), kenapa tidak mengkaji cara beragamanya kaum nahdiyyin yang amat jauh penyimpangannya dari Al-Qur'an dan Sunnah ?

estananto said...

Assalaamualaikum,

Mbah Rizqon, analisa anda tentang perubahan orientasi Muhammadiyah menarik sekali. Ini menandakan obyektivitas generasi muda NU terhadap "rival" di Muhammadiyah telah baik dan menjadi modal awal bagi munculnya kesadaran kolektif di mana kekhasan Islam Indonesia khususnya dan Islam Asia Tenggara umumnya harus tetap dijaga.
Kesadaran ini berangkat dari kenyataan bahwa Muslim di Asia Tenggara dan Asia Selatan kurang representatif dalam khazanah keilmuan Islam internasional.
Ditunggu mbah, analisa lanjutan tentang kasus Imrana Bibi, juga cerita tentang syariah di India.

Anonymous said...

hehe, mbah2 kapan walimahnya :)

Dennies Rossy Al Bumulo said...

Assalamu'alaikum Wr Wb

Wah mbah Rizqon ini nampaknya gak ngerti apa itu Salaf, apa itu Wahabi, salah kaprah nich org
gak ngerti kali ?>?


Salaf tdk pernah dan tidak akan berpartai, tdk seperti PKS atau apalah namanya (Ikhwanul Muslimin) karena mereka tau akan hukumnya.



Dennies Rossy, M 17 JKT

Muhammad Itsnaini said...

iya nih .. mbacanya kering.. asal ngikuti iue saja .. mungkin kurang gaul sama FPI, HTI, dll ..

Anonymous said...

Masya Allah

Artikel Anda telah dikomentari oleh orang-orang, lucu-nya mereka Wahabi yg reaktif semua. Ciri mereka: Membantah komentar dengan mengatakan "tidak tau masalah","kurang referensi","tidak menguasai masalah","ngawur" dsb. Itulah ciri-ciri salafy dengan kejumudan dan ke-kaku-an nya.
Salafi memang tukang mencela, bukan hanya kepada NU dsj, bahkan PKS,HT, FPI dan sejenisnya mereka cela sebagai gerakan bid`ah dan salafi abangan. Hanya mereka yang benar sendirian di dunia ini. astagfirullah
wassalam,

Afandri Adya, SCALA Institute said...

Assalamualaikum

Bung Rizqon, saya kira anda terlalu gegabah dalam meng-kopi artikel yang tidak valid data-datanya. Saya sangat sedih, ini akan menjadi bumerang bagi anda sendiri. Keberislaman anda tidak akan berjalan dengan baik, jika di hati anda ada kebencian terhadap organisasi atau pergerakan lain. Biarlah orang-orang membenci kita, tetapi janganlah kita membenci mereka, justru disitulah letak kemuliaan kita.

Sedikit menanggapi artikel yang bung Rizqon kopi.
1. Ali Imron dan Amrozi bukan anggota Muhammadiyah, justru mereka alumni2 pesantren yang salah kaprah dalam menafsirkan Quran dan Hadist.
2. PKS,HTI,MMI dan FPI jelas-jelas berbeda. Coba deh bung, ikutin kajian-kajian mereka, jelas sekali perbedaannya. Mungkin sekilas nampak sama karena dalam berdakwah mereka agak keras dan leterlek, tapi misinya jelas berbeda.
3. Muhammadiyah tidak serta-merta meng-kopi gerakan yang dikembangkan Wahabi. Kalo bung baca sejarah pergerakan Islam, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asyari sama-sama belajar di Mekkah pada guru yang sama yaitu Ahmad Khatib. Pancaran semangat yang ditularkan oleh Khatib dan ulama-ulama Mekkah kepada murid-muridnya, justru ide-ide yang mencerahkan, seperti membersihkan TBC dalam kehidupan umat. Coba anda renungkan, bagaimana jika sifat-sifat TBC menjangkiti umat Islam, tentu umat ini tidak akan pernah maju. Dan ini yang dikerjakan oleh Muhammad 14 abad silam, membersihkan TBC terlebih dahulu, baru mengisinya dengan iman dan akhlak. Jadi sebenarnya spirit yang dikembangkan oleh Muhammadiyah dan NU sama, yaitu mengembangkan pergerakan yang reformis modernis, bersih dari tahayul, khurafat dan bid'ah. Ketika sampai pada konstitutennya-lah spirit yang mereka bawa diartikan secara berbeda-beda. Orang-orang Muhammadiyah yang pedagang mampu mengejawantahkan ajaran-ajaran ulama Mekkah dengan baik, sedangkan NU yang mayoritas agraris justru masih bertahan untuk tetap mengembangkan cara-cara lama, cara-cara tradisional yang merupakan sinkretisme antara budaya Islam dan Hindu. Kalo kita baca kisah hidup Wali Songo, dalam dakwahnya mereka selalu mencampur-adukkan ajaran Islam dengan budaya Jawa. Dan ini tidak bisa disalahkan, cara-cara mereka seperti itu merupakan cara yang terbaik pada saat itu. Hal ini bertujuan agar masyarakat Jawa mau menerima ajaran yang baru ini dengan baik serta untuk mempermudah membangun hubungan dengan raja-raja Jawa yang Hindu.

Jadi sebenarnya proses pergerakan dan perubahan ini merupakan suatu metamorfosa dari keberpikiran umat. Jika 50 tahun lalu kita bisa menyaksikan pergerakan-pergerakan elit Muslim di NU, Muhammadiyah, Persis dan Al Irsyad, sekarang kita bisa menyaksikan ada Gerakan Tarbiyah, MMI, FPI, HTI, Laskar Jihad, JIL, JIMM dan masih banyak lagi. Disitu letaknya keindahan Islam saling berbagi, saling mengisi dan saling mengingatkan. Jika ada suatu pergerakan yang disinyalir sesat tidak serta merta kita langsung mengkafirkannya, tapi cobalah dengan perbuatan-perbuatan santun nan elegan. Semoga kita bisa bersatu dan terpecah belahnya kita itulah, justru harapan dari musuh-musuh Islam sejati, yaitu Syaitan laknatullah.

Wassalam

Anonymous said...

bekerjasama dalam hal yang tujuannya sama dan bertoleransi dalam hal yang berbeda, agar Islam tampil dan tampak sebagai rahmatan lil alamin
wassalam

Anonymous said...

Mari kita sama-sama belajar memahami islam itu secara kaffah (sempurna). Saya yakin seandainya beberapa pendapat ini bertemu pada satu titik yang paling mendasar, maka kita akan saling menyadari betapa bodohnya kita ini... yang merasa lebih pintar juga akan merasa seperti itu... (ingat Syaitan selalu membisikkan di hati kita sifat-sifat yang tidak terpuji, seperti ujub, takabbur, merasa benar sendiri, dll...)


Berhentilah saling mencela dan merasa benar sendiri. Mari kita sadari bahwa kebenaran itu hanya milik Allah. Mari kita gali kembali maksud Allah dalam ayat: "Udkhuluu fis silmi kaaffah", kalu melihat ketidak sempurnaan, mari kita sempurnakan.


Kalau tidak ada kesadaran yang sedemikian ini, maka hemat saya, masing-masing akan tetap ngeyel dengan pendapatnya sendiri-sendiri.


Jangan seperti orang buta yang mengetahui gajah...


Mungkin pak doktor sedang bingung harus menulis apa... mari kita tunjukkan jalannya...<


Lihatlah para pemain bola, bagaimana mereka bisa saling mengisi kekosongan, yang akhirnya keberhasilan dapat diraih bersama-sama. (jangan dipahami secara tekstual saja, ya, kontekstual juga harus)... mengerti maksud saya...?

Anonymous said...

Geli baca tulisan ini. sudut pandang analisisnya gak jelas. Historisnya juga asal senggol. Calon doktor ya mas?

Anonymous said...

Wahabi kek...Neo Wahabi kek..Semuanya kelompok "pahlawan kesiangan"...

Anick said...

Mbah, Koq tanggapan itu nggak dibalesin seh?

Nggak seru tahu...

adeeb said...

saya rasa kita harus sama2 beristighfar terhadap kekeliruan yang telah dilakukan oleh pendahulu kita atau kita2 sekarang ini.........

dari artikel anda sangat jelas sekali anda sangat mendukung NU dan ingin menyalahkan selain NU. umat islam indonesia sudah sangat permisif terhadap semua yang baru di dunia Islam. kita ngakunya syahadat bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhamnmad rasulullah sudah wajib ikut apa yg ada di Qur'an dan hadis.

Anda seolah berpengangan pada rumput jika pola pemikiran anda seperti itu. semua yang berbau bid'ah dan khurafat saat ini terjadi di Indonesia. ISlam hanya tinggal syahadat saja!!! seolah isi Qur'an dan hadis merupakan budaya arab yg berbeda2 untuk tiap2 bangsa. pertanyaannya mengapa ISlam turun di arab??????? kenapa bukan di JAwa!

seolah pendekatan ISlam secara budaya menjadi alasan beraktifitas yang justru syirik dan menyekutukan ALLAH. astaghfirullah!!!
berbagai khurafat yang terjadi di masyarakat mulai dari menyan, keraton dll menjadi duri dari perkembangan dan kemajuan Islam. seperti orang islam yang tidak tahu ISlam.

baca qur'an dan HAdis sebagai petunjuk. 2 bekal yang ditinggalkan rasul untuk kita bertemu dengannya di syurga. Insya Allah.

Anonymous said...

Assalaamu'alaikum

Agama adalah nasihat. sesama muslim sepatutnya saling menasehati.
mungkin saudara rizqon ada sedikit salahnya di tulisan ini.
karna sdr rizqon jg manusia. untuk itu bagi saudara2 yg tahu dimana letak kesalahannya silahkan menasehatinya, meluruskannya, mengoreksinya.

semoga koreksi dari saudara2 bisa menambah baik tulisan ini, bisa mejadi masukan yang berharga untuk saudara rizqon.

tapi, celaan, perkataan yang kurang pantas wajib ditinggalkan. pergunakanlah kata2 yg baik dan santun. bukan dikata2i dengan ....(tahu sendiri lah)

barangsiapa yg beriman dengan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam (al hadits)

hadits diatas sangat menohok kita jika kita menyadarinya (atau diberi hidayah oleh Allah untuk menyadarinya)

wassalaamu'alaikum

Anonymous said...

salah total akan persepsinya tentang salafy.. sebaiknya mendalami dahulu sebelum menulis

arif said...

pak rizqon belum tahu firqoh/ aliran islam... emangnya islam cuma muhammadiyah dan NU.
Ilmu sebelum amal...bukannya jadi tukang cerita fiksi..
"Ingat semua ucapan & perbuatan akan diminta pertanggungjawabannya."
Ttg salafy belajar di www.salafy.or.id Dan www.asysyariah.com

Anonymous said...

Indahnya Islam, Jika semua dari kita yang berbeda harokah ini, bersatu. Buang dengki terhadap sesama saudara. Ada kalanya kita merasa kita paling benar, paling indah,paling damai, paling manis, dllnya. Namun pada kenyataannya, kita paling buruk perlakukannya terhadap sesama saudara seiring dan seperjuangan. Allah yang Maha Membalas perbuatan manusia. Dan bagi kita, dakwah itu hanya untuk Allah, bukan penilaian manusia.

hanif said...

Assalamu'alaikum akhi ...
subhanallah 'amma taquulun wa subhanllah 'amma tanzhuruun
perkataan yang haq itu terasa indah jika dikemas dengan bungkus yang indah pula. al-haq itu adakalanya disampaikan dengan lembut dan adakalanya disampaikan dengan keras dan tegas.
untuk seorang yang ngawur kadang memang perlu ditegasi, tapi 'ala kulli haal. semoga Allah menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus sesuai amnhaj yang haq. Ahlus Sunnah wal jama'ah dengan pemahaman yang benar, pemahaman salafush shalih.
qulil haq walau kaana murran
fal yaqul khairan aw liyashmut.
tapi, tegas juga gak papa sih. hati-hati dalam berbicara, akhi. semuanya ada hisab di sisi Allah.
Wassalamu'alaikum akhi

Jihad Wahabi said...

MAri bersama sama menetang wahabi

jihadwahabi.blogspot.com

Sastro H said...

Salamualaikum
salam kenal dengan salafyindonesia.wordpress.com untuk pemurnian ajaran Ahlusunah wal Jamaah di Tanah Air. harap turut mensosialisasikan blog kami ini demi membendung penyebaran ajaran sesat Wahabisme di Tanah Air. Ajaran sesat bikinan Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab yang didukung oleh kerajaan Saudi dengan bantuan kaum kafir kolonialis Inggris.
Wassalam

Anonymous said...

waduh kalo benci ya benci tok sama wahabi tai bok yak banyak baca lagi refernsi utamanya jangan ngawur gitu moso fpi dikatain wahabi piye to mas. Belajar lagi ya yg bener BTW kuliahnya di mana ya ? kok kenal ama aktifis JIL mas JIL juga Yaa Puantees gak ilmiyah gitu wong cuma copy paste pemikiran doang tok

wahyu said...

Tabayun itu lebih bagus daripada asal stempel. Ok Kang?

Anonymous said...

Ass Wr Wb

Mau meluruskan sedikit, FPI bukan wahabi, habib Rizq memang salafy, tetapi bukan penganut Muhammad Ibn Wahab.

Beliau adalah pengikut dari Imam Sayfi'i, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar dan juga Imam Suyuti.

Beliau berqunut di sholat subuh, memebaca tahlil pada orang meninggal, maulid rasul dll.

Itu saja

Wassalam

Ibnu darussalam said...

Buat semuanya coba baca buku "Meluruskan sejarah Wahhabi" Pengarang: Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar bin Munthahir as Sidawi
Penerbit: Pustaka Al Furqon.

Semoga membantu

Anonymous said...

BERMADZHAB SALAFI ADALAH BID’AH ?


Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan




Dr Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi dalam bukunya “As-Salafiyah Marhalatun Zamaniyyatun Mubarokah Laa Mazhabun Islaamiyun” menulis di halaman 236 dengan judul : “Bermadzhab salafi adalah bid’ah”.

Jawaban
Perkataan ini mengherankan dan mengagetkan sekali, bagaimana mungkin bermadzhab salafi itu bid’ah dan sesat? Bagaimana mungkin dinyatakan bid’ah padahal ia mengikuti madzhab salaf, sementara mengikuti madzhab mereka adalah wajib sebagaimana dijelaskan Al-Kitab dan As-Sunnah dan ia juga haq dan huda ?

Allah berfirman.

“Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah” [At-Taubah : 100]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin”

Dengan demikian bermadzhab salaf itu tidak bid’ah tapi sunnah, dan justru bermadzhab dengan selain salaf adalah bid’ah.

Jika yang dimaksud penulis adalah penamaan dengan nama ini adalah baru sebagaimana terlihat dari perkataannya dan sebelumnya istilah ini tidak popular maka ia adalah bid’ah (atas dasar ini), maka permasalahan nama itu tidak sulit dan kesalahan dalam hal penamaan itu tidaklah sampai pada derajat bid’ah, sekalipun yang dimaksud adalah ada pada sebagian orang-orang yang menamakan dengan nama ini, telah melahirkan kesalahan-kesalahan yang menentang madzhab salaf. Seharusnya penulis menjelaskan hal ini (kesalahannya), tanpa membawa (madzhab) salafiyah, dan penamaan salafiyah. Jika yang dimaksud penulis adalah berpegang teguh dengan madzhab salaf, menolak bid’ah dan khurafat maka ini terpuji dan sangat baik. Sebagaimana penulis menyatakan di halaman 233 ketika ia berkata tentang gerakan Jamalauddin Al-Afghani dan Muhamamd Abduh dan dinamakan dengan gerakan Salafiyah ; dan syiar yang diusung pemimpin gerakan reformasi ini adalah As-Salafiyah. Ia adalah dakwah (ajakan) menolak semua kesalahan-kesalahan ini yang telah mengotori kesucian Islam.

Inilah yang dikatakan penulis tentang gerakan itu dan penamannya dengan salafiyah, namun ia tidak mempermasalahkan nama karena tujuannya bagus. Sekarang kita bertanya pada penulis : “Apakah salafiyah hari ini tidak demikian ?

MEMBOLEHKAN MENYALAHI SALAF DALAM SIFAT-SIFAT ATAS HAKIKATNYA

Di halaman 138, Dr Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi membolehkan untuk menyalahi salaf dalam menetapkan sifat-sifat atas hakikatNya, kemudian ia berkata : “Bahkan sekiranya ada seseorang dari salaf tidak membolehkan bagi dirinya, kecuali menetapkan hal itu sebagaimana Allah telah tetapkan dan menyerahkan ilmu dan perincian mengenai maksud dibelakang makna itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka pendapat seperti itu bukanlah hujjah atas haramnya menyalahi mereka dalam mensikapi sifat-sifat dan hakikatNya dengan pengharaman secara mutlak”.

Jawaban.
Subhanallah mudah-mudahan kita tidak lancang terhadap orang-orang salaf. Bukankah menyalahi mereka yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar serta Khulafaur Rasyidin dan para sahabat yang lainnya Radhiyallahu ‘anhum sebagai fase yang paling utama ? Dan bukankah menyalahi mereka dalam masalah akidah itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan sebagaimana sabdanya.

“Artinya : Hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk, berpeganglah dengan itu dan gigitlah dengan taringmu, hati-hatilah dengan masalah-masalah yang baru karena setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara Muhajarin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah” [At-Taubah : 100]

Allah Subhanahu wa Ta’ala rida bagi orang yang datang setelah mereka dalam mengikuti Muhajirin dan Anshar dengan kata “ihsan” (baik), dan penulis (Dr Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi) berkata “Tidaklah haram untuk menyalahi mereka (salaf) dalam hal sifat-sifat Allah Azza wa Jalla” Hanya saja bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghabarkan, bahwa fase mereka sebagai sebaik-baik fase ? Ini artinya bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk selalu mengikuti mereka dan melarang menyalahinya terutama dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama). Oleh karena itu pantaskah kita menyelisihi mereka dalam usrusan akidah ? Bukankah masalah akidah itu taufiqiyyah yang tidak ada tempat untuk berijtihad dan berikhtilaf?

TENTANG SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

Di halaman 236 dan 237, Dr Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi menyatakan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –yarhamuhullah- sebagai madzhab wahabi dan berkata : “Sesungguhnya kelompok Wahabiyah menolak untuk dinyatakan dengan sebutan ini, karena sebutan ini mengisyaratkan, bahwa sumber madzhab ini dengan segala kelebihan dan kekhususannya bermuara pada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka hal ini memaksa mereka untuk mengganti sebutan Wahabiyah dengan sebutan Salafiyah …” dan seterusnya.

Jawaban
Kita jawab ; “Sesungguhnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak memiliki madzhab tertentu sehingga disebut Wahhabiyah, karena dalam manhaj aqidahnya adalah merujuk kepada Salaf. Sedangkan dalam masalah furu merujuk kepada madzhab Imam Ahmad bin Hambal yang dijadikan pegangan oleh ulama Nejed sebelumnya dan pada masa hidupnya serta setelah wafatnya Syaikh. Sementara pengikutnya menyeru kepada madzhab Salaf dan berjalan di atas manhajnya, dan saya meminta keterangan, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hadir membawa madzhab baru yang dinisbatkan kepadanya, dan jika penulis tidak membawakannya –dan tidak akan mendapatkannya- maka ia telah berdusta atas nama Syaikh dan pengikutnya dan Allah akan membalas kepada semua pendusta.


[Disalin dari buku Salafi Digugat Salafi Menjawab, DR Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerjemah M. Tasdiq, Lc, Rudy Hartono Lc, Penerbit Pustaka As-Sunnah]

Anonymous said...

Assalamualaikum,
tulisan anda sangat bagus dan sesuai dengan fakta, salafy wahabi memang sangat anti thd pergerakan karena tujuannya untuk melangengkan kekuasaan politik di arab, tapi mereka juga mendudung pergerakan asal tetap SEJALAN faham ibnu taimiyah, jadi sama sama aja mereka SALAFY WAHABI TAIMIYAH. TERUS MENULIS MAS!!, BAHAYA SEKALI KALAU INDONESIA DIKUASAI OLEH ORANG SALAFY WAHABI TAIMIYAH, DEMI ANAK CUCU KITA, shalawat. syaiful Battar.

Anonymous said...

saran buat mas Rizqon agar membaca kitab karangan ibnu taimiyah dan syaikh muhammad bin abdul wahab serta menarik akar pemikiran mereka dalam beragama.
jangan menilai dari "katanya" atau artikel yang belum dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

hatinurani21 said...

Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel yang menarik sekali. Ini situsnya: http://hatinurani21.wordpress.com/

MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?

Pengantar

Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
- Bs. Belanda selama 300 tahunan
- Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
- Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
- Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
- Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
Gerilya Kebudayaan
Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
- Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
- Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
- Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
- Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
- Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
- Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
- Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
- Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
- Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
- Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
- Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
- Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
- Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

- Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
- Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

- Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
- Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
- Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
- Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
- Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
- Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
- Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
- Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
- Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

Penutup

Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

Ahmadshobirin said...

Kasihan Murid2 anda, sepertinya anda juga perlu belajar agama ditempat yg tepat agar selamat dunia akherat. Semoga dibukakan jalan kebenaran, Aamiiiin

Anonymous said...

M. DARUL, SE PEKALONGAN- " Sungguh mengharukan Perjuangan untuk memurnikan Islam di tubuh Muhammadiyah yang secara historis sebagai simbul perjuangannya. Membaca pengalaman agama kristen dan agama agama lain, sebelumnya tertata rapi satu garis aqidah meng-Esa-kan Allah. Tapi justru para alim ulama'sepeninggal nabi mereka (Isa, Musa dll), mereka-reka syariat yang dibawa, bid'ah hasanah diciptakan dan sampai pada titik nadir, yaitu syirik. Saat ini kebanggaan menciptakan dan melaksanakan bid'ah yang sejak dulu dianut (note bene sebagai ahli bid'ah hasanah)perlahan-lahan seperti agama Kristen sesat dan syirik. Semoga Muhammadiyah menjadi salafi yang berjuang menegakkan akidah bukan terlena dengan Bid'ah, khurafat dan tahayul.

BerIlmu sblm Berkata & Berbuat said...

MENGAPA HANYA MANHAJ SALAFI SAJA??

Sangat banyak dalil-dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta perkataan para sahabat yang menjelaskan akan pujian terhadap orang yang mengikuti jalan As-Salaf dan celaan terhadap orang yang tidak melakukan hal demikian. Dan ini merupakan perkara-perkara yang menguatkan kewajiban mengikuti manhaj Salaf serta menegaskan bahwa dia merupakan jalan keselamatan dan kebahagian hidup. Di sini kami melemparkan beberapa belas anak panah kepada orang yang ragu lagi bimbang untuk membentangkan jalan kaum mukminin dari pohon keyakinan sehingga memetik manisnya iman dari atas pohon yang subur dan berteduh dibawah kerindangannya dalam buaian dan wanginya.

Pertama
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar" [At-Taubah : 100]

Sisi pendalilannya adalah, Rabb sekalian manusia telah memuji orang yang mengikuti sebaik-baik manusia maka jelaslah bahwa mereka (Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar ) jika mengatakan satu perkataan lalu diikuti oleh orang yang mengikutinya maka haruslah hal itu merupakan hal yang terpuji dan berhak mendapatkan keridhoan, dan seandainya mengikuti mereka tidak memiliki keistimewaan dari selain mereka maka dia tidak berhak mendapatkan pujian dan keridhoan.

Kedua
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah" [Ali Imran :110]

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan keutamaan atas sekalian umat-umat yang ada dan hal ini menunjukkan keistiqomahan mereka dalam setiap keadaan ; karena mereka tidak menyimpang dari syari'at yang terang benderang, sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mempersaksikan bahwa mereka memerintahkan setiap kemakrufan (kebaikan) dan mencegah setiap kemungkaran, hal itu menunjukkan dengan pasti bahwa pemahaman mereka adalah hujjah atas orang yang setelah mereka sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala mewarisi bumi dan seisinya.

Jika ditanya : Ini umum pada umat Islam seluruhnya tidak khusus untuk generasi sahabat saja.

Saya jawab : Bahwa merekalah orang yang pertama yang menjadi obyek penderita, dan tidak masuk dalam konteks ini orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik kecuali dengan kias (analogi) atau dengan dalil sebagaimana dalil pertama. Dan seandainya konteksnya umum -inipun benar- maka para sahabat adalah yang pertama masuk dalam keumuman konteks ayat, karena mereka orang pertama yang menerima dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa perantara (langsung) sedang mereka adalah orang-orang yang langsung berkenaan dengan wahyu, sehingga mereka lebih pantas dimasukkan dalam konteks ayat daripada selainnya karena sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala jadikan sebagai sifat mereka tidak memiliki sifat -sifat tersebut dengan sempurna kecuali mereka. Dan kesesuaian sifat terhadap kondisi yang nyata merupakan bukti bahwa mereka lebih pantas dari selainnya untuk dipuji. Hal itu dijelaskan oleh :

Ketiga
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sabik-baiknya manusia adalah generasiku [1] kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi, kemudian datang satu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya" [Mutawatir, sebagaimana telah ditegaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah 1/12 dan Al-Muanawiy dalam Faidhul Qadir 3/478 serta disetujui oleh Al-Kataaniy dalam kitab Nadzmul Mutanatsir hal.127]

Apakah keutamaan yang ditetapkan kepada generasi sahabat ini ada pada warna kulit atau bentuk tubuh atau harta mereka ... dst ?

Tidak akan ragu bagi orang berakal yang telah memahami Al-Kitab dan As-Sunnah bahwa bukan itu semua yang dimaksud ; karena tolak ukur keutamaan dalam Islam adalah ketakwaan hati dan amal shalih, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kami di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu" [Al-Hujuraat : 13]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak melihat kepada bentuk kalian dan harta kalian akan tetapi melihat kepada hati-hati kalian dan amalan kalian" [Hadits Shahih Riwayat Muslim 16/121 -Nawawiy]

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melihat kepada hati-hati para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mendapatkannya sebagai sebaik-baik hati diantara para hamba setelah hati Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian Allah memberikan kepahaman yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang menyusul mereka, oleh karena itu apa yang para sahabat pandang sebagai kebaikan maka dia adalah kebaikan di sisi Allah Subahanahu wa Ta'ala dan apa yang mereka pandang sebagai kejelekan maka dia adalah kejelekan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Abdullah bin Mas'ud berkata : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melihat kepada hati-hati para hambaNya dan mendapatkan hati Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebaik-baik hati para hamba lalu memilihnya untuk dirinya dan diutus sebagai pembawa risalahNya, kemudian melihat kepada hati-hati para hamba setelah hati Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mendapatkan hati-hati para sahabat beliau sebaik-baik para hamba lalu menjadikan mereka sebagai pembantu NabiNya, mereka berperang di atas agamaNya, maka apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka dia baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan apa yang mereka pandang kejelekan maka dia adalah kejelekan di sisi Allah Subahanhu wa Ta'ala. [2]

Dari Abu Juhaifah, beliau berkata.

"Artinya : Saya telah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib : 'Apakah kalian memiliki kitab ? Beliau menjawab : 'Tidak kecuali Kitabullah atau pemahaman yang diberikan kepada seorang muslim atau apa yang ada di lembaran ini[3]. Saya bertanya lagi : Apa yang ada di lembaran tersebut ? Beliau menjawab ; Diyat, pembebasan tawanan dan (pernyataan) bahwa seorang muslim tidak di bunuh dengan sebab orang kafir" [Hadits Shahih Riwayat Bukhari 1/204 - Al-Fath]

Dengan demikian maka pemahaman para sahabat terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah merupakan hujjah atas orang yang setelahnya sampai akhir umat ini, oleh karena itu mereka menjadi saksi Allah Subhanahu wa Ta'ala dipermukaan bumi ini, hal ini dijelaskan berikut.

Keempat
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu" [Al-Baqarah : 143]

Di sini Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan mereka umat pilihan dan umat yang adil karena mereka adalah umat yang paling utama dan paling adil dalam perkataan, perbuatan dan kehendaknya, sehingga mereka berhak menjadi para saksi atas manusia dan dengan demikian Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji mereka, mengangkat nama mereka dan menerima mereka dengan baik. Dan saksi yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah yang bersaksi dengan ilmu dan kebenaran sehingga mengkhabarkan kebenaran yang berdasarkan ilmunya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)" [Az-Zukhruf : 86]

Apabila persaksian mereka diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala maka tidak diragukan lagi bahwa pemahaman mereka dalam agama merupakan hujjah atas orang yang setelah mereka, karena ayat ini telah menjelaskan penunjukkan tersebut secara mutlak dan umat Islam tidak memutlakkan sifat adil pada satu generasi kecuali kepada generasi sahabat, karena Ahlus Sunnah wal Jama'ah memberikan sifat adil pada mereka secara mutlak dan menyeluruh sehingga mereka mengambil dari sahabat secara riwayat dan ilmu seluruhnya tanpa kecuali. Berbeda dengan selain sahabat, maka Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak memberikan sifat adil ini kepada mereka kecuali yang telah diakui keimanan dan keadilannya. Kedua hal ini tidak diberikan kepada seseorang kecuali jika dia berjalan di atas jejak para sahabat.

Maka jelaslah dengan demikian bahwa pemahaman para sahabat merupakan hujjah atas selainnya dalam pengarahan nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah oleh karena itu diperintahkan untuk mengikuti jalan mereka, hal ini dijelaskan dalam.

Kelima
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku" [Luqman : 15]

Setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kepada mereka hidayah (petunjuk) untuk mendapatkan perkataan yang baik dan amalan shalih dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira ; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal" [Az-Zumar : 17-18]

Maka wajib mengikuti jalan mereka dalam memahami agama Allah baik Al-Qur'an ataupun As-Sunnah, oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta'a mengancam orang yang tidak mengikuti jalan mereka dengan neraka jahannam seburuk-buruknya tempat kembali, hal ini dijelaskan

Keenam
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali" [An-Nisaa : 115]

Sisi pendalilannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengancam orang yang mengikuti selain jalan kaum mukminin sehingga menunjukkan bahwa mengikuti jalan mereka dalam memahami syari'at adalah wajib dan menyelisihinya adalah kesesatan.

Jadi dikatakan : Ini adalah Istidlal (pendalilan) dengan dalil khithaab dan hal itu bukanlah hujjah, maka kami katakan ; Dia itu dalil, dan dibawah ini akan dijelaskan dalilnya.

[a]. Dari Ya'la bin Umaiyah beliau berkata : Saya telah bertanya kepada Umar.

"Artinya : Maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir" [An-Nisaa : 101]

Padahal manusia telah aman ? Umar berkata : "Saya telah heran seperti yang kamu herankan, lalu saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hal tersebut dan beliau menjawab :

"Artinya : Shadaqah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada kalian maka terimalah shadaqahNya" [Hadits Riwayat Muslim 5/196 - An-Nawawiy]

Kedua sahabat ini yaitu Ya'la bin Umaiyah dan Umar bin Al-Khathab memahami dari ayat ini bahwa qashar shalat terkait dengan syarat takut, sehingga jika manusia telah aman wajib menyempurnakan shalat dan ia adalah dalil khithaab yang dinamakan juga dengan Mafhum Mukhalafah.

Lalu Umar bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau Shallallahu 'alihi wa sallam menyetujui pemahamannya akan tetapi beliau jelaskan kepada Umar bahwa hal itu tidak dipakai disini ; karena Allah Subahanahu wa Ta'ala telah bershadaqah kepada kalian maka terimalah shadaqahnya tersebut.

Seandainya pemahaman Umar tidak benar tentunya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sejak awal tidak mendiamkannya kemudian mengarahkan pengarahan ini dan ada pepatah yang mengatakan : Taujih (pengarahan) bagian dari penerimaan.

[b]. Dari Jabir dari Ummu Mubasyir bahwa dia telah mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata di hadapan Hafshah.

"Artinya : Tidaklah masuk neraka seorangpun -insya Allah- dari Ashhab Syajaroh yang berbaiat dibawahnya"
Dia berkata : benar wahai Rasulullah, lalu beliau menghardiknya lalu berkata Hafshah :

"Artinya : Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu" [Maryam : 71]

Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : Allah telah berfirman.

"Artinya : Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam naar dalam keadaan berlutut" [Maryam : 72]

Di sini Ummul Mukminin Hafshah memahami dari ayat ini bahwa semua manusia akan masuk neraka, kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meluruskan hal itu dengan lanjutan ayat tersebut yaitu :

"Artinya : Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa" [Maryam : 72]

Pada awalnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengakui kebenaran pemahaman Hafshah, kemudian menjelasakan bahwa konteks kata " tidak masuknya neraka" (dalam hadits itu) berbeda dengan konteks kata "wurud" (datangnya orang ke neraka yan ada dalam ayat tersebut) dan menjelaskan bahwa yang pertama itu khusus untuk orang-orang shalih yang bertaqwa yakni mereka tidak merasakan adzab neraka dan masuk ke syurga dengan melewatinya tanpa disentuh sedikitpun siksaan dan adzab, sedangkan selain mereka tidak demikian.

Maka jelaslah Alhmadulillah bahwa dalil khithaab adalah hujjah yang diakui dan dapat disandarkan dalam pemahaman.

Cukuplah bagimu bahwa firman Allah :

"Artinya : Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min" [An-Nisaa : 115]

Bukanlah dalil khithab akan tetapi hal itu merupakan argumentasi dengan Taqsiimin Aqliy (pembagian secara logika), karena tidak ada pilihan yang ketiga antara mengikuti jalan orang-orang mukmin dan mengikuti selain jalan mereka.

Maka ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang ikut selain jalan mereka maka wajiblah mengikuti jalan mereka, ini sudah sangat jelas sekali.

Jika ada yang membantah : Ada di antara dua pilihan tersebut pilihan yang ketiga yaitu tidak ikut kedua-keduanya.

Maka saya jawab : Ini merupakan pendapat yang sangat lemah sekali ; karena tidak mengikuti keduanya sama sekali berarti mengikuti jalan selain mereka (orang-orang mukmin) secara pasti karena firman Allah :

"Artinya : Maka tidak ada sesudah kabenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)" [Yunus : 32]

Jelaslah di sini bahwa hanya ada dua pilihan dan tidak ada pilihan yang ketiga. Jika dikatakan : Kami tidak setuju bahwa mengikuti selain jalan orang-orang mukmin berhak mendapat ancaman tersebut (dalam ayat) kecuali dibarengi dengan penentangan terhadap Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam sehinnga hal itu tidak menunjukkan pengharaman mengikuti selain jalan kaum mukminin secara mutlak akan tetapi harus ada penentangan Rasulnya.

Jawabannya ; Telah diketahui bahwa menentang Rasul diharamkan secara tersendiri dan terpisah karena adanya peringatan atas hal tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya" [Al-Anfaal : 13]

Maka ayat ini menunjukkan ancaman tersebut ada untuk setiap dari keduanya secara tersendiri dan pensifatan ini (mengikuti selain jalan kaum mukminin) termasuk yang mendapat ancaman secara tersendiri dan hal itu ditinjau dari hal-hal berikut ;

[a]. Mengikuti selain jalan kaum mukminin seandainya tidak diharamkan secara tersendiri maka tidak diharamkan bersama penentangan seperti penyelamat yang lainnya.
[b]. Mengikuti selain jalan kaum mukminin seandainya tidak termasuk dalam ancaman tersebut secara tersendiri maka (pensifatan tersebut) hanyalah sia-sia dan tidak ada faedahnya untuk disebutkan, maka jelaslah bahwa penghubungannya (dalam konteks ayat tersebut) adalah dalil tersendiri seperti yang awal.

Jika ada yang mengatakan : Kami tidak sependapat jika ancaman tersebut berlaku untuk semua orang yang mengikuti selain jalan kaum mukminin secara mutlak akan tetapi hal itu berlaku setelah jelas baginya petunjuk, karena Allah menyebut penentangan Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mensyaratkan padanya kejelasan petunjuk kemudian dihubungkan dengan mengikuti selain jalan kaum mukminin, hal itu menunnjukkan bahwa kejelasan petunjuk merupakan syarat dalam ancaman terhadap orang yang mengikuti selain jalan kaum mukminin.

Jawabanya : Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

"Artinya : Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min" [An-Nisaa : 115]

Ma'thuf (disandarkan/dihubungkan) dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
"Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya" [An-Nisaa : 115]

Maka hal itu menunjukkan bahwa kait (syarat) pada awal ayat bukanlah syarat bagi yang kedua akan tetapi kata hubung tersebut hanya untuk menunjukkan kesatuan dan kesamaan dalam hukum yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali" [An-Nisaa : 115]

Hal ini menunjukkan bahwa setiap sifat dari kedua sifat tersebut mendapatkan ancaman tersendiri.

Hal ini di bawah ini dapat menunjukkannya.

Kejelasan petunjuk (kebenaran) merupakan syarat dalam (hukum) penentangan Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena orang yang tidak mengetahui petunjuk (kebenaran) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dikatakan menentang sedangkan mengikuti jalan kaum mukminin merupakan petunjuk (kebenaran) itu sendiri.

Konteks ayat ini adalah untuk mengagungkan dan memuliakan kaum mukminin, maka seandainya mengikuti jalan mereka disyaratkan dengan datangnya kejelasan petunjuk (kebenaran) maka tidaklah mengikuti jalan mereka ini lantaran sebagai jalan mereka akan tetapi karena telah datang kejelasan petunjuk (kebenaran) dan jika demikian tidak ada faedah mengikuti jalan mereka.

Dengan demikian jelaslah bahwa mengikuti jalan kaum mukminin merupakan jalan keselamatan dan pemahaman para sahabat dalam agama adalah hujjah atas selain mereka, sehingga orang yang menentangnya maka telah menghendaki kesesatan dan berjalan di tempat yang berbahaya, maka cukuplah Jahanam (neraka) sebagai sejelek-jeleknya tempat tinggal dan kembalinya. Inilah kebenaran maka berpegang teguhlah kepadanya dan tinggalkanlah jalan-jalan yang menyimpang, dan hal itu juga dijelaskan oleh.

Ketujuh
Firman Allah Subhnahu waa Ta'ala

"Artinya: Barangsiapa berpegang teguh kepada Dienullah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus".[Ali Imran : 101]

Para sahabat merupakan orang-orang yang berpegang pada tali Allah, karena Allah adalah wali orang-orang yang berpegang teguh kepadaNya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya: Dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu,maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong".[Al-Hajj :78]

Dan telah diketahui kesempurnaan perlindungan dan pertolongan Allah kepada mereka yang menunjukan bahwa mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka adalah orang-orang yang memberi petunjuk dengan persaksian Allah dan menyampaikan kebenaran merupakan satu kewajiban menurut syariat, akal dan fitrah, oleh karena itu menjadikan mereka sebagai imam-imam bagi kaum mutaqin (orang-orang yang bertaqwa ) karena kesabaran dan keyakinan mereka dan itu dijelaskan oleh:

Kedelapan
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

"Artinya : Danjadikanlah kami imam bagi orang yang bertaqwa". [Al-Furqan : 74]

Setiap orang yang bertaqwa akan diikuti oleh mereka sedangkan ketaqwaan adalah wajib sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah dalam banyak ayat yang sulit untuk memaparkannya pada kesempatan ini, sehingga jelaslah kewajiban mengikuti mereka dan penyimpangan dari jalan meraka merupakan pintu fitnah dan musibah.

Kesembilan
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

"Artinya : Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami".[As-Sajadah : 24]

Sifat ini diberikan untuk para sahabat Musa dimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengkhabarkan Bahwa Dia telah menjadikan mereka sebagai imam-imam yang diikuti oleh orang yang setelah mereka dengan kesabaran dan keyakinannya, karena keimaman (kepemimpinan) di dunia dapat dicapai dengan kesabaran dan keyakinan.

Sudah pasti para sahabat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih berhak dan pantas mendapat sifat ini dari para sahabat Musa tersebut karena mereka lebih sempurna keyakinan dan lebih besar kesabarannya dari umat yang lain sehingga mereka lebih pantas memegang jabatan keimamam ini. Hal ini telah ditetapkan juga oleh persaksian Allah dan pujian Rasulullah terhadap mereka. Kalau begitu mereka adalah orang yang paling pintar dari umat ini sehingga kita diwajibkan untuk merujuk kepada fatwa dan pendapat mereka serta terikat dengan pemahaman mereka terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah secara amalan, akal dan syariat, wabillahi taufiq.

Kesepuluh
Dari Abi Musa Al-Asy'ariy beliau berkata :

"Artinya : Kami sholat maghrib bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu kami berkata : Semalam kita duduk-duduk sampai shalat Isya bersama beliau lalu kami duduk sampai Rasulullah menemui kami dan berkata ; Kalian masih di sini ? kami menjawab : wahai Rasulullah kami telah shalat bersamamu kemudian kami berkata : kami akan tetap duduk sampai shalat Isya bersamamu, beliau menjawab ; bagus atau benar. Abu Musa berkata : kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kepala ke langit dan hal itu sering beliau lakukan lalu bersabda : bintang-bintang adalah penjaga langit, jika hilang bintang-bintang tersebut maka datanglah bencana padanya dan saya adalah penjaga para sahabatku maka jika saya pergi datang kepada mereka apa yang dijanjikan dan sahabatku adalah penjaga umatku jika telah pergi sahabatku datanglah kepada umat ku apa yang dijanjikan" [Hadits Riwayat Muslim 16/82 -An-Nawawiy]

Rasulullah menjadikan kedudukan para sahabatnya dibandingkan dengan generasi setelah mereka dari umat Islam sebagaimana kedudukan beliau kepada para sahabatnya dan sebagaimana kedudukan bintang terhadap langit.

Jelaslah Tasybih Nabawiy (perumpamaan Nabi) ini menjelaskan kewajiban mengikuti pemahaman para sahabat dalam agama Islam sama dengan kewajiban umat Islam kembali kepada Nabi mereka karena Nabi adalah penjelas Al-Qur'an sedangkan para sahabatnya adalah penyampai dan penjelas beliau bagi umat. Demikianlah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang yang maksum yang tidak berbicara dengan hawa nafsu dan beliau hanya mengucapkan petunjuk dan hidayah, sedangkan para sahabatnya adil yang tidak berkata-kata kecuali dengan kejujuran dan tidak mengamalkan sesuatu kecuali kebenaran.

Dan demikian juga Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan bintang-bintang sebagai alat pelempar syaitan ketika mencuri khabar sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaithan yang sangat durhaka, syaithan-syaithan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (diantara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan) ; maka ia dikejar-kejar oleh suluh api yang cemerlang" [Ash-Shaaffat : 9-10]

Dan firmanNya.

"Artinya : Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaithan" [Al-Mulk : 5]

Demikian juga para sahabat adalah hiasan umat Islam yang menghancurkan ta'wil orang-orang bodoh, ajaran batil dan penyimpangan orang yang menyimpang yang mengambil sebagian Al-Qur'an dan membuang sebagiannya, mengikuti hawa nafsu mereka lalu bercerai-berai ke kanan dan ke kiri lalu mereka menjadi berkelompok-kelompok. Demikian juga bintang-bintang menjadi tanda bagi penduduk bumi agar mereka gunakan sebagai alat petunjuk di kegelapan darat dan laut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan Dia (ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk." [An-Nahl : 16]

Dan firmanNya.

"Artinya : Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut" [Al-An'am :97]
Demikian juga para sahabat, mereka dicontoh untuk menyelamatkan diri dari kegelapan syahwat dan syubhat, maka orang yang berpaling dari pemahaman mereka berada dalam kesesatan yang membawanya kepada kegelapan yang sangat kelam, seandainya dia mengeluarkan tangannya maka tidak terlihat lagi.

Dengan pemahaman para sahabat, kita membentengi Al-Kitab dan As-Sunnah dari kebid'ahan syaithan jin dan manusia yang menginginkan fitnah dan ta'wilnya untuk merusak apa yang dimaksud Allah dan RasulNya. Sehingga pemahaman para sahabat merupakan pelindung dari kejelekan dan sebab-sebabnya. Seandainya pemahaman mereka bukan hujjah tentunya pemahaman orang setelah mereka menjadi penjaga dan pelindung mereka dan ini mustahil.

Kesebelas
Hadits-hadits yang menjelaskan kewajiban untuk mencintai para sahabat dan mencela orang yang membenci mereka -dan merupakan kesempurnaan dalam mencintai mereka adalah dengan mencontoh jejak langkah dan berjalan di atas petunjuk mereka dalam memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah- sangat banyak, diantara hadits-hadits tersebut adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Janganlah mencela sahabatku karena seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung uhud tidak akan menyamai satu mud atau setengah mudnya shadaqah mereka" [4]

Keutamaan ini bukan saja dari sisi mereka telah melihat, berdampingan dan bersahabat dengan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam akan tetapi hal itu karena ittiba' dan pengamalan mereka terhadap sunnah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang demikian besar. Pantaslah jika pemahaman mereka dijadikan jalan petunjuk dan pendapat-pendapat mereka dijadikan kiblat tempat seorang muslim menghadapkan wajahnya dan tidak berpaling kepada selainnya. Dan hal itu jelas -jika dilihat- sebab turunnya hadits ini dimana orang yang dilarang tersebut adalah Khalid bin Al-Walid dan beliau seorang sahabat, maka apabila satu mud sebagian sahabat atau setengahnya lebih baik di sisi Allah dari emas sebesar gunung uhud lantaran keutamaan dan terdahulunya mereka dalam Islam, maka tidak diragukan lagi adanya perbedaan yang besar antara sahabat dengan orang yang setelah mereka. Kalau keadaannya seperti ini bagaimana mungkin pemahaman orang yang memiliki akal yang cemerlang dalam agama Allah ini tidak menjadi jalan petunjuk yang membawa kepada jalan yang lebih lurus ?

Keduabelas
Diantaranya hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin dan gigitlah dengan gigi gerahammu" [Telah lewat Takhrijnya]

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan umatnya ketika terjadi perselisihan untuk berpegang teguh kepada sunnahnya dengan paham para sahabatnya sebagaimana telah lalu penjelasannya.

Diantara faedah berharga dari hadits ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah menyebut sunnahnya dan sunnah para Khulafaur Rasyidin berkata :

Dalam rangka untuk menunjukkan bahwa sunnah beliau dan sunnah para Khalifah Rasyidin adalah satu manhaj dan hal itu hanya terjadi dengan pemahaman yang shahih dan jelas yaitu berpegang teguh kepada sunnah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan pemahaman para sahabatnya.

Ketigabelas
Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mensifatkan manhaj Firqatun Najiyah (golongan yang selamat) dan Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang dimenangkan) :

"Artinya : Apa yang aku ada atasnya sekarang dan para sahabatku" [Telah lalu Takhrijnya]

Ada yang mengatakan : Tidak diragukan lagi bahwa pemahaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya setelah beliau adalah manhaj yang tidak ada kebatilannya akan tetapi apa dalilnya kalau manhaj salafi adalah pemahaman Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya ?

Jawabanya : awaban atas pertanyaan ini ada dari dua sisi :
Sesungguhnya pemahaman-pemahaman yang disebutkan tadi adanya setelah zaman Nabi dan kekhilafahan Rasyidah dan tentunya tidaklah dinisbatkan yang terdahulu kepada yang setelahnya akan tetapi sebaliknya, sehingga jelaslah kelompok yang tidak berjalan dan mengikuti jalan-jalan kesesatan adalah kelompok yang berada pada asalnya.

Kami tidak menemukan pada kelompok-kelompok sempalan umat Islam yang sesuai dengan para sahabat kecuali Ahlul Sunnah wal Jama'ah dari kalangan pengikut As-Salaf Ash-Shalih Ahlul Hadits.

Adapun Mu'tazilah bagaimana bisa sesuai dengan para sahabat sedangkan tokoh-tokoh besar mereka mencela tokoh besar sahabat dan merendahkan keadilan mereka serta menuduh mereka sesat seperti Al-Washil bin Atho' yang menyatakan : Seandainya Ali, Tholhah dan Az-Zubair bersaksi maka saya tidak menghukum karena persaksian mereka.[Lihat Al-Farqu Bainal Firaq hal.119-120]

Adapun Khawarij telah keluar dari agama dan menyempal dari jama'ah kaum muslimin karena diantara pokok-pokok dasar ajaran mereka adalah mengkafirkan Ali dan anaknya, Ibnul Abbas, Utsman, Thalhah, Aisyah dan Mu'awiyah dan tidaklah berada diatas sifat-sifat para sahabat orang yang melecehkan dan mengkafirkan mereka.

Adapun Shufiyah, mereka meremehkan warisan para Nabi dan merendahkan para penyampai Al-Kitab dan As-Sunnah serta mensifatkan mereka sebagai para mayit. Seorang tokoh besar mereka berkata : Kalian mengambil ilmu kalian, dari mayit sedangkan kami mengambil ilmu kami dari yang maha hidup yang tidak mati (Allah) langsung. Oleh karena itu mereka mengatakan -dengan mulut-mulut mereka untuk menolak sanad hadits- : Telah mengkhabarkan kepada saya hati saya dari Rabb.

Adapun Syi'ah, mereka telah meyakini bahwa para sahabat telah murtad setelah kematian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali beberapa orang saja, lihatlah Al-Kisyiy -salah seorang imam mereka- meriwayatkan satu riwayat dalam kitab Rijalnya hal. 12,13 dari Abu Ja'far, bahwa dia telah menyatakan : Semua orang murtad setelah kematian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali tiga, saya berkata : Siapakah ketiga orang tersebut ? Beliau jawab : Al-Miqdaad bin Al-Aswaad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisiy.

Dan meriwayatkan dalam hal.13 dari Abu Ja'far, dia berkata : Kaum Muhajirin dan Anshor telah keluar (dari agama) kecuali tiga. [Lihat Al-Kaafiy karya Al-Kulaniy, hal.115]

Lihat juga Khumaini -tokoh besar mereka di zaman ini- mencela dan melaknat Abu Bakar dan Umar dalam kitabnya Kasyful Asroor hal, 131, dia menyatakan : Sesungguhnya syaikhani (Abu Bakar dan Umar) ... dan dari sini kita dapati diri kita terpaksa menyampaikan bukti-bukti penyimpangan mereka berdua yang sangat jelas terhadap Al-Qur'an dalam rangka membuktikan bahwa kedua telah menyelisihinya.

Dan berkata lagi hal 137 : ... dan Nabi menutup matanya (wafat) sedangkan kedua telinga beliau ada ucapan-ucapan Ibnul Khaththab yang tegak diatas kedustaan dan bersumber dari amalan kekufuran, kezindikan dan penyelisihan terhadap ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur'an yang mulia.

Adapun Murji'ah, mereka berkeyakinan bahwa iman orang-orang munafiq yang berada dalam kenifakan sama seperti imannya Assabiqunal Awalun (orang-orang pertama yang masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Bagaimana mereka semua ini bersesuaian dengan para sahabat sedangkan mereka :

Mengkafirkan orang-orang pilihan dari kalangan mereka
Tidak menerima sedikitpun yang mereka riwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam aqidah dan hukum syari'at.
Mengikuti peradaban Rumawi dan filsafat Yunani

Kesimpulannya
Kelompok-kelompok ini semua ingin menolak para saksi kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah dan mencela mereka sedangkan mereka lebih pantas dicela dan mereka ini adalah kaum zindiq.

Dengan demikian jelaslah bahwa pemahaman salaf adalah manhaj Al-Firqatun Najiyah dan Ath-Thaifah Al-Manshurah dalam konsep pemahaman, penerimaan dan Istidlal (pengambilan hukum).

Sedangkan orang-orang yang mencontoh para sahabat adalah orang-orang yang beramal dengan riwayat-riwayat (hadits) yang shahih dan otentik dalah hukum syariat, dengan jalan dan pemahaman sahabat, dan ini merupakan jalan hidupnya Ahlul Hadits, bukan jalannya ahlul bid'ah dan hawa. Sehingga benar dan kuatlah apa yang telah kami paparkan ketika kami jelaskan wujud keberhasilan mereka dalam berhukum kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan keberhasilan orang yang mengambil sunnah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sunnahnya para Khulafaur Rasyidin setelah beliau.

__________
Foote Note.
[1]. Tertulis dalam banyak buku hadits ini degan lafadz : "Sebaik-baiknya generasi". Saya mengatakan bahwa lafadz-lafadz ini lemah dan yang benar apa yang telah saya tulis ini.
[2]. Dikeluarkan oleh Ahmad I/379, Ath-Thoyalisiiy dalam musnadnya hal.23 dan Al-Khotib Al-Baghdadiy dalam Al-faqih wal Mutafaqqih I/166 secara mauquf dengan sanad yang hasan. Kata-kata terakhir dari atsar ini telah masyhur sebagai hadits marfu' dan itu tidak benar sebagaimana telah dijelaskan para imam dan itu hanyalah dari perkataan Ibnu Mas'ud, sebagaimana telah saya jelaskan dalam kitab Al-Bid'ah wa Atsaruha fil Umat, hal.21-22 silahkan dilihat.
[3]. Ini adalah nash yang cukup tegas dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib menghancurkan kebatilan syiah rafidhah yang menisbatkan diri mereka kepada keluarga Nabi (ahlil bait) secara dzolim dan menipu ketika mengaku-ngaku bahwa ahlil bait memiliki kitab yang berukuran tiga lipat dari Al-Qur'an yang berada di tangan kita yang mereka namakan Mushaf Fatimah. Lihat Bughyatul Murtaab karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal.321-322
[4]. Hadits Riwayat Al-Bukhariy 7/21 - Al-Fath dan Muslim 16/92-93 - An-Nawawiy dari hadits Abi Said Al-Khudriy. Dan disebutkan dalam Shahih Muslim (16/92 - An-Nawawiy) dari hadits Abi Hurairah dan ini satu kesalahan sebagaimana telah dijelaskan oleh Al-Hafidz Al-Baihaaqiy dalam Al-Madkhol Ila Sunnah hal. 113 dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bariy 7/135, untuk lebih jelasnya lihat kitab : Juz Muhammad bin Ashim An-Syuyukhihi yang saya tahqiq (13)

Ummi Fauzan said...

Assalamu'alaikum
Sudah seharusnya setiap umat Islam wajib menuntut Ilmu DIEN yang Syar'i berdasarkan Al-Qur'an wa Sunnah ala Fahmi SALAFUL UMMAH.
Bukan menurut kyai fulan, ust Fulan, syaikh fulan, etc.
Karena agama adalah Qolallohu wa Qola Rosululloh.
Dan telah di amalkan oleh generasi umat terbaik yakni para SAHABAT, TABI'IN Dan TAI' TABI'IN. Kita umat yg berada dizaman penuh FITNAH ini perlu banyak belajar dan mengkaji AL-QUR'AN & AS-SUNNAH sesuai dengan pemahaman SALAF, jangan menurut saya, menurut pendapat saya, menurut perasaan saya ?
SAYA INI SIAPA ?
SUDAH MENGUASAI QUR'AN ?
SUDAH MENGUASAI HADITS ?
SEPAHAM APA SIH KITA TENTANG QUR'AN ?
SEPAHAM APA SIH KITA TENTANG HADITS ?
DAN SEPAHAM APA SIH KITA TENTANG DIENUL ISLAM INI ?
Nggak perduli DIA seorang DOKTOR or PROFESSOR kalo bicara tentang DIEN tidak didasari dengan Al-Quran was Sunnah Ala Fahmi Salaf maka DIA termasuk orang yang JAAHIILL !!
Mari SAUDARAKU sebelum terlambat masih ada sisa waktu umur kita untuk kita gunakan hal-hal yang Ma'ruf dengan jalan BERLIMU SEBELUM BERKATA DAN BERBUAT janganlah kita menjadi Muslim yang TAQLID BUTA.
Barokallohu fiikum.
Wassalam

eddy said...

Bismillah,

"Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai."(Ali-Imran:103)

"Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa Dan Isa, yaitu: "Tagakkanlah agama dan janganlah berpecah belah tentangnya'. Amat berat bagi orang musyrik agama yang kalian seru mereka kepada-Nya."(Asy-Syura:13)

"Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka."(Ar-Rum:31-32)

"Sesunguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian, maka bertaqwalah kepada-Ku."(Al-Mu'Minun:52)

"Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang menolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita yang lain (karena)boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya allah maha penerima taubat lagi maha penyayang. Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal."(Al-Hujurat:11-13)

"Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."(Ali-Imran:134)

"Dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan adalah allah maha pengampun lagi maha penyayang."(Nur:22)

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."(Az-Zumar:10)

"Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat Rahmat."(Al-Hujurat:10)

"Dari abu Ruaqayyah, Tamim ad Dari radliyallahu 'anhu, bahwa nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda: "Dien (Ajaran Islam) itu adalah nasehat, (beliau ucapkan) tiga kali." Kami (para sahabat) berkata: "Untuk siapa, Ya Rasulullah?" Kata beliau: "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan para imam kaum Muslimin serta orang awam (rakyat)-nya."(HR. Muslim)

Anonymous said...

Heran, wong agama diturunkan 'hanya' untuk memperbaiki AKHLAK manusia.....
Kok pada ssuibuk merasa benar, memaksakan keyakinannya, menghujat orang lain, padahal dia akhir cerita selalu ditutup dgn "KEBENARAN HANYA MILIK ALLAH".... Kalau kalimat itu diyakini, seharusnya tidak satu orangpun layak menghujat orang lain, meskipun tidak seiman.

Tunjukkan saja keimanan itu dalam perbuatan.
Perbuatan Rasulullah 'hanya': Siddiq, amannah, tabligh, dan fatonah. Kalau semua ummat Islam dalam beragam aliran melakukannya, maka dijamin dunia akan makmur, sejahtera dan aman sentosa.

Untuk apa laskar-laskar itu? Memerangi orang tak sepaham? Apa hak ente menghakimi orang lain? Emangnya FPI utusan Allah? Hisab itu hak Allah, mengambil hak Allah adalah kesombongan. Kesombongan adalah selendang Allah, sesuci apa laskar-laskar itu berani2nya mengenakan selendang Allah???!

Yang perlu kita benahi tetap saja AKHLAK, itulah bukti efektif tidaknya agama dalam kehidupan.

Semoga ajaran Islam mampu mensejahterakan dunia. Amiin.

NanaS37 said...

ass....
yang penting saya Islam
jauhi larangan jalankan perintah n berbuat baik kepada sesama manusia
wasslm

Anonymous said...

wahabi tu ya salaf, walau tak semua salaf tu wahabi. cuma wahabi khan pengen kaffah, jadi sebisa mungkin menghindari qiyas (kiasan dalam bahasa indonesia). dengan begini khan interprestasi kita kepada ajaran agama islam jadi tidak terlalu jauh menyimpang.
itu aja kok.
kalau ada orang islam yang bid'ah terus masuk neraka ya wajar. orang islam yang mencuri juga khan masuk neraka.
tapi kalau sampai menyembah kubur ya maaf aja, ga bisa masuk surga.
dah ah pemahaman owe tentang islam sangat dangkal dan perlu banyak belajar.
terimakasih.
assalaamu alaikum warrahmatullahi wa barakatuhu

Anonymous said...

pokoke, yg anti tabarruk, tawassul, ziarah kubur mreka itu hujjahnya ibnutaymiyah = wahabi = salafi = yg suka ngebom sembarangan = pengecut ..!

Anonymous said...

sepanjang yang saya tahu:
1. salafi melarang kita bergolong-golongan. terbukti dengan majelisnya yang sangat terbuka.
2. salafi melarang kita mengangkat senjata kepada pemimpin muslim yang masih sholat.
3. salafi mengajarkan kita untuk tahu ilmu/dalil dari setiap ibadah yang kita amalkan, apakah sesuai dengan sunnah dan mencari lebih dalam tentang derajatnya keshahihannya.
kok bisa ya... penulis menyebut kelompok-kelompok tersebut sebagai salafi?
APA YANG SALAH DENGAN SALAFI BILA KITA MERUJUK TIGA HAL DI ATAS?

Malcreb said...

Dari mana Bung Rizkon menyimpulkan bahwa FPI itu bagian dari Neo Wahabi? Menurut saya, FPI dan Wahabi/Salafy itu berbeda. Kalau Wahabi itu gerakannya ideologis-politis, sedangkan FPI pragmatis. Kalau Wahabi tampaknya punya agenda besar untuk menghancurkan persatuan umat Islam, sedangkan FPI cuma organisasi ecek-ecek yang tujuannya cuma cari nafkah dengan cara melaksanakan pesanan dari kelompok politik tertentu yang membayarnya.Dengan kata lain, kalau Wahabi memang mempunyai agenda politik (trans-nasional)sendiri, sedangkan FPI cuma alat atau begundal dari kelompok politik tertentu.

Anonymous said...

Malcreb said...
"FPI cuma organisasi ecek-ecek yang tujuannya cuma cari nafkah dengan cara melaksanakan pesanan dari kelompok politik tertentu yang membayarnya"
Ahahaha...itu kata siapa bung? oh kata tipi ya? oke deh...

Wijhatul Haq said...

Kalau gerakan-gerakan islam seperti FPI, MMI, LJ, HTI, PKS/IM, kalau ini semuanya dikatakan/dikatogorikan berpaham akidah salaf, maka itu penilaiannnay orang awam aliyas islam abangan atau kampungan biasanya NU, maka [penialaian di atas tidak benar dan orang yang mempersepsikan tersebaut termasuk sangat mengikuti [perkembangan dunia islam jadinya seperti penilaiannya orang kurang pedalaman biasanya mereka mengatakan "kalau bukan NU pasti yaa Muhammadiyah/Wahabi" dan saya berharap kepada saudara antum harus melepaskan diri dari kejuumutan, ketaklidtan, keterbelengguan, dan keopanatikan serta keterkekangan oleh kelompok kuno sebagaimana yang telah didigembar-gemborkan oleh sang pahlawan Jaringan Iblis Laknatullah (JIL) dia adalah salah satu korban dari kejumudtan sehingga dia menemukan jati dirinya untuk menikmati kabebasan beragama atau tidak beragama atau maraka mengatakan bahwa agama adalah sebuah ekspresi jiwa dengan alasan lakum diinukum waliyadiin kata metreka, dan mereka saat ini sedang kasmaran sebab lagi kuber-kubernya untuk kebebasan mengekpresikan agama ini tidak lebih daripada sebuah label sosio, kata mereka Dan saya menyedari betul tentang hal ini siapa kalau gak kuber sebab dulunya pada awal mula rata-rata kader NU itu terlalu manut opo jare yai.. jadinya santri-satrinya kutuk, depe-depe dan cukup ngalap berkah saja. maka rata-rata dari mereka pada umumnya setelah tahu dunia luar dengan gemerlapan kemajuan dan kebebasan dia sangat terpukau dan takjub sehinngga terjadilah jawa-jiwa mereka bergejolak dan mem berontak kegirangan sehingga telah kita saksikan seperti si Ulil Raja JIL itulah salah satu bhukti serta ikon model kader-kader NU yang sangat menggelikan...?!

Anonymous said...

Ada yg merendahkan, ada yg memperolok, ada yg mengkafirkan. Lengkap sudah.
Ada yg merasa paling pintar, ada yg merasa paling benar, yg medukung pendapatnya dipuji, yg menolak dicela. Tak akan ada ujungnya.
Cukup melihat bahasa yg dipakai, kita bs tau siapa saja yg takabur disini.
Tp utk membaca ini semua telah menghabiskan wkt berjam2. Bagi yg punya kerjaan, lbh baik berkarya dr pd terlibat perdebatan ini.

Blog Aris said...

Menurut saya mereka-mereka itu Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, FPI LJ, MMI, FBR & lain-lainnya tidak jauh berbeda dengan wahabi, meskipun punya latar belakang yang berbeda, tapi akarnya sama.

Itu sudah jelas yaitu dari pan Arabisme menjadi pan Islamisme yang sempit, untuk kondisi yang ada di Indonesia paham luar / transnasional seperti Wahabi, Ikhwanul Muslimin, & Hizbut Tahrir benar-benar tidak cocok dengan kondisi masyarakat Indonesia yang ingin hidup damai, makmur, & toleran.

Semua itu hanya sempalan konflik dari negara-negara Arab karena gejala politik disana seperti Pan Arabisme / Fanatisme Arab.

Jadi sudah benarlah dulu tahun pada pertengahan 2009 ada buku yang membahas soal ini yaitu Ilusi Negara Islam yang di pelopori oleh Gus Dur, Buya Syafi’i Ma’arif, & KH. Mustafa Bisri. Yang batal terbit karena ada ancaman. Kalau tujuan utama mereka adalah politik belaka bukan untuk kebaikan agama Islam itu sendiri.

Har said...

hahahaha lucu melihat tulisan2 diatas , masing2 mengklaim golongannya paling benar , dan saling menyalahkan ... pantas mudah terpecah belah ....

Anonymous said...

Kebangkitan Wahabi sudah gilirannya, sebab masyarakat pelajar sudah banyak melirik dan tertarik terhadap pemahaman mereka (wahabi) dari segi keilmihannya dapat dipertanggung jawabkan baik sesi akademik maupun moral. Dalam argumen-argumen mereka (wahabi) sangat memukau, dalam kaidah ilmu sangat ilmiah, sistematis lagi mendalam dan mudah dicerna bergai kalangan baik kalangan awam sekalipun, apalagi para pelajar dan mehasiswa sungguh memreka sangat diuntungkan adanya perkembangan paham wahabi ini sebagai referensi penelitian dan rujukan mtentang kemislamam yang sangat moderat meskipun salaf bahwa Baratpun mengakuinya tentang metode-metosde para ulama' klasik, justru ulama kalsik kaum muslimin ini sebagai rujukan dalam teori ilmiah baik masalah ke agamaan maupun masalah ke duniaan. justru kita kaum muslimin malah meninggalkan metode mereka (para ulama' dahulu) makanya kita ambil kembali ilmu mereka jangan biarkan diambil org-org yang gak bertanggung jawab.

Kembali keopada paham Wahabi; Bahwa hati manusia tetaplah condong kepada kebenaran, mungkin saat ini mereka-mereka yang tidak sepaham terhadap paham Wahabi sangat takut lagi gencar-gencarnya membuat tipudaya fitnah dsb,.. akan tetapi ini hanya masalah waktu saja yang akan menentukan mana yang mengajak kepada yg hak (ma'ruf dan mana yg mengajak kepada yg batil (menyekutukan-Nya) nantinya akan terungkap sebab ilmulah yang akan menuntun mereka, mungkin saat-saat ini masih banyak yg curiga (tidak percaya) bisa jadi mereka (masyarakat lebih percaya kepada JIL) meskipun argumen mereka sangat comot sana comot sini aliyas amboradul dan rancau, akan tetapi kita (umat manusia) tidak mau mengorbankan akal. maka akal sehat dan hati (fitrah)lah yang akan menetukan sebagai pilijhan yang final yakni kebenaran mutlak. Al Qur'an Wasunnah ala fahmi salaful ummah.

Anonymous said...

Kebangkitan Wahabi sudah gilirannya, sebab masyarakat pelajar sudah banyak melirik dan tertarik terhadap pemahaman mereka (wahabi) dari segi keilmihannya dapat dipertanggung jawabkan baik sesi akademik maupun moral. Dalam argumen-argumen mereka (wahabi) sangat memukau, dalam kaidah ilmu sangat ilmiah, sistematis lagi mendalam dan mudah dicerna bergai kalangan baik kalangan awam sekalipun, apalagi para pelajar dan mehasiswa sungguh memreka sangat diuntungkan adanya perkembangan paham wahabi ini sebagai referensi penelitian dan rujukan mtentang kemislamam yang sangat moderat meskipun salaf bahwa Baratpun mengakuinya tentang metode-metosde para ulama' klasik, justru ulama kalsik kaum muslimin ini sebagai rujukan dalam teori ilmiah baik masalah ke agamaan maupun masalah ke duniaan. justru kita kaum muslimin malah meninggalkan metode mereka (para ulama' dahulu) makanya kita ambil kembali ilmu mereka jangan biarkan diambil org-org yang gak bertanggung jawab.

Kembali keopada paham Wahabi; Bahwa hati manusia tetaplah condong kepada kebenaran, mungkin saat ini mereka-mereka yang tidak sepaham terhadap paham Wahabi sangat takut lagi gencar-gencarnya membuat tipudaya fitnah dsb,.. akan tetapi ini hanya masalah waktu saja yang akan menentukan mana yang mengajak kepada yg hak (ma'ruf dan mana yg mengajak kepada yg batil (menyekutukan-Nya) nantinya akan terungkap sebab ilmulah yang akan menuntun mereka, mungkin saat-saat ini masih banyak yg curiga (tidak percaya) bisa jadi mereka (masyarakat lebih percaya kepada JIL) meskipun argumen mereka sangat comot sana comot sini aliyas amboradul dan rancau, akan tetapi kita (umat manusia) tidak mau mengorbankan akal. maka akal sehat dan hati (fitrah)lah yang akan menetukan sebagai pilijhan yang final yakni kebenaran mutlak. Al Qur'an Wasunnah ala fahmi salaful ummah.

Wijhatul Haqy said...

Kebangkitan Wahabi sudah gilirannya, sebab masyarakat pelajar sudah banyak melirik dan tertarik terhadap pemahaman mereka (wahabi) dari segi keilmihannya dapat dipertanggung jawabkan baik sesi akademik maupun moral. Dalam argumen-argumen mereka (wahabi) sangat memukau, dalam kaidah ilmu sangat ilmiah, sistematis lagi mendalam dan mudah dicerna bergai kalangan baik kalangan awam sekalipun, apalagi para pelajar dan mehasiswa sungguh memreka sangat diuntungkan adanya perkembangan paham wahabi ini sebagai referensi penelitian dan rujukan mtentang kemislamam yang sangat moderat meskipun salaf bahwa Baratpun mengakuinya tentang metode-metosde para ulama' klasik, justru ulama kalsik kaum muslimin ini sebagai rujukan dalam teori ilmiah baik masalah ke agamaan maupun masalah ke duniaan. justru kita kaum muslimin malah meninggalkan metode mereka (para ulama' dahulu) makanya kita ambil kembali ilmu mereka jangan biarkan diambil org-org yang gak bertanggung jawab.

Kembali keopada paham Wahabi; Bahwa hati manusia tetaplah condong kepada kebenaran, mungkin saat ini mereka-mereka yang tidak sepaham terhadap paham Wahabi sangat takut lagi gencar-gencarnya membuat tipudaya fitnah dsb,.. akan tetapi ini hanya masalah waktu saja yang akan menentukan mana yang mengajak kepada yg hak (ma'ruf dan mana yg mengajak kepada yg batil (menyekutukan-Nya) nantinya akan terungkap sebab ilmulah yang akan menuntun mereka, mungkin saat-saat ini masih banyak yg curiga (tidak percaya) bisa jadi mereka (masyarakat lebih percaya kepada JIL) meskipun argumen mereka sangat comot sana comot sini aliyas amboradul dan rancau, akan tetapi kita (umat manusia) tidak mau mengorbankan akal. maka akal sehat dan hati (fitrah)lah yang akan menetukan sebagai pilijhan yang final yakni kebenaran mutlak. Al Qur'an Wasunnah ala fahmi salaful ummah.

beloved makkah said...

tolong terbitin ya...

Anonymous said...

EMANG WAHABI SUKA USIL
NYETEL CERAMAH BID'AH2IN ORANG TAHLIL, ORANG ZIARAH, PAKE SEPIKER MASJID.

SUKA MANAS2IN PAHAM LAIN

DASAR USIL....


PAKE CELANA BUNTUNG...ENTE NYONTOH SIAPE TUH CELANA....BULE...

Abu Fathan said...

inilah wahabi sesungguhnya http://kampungsalaf.wordpress.com/2011/09/14/inilah-wahhabi-sesungguhnya%E2%80%A6/

Anonymous said...

saya kira intelektual NU gak subjektif spt diakar rumputnya, sama2 juga rupanya. Sungguh saya sangat kecewa tapi mudah2an tid seluruh intelektual NU spt anda. Mulailah analisis dg objektif, kuasai materi secara komprehensif, hilangkan dulu membela kelompok atau hindari stigma negatif thd kelompok lain. itu sbg saran saja.

Yadis said...

fpi sudah jelas alat wahabi, awalnya memberantas pelacuran, setelah mempunyai kekuatan penuh, pasti membunuh semua para peziarah kubur. warga NU banyak yang ketipu... tapi tidak bagi saya, dan gusdurian lainnya. tp alhadulallah.. semuanya sudah reda, namun suatu saat para anti maulid nabi dan anti solawat akan mencari jalan yang lebih jitu,..