Renungan & Kegelisahan

Thursday, January 07, 2010

Studi Gerakan Pembaruan Sayyid Ahmad Khan


Gerakan pembaruan Aligarh yang muncul pada akhir abad ke-19 di Anak Benua India adalah refleksi gambaran masyarakat negara bagian Uttar Pradesh (UP) khususnya, dan Muslim India pada umumnya. Gerakan ini terlihat penting karena gerakan ini berpengaruh pada kehidupan agama, sosial, dan politik masyarakat Muslim di Anak Benua India, dan pengaruhnya terasa hingga abad ke-20 di kemudian hari. Pengaruh luas ini didorong oleh sosok besar sang pemimpin, Sayyid Ahmad Khan, seorang pemikir cerdas, pembaru sosial yang mumpuni, penulis berani, dan pemimpin politik yang baik, serta seorang agamawan handal. Pendirian kampus Aligarh menjadi pemicu gerakan pembaruan Sayyid Ahmad Khan sedikit melenceng dari yang ia harapkan sejak semula. Bagaimana ini bisa terjadi, dan kenapa?

***


MANUSIA DAN PERUBAHAN SOSIAL: STUDI GERAKAN PEMBARUAN SAYYID AHMAD KHAN DI INDIA

Oleh: H.A. Rizqon Khamami, Lc., M.A.

Penulis adalah dosen STAIN Tulungagung, Jawa Timur, menyelesaikan S1 pada Saddam University for Islamic Studies, dan S2 dari Jamia Millia Islamia, New Delhi, India


Gerakan pembaruan Aligarh yang muncul pada akhir abad ke-19 di Anak Benua India adalah refleksi gambaran masyarakat negara bagian Uttar Pradesh (UP) khususnya, dan Muslim India pada umumnya. Gerakan ini terlihat penting karena gerakan ini berpengaruh pada kehidupan agama, sosial, dan politik masyarakat Muslim di Anak Benua India, dan pengaruhnya terasa hingga abad ke-20 di kemudian hari. Pengaruh luas ini didorong oleh sosok besar sang pemimpin, Sayyid Ahmad Khan, seorang pemikir cerdas, pembaru sosial yang mumpuni, penulis berani, dan pemimpin politik yang baik, serta seorang agamawan handal. Karena itu tidak mengherankan jika gerakan pembaruan Aligarh ini menjadi sumber kajian hingga saat ini, dan pemikirannya telah banyak dikupas oleh para pakar sejarah, sarjana politik dan peneliti agama. Gerakan Aligarh menggegerkan dunia pemikiran Islam. Sebagian sarjana menyebut gerakan ini sebagai sebuah gerakan modern dan agresif, tetapi tidak sedikit kalangan menyebut gerakan ini sebagai reaksionaris. Pembaruan Sayyid Ahmad Khan dalam gerakan Aligarh akan kita kaji dalam tulisan ini dari sudut analisa sosiologi seputar kelahiran dan dampak gerakan ini.

Awalnya sarjana sosiologi yang mempelajari pembaruan sosial ini melihatnya sebagai dampak dari faktor-faktor yang menyelubunginya, seperti urbanisasi, politik, hukum, pendidikan, dan lain sebagainya. Saat ini ada metode pembacaan sosiologi dengan penekanan pada cara dimana manusia dengan sadar dan secara sengaja dapat memunculkan perubahan atau menentang suatu perubahan dan memunculkan perubahan melalui gerakan sebagai agen perubahan yang aktif. Killain memunculkan studi gerakan sosial dengan mengatakan bahwa studi semacam itu berkembang ketika orang menyadari bahwa mereka tidak hanya makhluk perubahan tetapi juga pembuat perubahan. Pandangan ini mengantarkan kita pada analisa sosiologi tentang peran manusia pada perubahan sosial.

KARISMA DAN PERUBAHAN SOSIAL
Sebuah gerakan tidak hanya menghasilkan perubahan sosial tetapi pada dirinya adalah produk kondisi sosial tertentu. Kelahiran gerakan Aligarh haruslah diruntut hingga pada kondisi-kondisi yang menyebabkan kemunculan tokoh pemimpin karismatik dan adanya sebuah ideologi. Max Weber memunculkan konsep tentang karisma dengan membedakan tiga cara dimana kekuasaan dilegitimasikan sebagai otoritas. Kekuasaan menjadi stabil di masyarakat hanya ketika mereka yang di kekuasaan tersebut adalah mereka yang menuruti keyakinan mereka sendiri dan dengan sadar bertindak untuk mematuhinya. Turner meringkas tiga cara legitimasi sebagai otoritas sah yang didasarkan pada keabsahan peraturan-peraturan yang tidak berwujud dan prosedur untuk membuat dan mengaplikasikannya; Otoritas tradisional didasarkan atas kepercayaan pada pratek-praktek yang berstandar yang diperkuat oleh adat/kebiasaan; sedang otoritas karismatik didasarkan pada kepercayaan pada kualitas luar biasa seseorang . Dalam menjelaskan konsep karisma, Weber menguraikan bahwa “kualitas tertentu seseorang yang berbeda dari kebanyakan orang awam, dianggap sebagai anugerah supernatural, dan sebagai manusia super. Yang demikian itu, diyakini, tidak diperoleh oleh manusia biasa, tetapi bahkan dianggap datang dari Tuhan. Dan berangkat dari hal tadi, orang tersebut dianggap dan diperlakukan sebagai tokoh .

Karenanya, karisma merujuk pada kualitas yang membuat seseorang menjadi pemimpin di mata pengikutnya. Hal tersebut adalah anugerah yang dengannya orang tersebut dipercaya memiliki daya tarik besar di mata pengikutnya, dan memberinya legitimasi pada kepemimpinannya. Dan wujud sempurna orang semacam itu adalah para nabi, para pemimpin politik dan militer. Otoritas karismatik bertentangan dengan hukum dan otoritas tradisional. Bentuk-bentuk otoritas lainnya adalah hal rutin, tetapi karisma menandai terpisahnya hal-hal rutin dari masa lampau dan memunculkan perubahan sosial yang dikatakan oleh Bendix sebagai sosiologi inovasi. Seorang karismatik merupakan sumber kekuatan inovatif, dan kelahiran gerakan perubahan semacam ini dapat memunculkan pemimpin-pemimpin besar. Untuk memahami kelahiran sebuah gerakan, diperlukan konsep karisma dalam pengertian sosiologi, bukan psikologi. Karenanya, karisma bukanlah kualitas seseorang tetapi sebuah akibat dari kondisi masyarakat. Kelahiran sebuah gerakan hendaklah dilihat dari kondisi-kondisi ini. Weber mengungkapkan bahwa karisma muncul dalam kondisi krisis, dan Ooman menambahkan adanya ketidakpuasan yang tidak tersalurkan, kegagalan mengatasi problem, dan patronase yang diberikan oleh kelompok-kelompok berkepentingan, termasuk mereka yang berada dalam otoritas. Karisma muncul dalam kondisi semacam itu dan karena itulah kualitas seseorang yang punya karisma memungkinkan dirinya untuk mengkristalkan sebuah ideologi guna menyesuaikan dan mengakomodir kondisi-kondisi tersebut.

Otoritas karismatik secara inheren tidak stabil, dan selalu berubah-rubah. Hal tersebut adalah wujud eksternalisasi karisma, dan berakibat pada pelembagaan gerakan sosial dalam bentuk organisasi. Dan tidak jarang gerakan tersebut kehilangan arah dalam upayanya merubah masyarat. Banyak pakar sosiologi telah melakukan observasi akan hilangnya karakter inovatif gerakan ini. Alasan untuk hal tersebut adalah bahwa organisasi yang dibentuk dalam sebuah gerakan yang terdiri dari sekelompok orang pengikut, bertidak sebagai pembawa ideologi sang pemimpin tersebut. Ideologi sang pemimpin bisa saja memunculkan perubahan, tetapi hilangnya karakter inovatif ini karena sebuah ideologi mengalami penyesuaian dengan kebutuhan dan kepentingan kelompok “pembawa ideologi” tersebut. Sebuah ideologi harus memiliki “pengikut” demi menjamin kesuksesan sebuah gerakan, dan gerakan tersebut akan gagal mempengaruhi masyarakat jika tidak ada “pembawa”, dan tentang penyesuaian ideologi ini Gerth dan Mills menyatakan: “Karena doktrin awal mengalami demokratisasi, secara intelektual mereka menyesuaikan dengan kebutuhan pengikut ajaran sang pemimpin. Jika tidak bisa beradaptasi sedemikian rupa, lantas, ia akan terlepas dari prestasi-prestasi intrinsik, pesan-pesan tersebut akan gagal mempengaruhi perilaku kehidupan sehari-hari, dan menjadi asing di mata masyarakat luas.”

Kelahiran gerakan Aligarh dapat dilihat dari kacamata tersebut, dengan kemunculan Sayyid Ahmad Khan sebagai pemimpin karismatik dan adanya kristalisasi ideologi dalam tulisan-tulisannya. Kualitasnya memungkinkan Sayyid Ahmad Khan memformulasikan ideologi yang mampu mengakomodir kondisi umat Islam di abad ke-19. Komunitas Muslim pada masa itu dalam keadaan krisis menyusul runtuhnya tatanan lama saat umat Muslim menikmati keunggulan kultural dan kekuasaan di bawah kerajaan Islam Mughal. Ketidak puasan warga Muslim India disebabkan karena kolonial Inggris telah menggantikan posisi mereka dalam kekuasaan dan politik. Ketidakpuasan ini bertambah kuat dengan kegagalan gerakan Wahabi, dan pemberontakan menegakkan kembali kerajaan Islam. Dengan kegagalan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Inggris, Sayyid Ahmad Khan akhirnya meminta patronase Inggris terhadap Muslim. Gerakan ini dimulai dengan munculnya ideologi untuk menterjemahkan kondisi-kondisi tersebut dan memberikan resep-resep penyelesaian dengan bentuk sebuah gerakan pembaruan untuk memperbaiki atau merubah aspek-aspek kehidupan sosial dan kultural Muslim sesuai dengan rasionalisme dan sains modern dengan menghindarkan diri dari benturan langsung dalam aspek politik yang berarti akan menantang secara langsung kekuasaan kolonial Inggris. Ideologi gerakan Sayyid Ahmad Khan adalah untuk menghilangkan adat dan kebiasaan Muslim yang menjadi penghalang kemajuan dengan menafsirkan ajaran agama atas dasar akal dan sains. Sasaran gerakan ini adalah untuk meningkatkan tersebarnya kemajuan dan kebudayaan, dan untuk tujuan tersebut Sayyid Ahmad Khan mendirikan organisasi.

KARISMA: SAYYID AHMAD KHAN DAN KEMUNCULAN IDEOLOGI
Seorang pemimpin dianugerahi karisma karena kualitasnya, dan karena itu kita perlu untuk mengetahui pengaruh-pengaruh yang membentuk Sayyid Ahmad Khan hingga ia memiliki kualitas-kualitas tersebut. Sayyid Ahmad Khan dilahirkan dan dibesarkan di rumah kakeknya di Delhi, dan pengaruh sang kakek pada Sayyid Ahmad Khan muda sangat mendalam sebagaimana terlihat pada fakta bahwa ia menulis biografi sang kakek di kemudian hari. Khwaja Farid, sang kakek, adalah orang yang terhormat pada zamannya. Pemerintah kolonial Inggris mengangkatnya menjadi kepala madrasah di Calcutta, sebuah madrasah yang didirikan pada tahun 1781 oleh Warren Hasting. Ia dikenal memiliki kemampuan diplomatis, dan pemerintah kolonial Inggris mengangkatnya menjadi duta besar untuk Iran dan Burma. Karena itu ia memiliki hubungan dekat tidak hanya dengan istana Mughal, tetapi juga dengan West India Company. Ia juga memiliki hubungan bersahabat dengan British Resident di Delhi, Jenderal David Ochterkeney. Sayyid Ahmad Khan menceritakan sebuah kejadian saat ia masih berumur 4 atau 5 tahun. Suatu hari, saat ia menuju kamar kerja sang kakek, ia melihat sang Jenderal sedang berbincang-bincang dengan sang kakek. Kakeknya meminta Sayyid Ahmad Khan untuk menyapa dengan sang Jenderal, “Mengapa anda memakai bulu burung di topi anda, dan kenapa anda memiliki banyak kancing di jas?” Tanya Sayyid Ahmad Khan kecil dan sang Jenderal memperlihatkan rasa senang dengan pertanyaan tersebut. Kejadian tersebut meninggalkan kesan mendalam akan arti sebuah nilai persahabatan dan keuntungan-keuntungan bekerja sama dengan kolonial Inggris.

Kematian sang ayah pada tahun 1838 menimbulkan perubahan pada hidup Sayyid Ahmad Khan. Karena gaji yang diterima dari istana Mughal tidak lagi mencukupi untuk biaya hidup keluarga, ia memutuskan menjadi pegawai East India Company. Ia magang di kantor pengadilan di bawah kepimpinan pamannya yang menjadi Sadr Amin (hakim) di Delhi. Ia dengan cepat menguasai prosedur peradilan dalam beberapa bulan saja, dan ia diangkat menjadi Shrishtedar (jurutulis) di kantor peradilan Sadr Amin. Ia ditugaskan ke Agra tahun 1839 sebagai Naib Munshi, dan lalu ke Fatehpuri Sikri tahun 1841 sebagai Munsif (hakim muda). Pada saat kematian saudaranya, ia berupaya untuk bisa ditugaskan kembali di Delhi agar bisa menemani sang ibu yang sedang berduka. Ia diangkat sebagai munsif di Delhi pada tahun 1846, dan ia bertugas pada jabatan ini hingga 1855. Sayyid Ahmad Khan ditugaskan di Bijnor tahun 1855 sebagai Sadr Amin. Ia berada di tempat ini saat meletus pemberontakan 1855. Ia tetap loyal pada jabatannya dan mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan sebuah keluarga Inggris di daerah tersebut. Sir John Strachery, Gubernur Letnan daerah Uttar-Pradesh kemudian menghargai kebaikan tersebut dalam kata-kata berikut ini: “tidak seorangpun pernah memberikan bukti mulia atas keberanian nyata dan kesetiaan tinggi pada pemerintah kolonial Inggris dibandingkan dengan yang telah diberikan oleh Sayyid Ahmad Khan pada 1857, tak ada bahasa apapun yang dapat digunakan untuk menjelaskan nilai kesetiaan yang telah diperlihatkannya.”

Ia setia kepada kolonial Inggris karena jelas sekali sejak awal bahwa kekuasaan kolonial Inggris akan terus menguat. Ia menyadari bahwa keselamatan umat Islam untuk masa-masa mendatang berada di tangan kolonial Inggris baik secara politik, maupun secara budaya. Ia menghabiskan hampir 10 tahun pada akhir masa hidupnya dalam upaya rekonsiliasi antara Muslim dan Inggris. Misi rekonsiliasi Sayyid Ahmad Khan dalam politik dan kebudayan antara Muslim dan Inggris setelah meletus pemberontakan tersebut dianggap sebagai pengantar pada gerakan pembaruannya. Dalam masa 10 tahun tersebut, ia yakin bahwa kekuasaan Inggris tidak semata-mata mewakili perubahan politik, tetapi juga perubahan kultur. Kemajuan dan peradaban di Eropa didasarkan pada pemikiran tentang akal dan sains, dan orang-orang India harus menanamkan ide-ide tersebut. Ini adalah ideologi gerakan pembaruan Sayyid Ahmad Khan dan diperkuat lagi dengan kunjungannya ke Inggris dari April 1869 hingga September 1870.

Sekembali Sayyid Ahmad Khan dari negeri Inggris pada Septemer 1870 ia memutuskan bahwa perbedaan besar apa yang dilihatnya di Eropa dan kondisi sesungguhnya di India harus dijembatani. Ia mempelajari selama dalam kunjungannya bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan menyebarkan semangat kemajuan dan peradaban kepada orang-orang India. Ia memulai dengan sebuah gerakan reformasi soial dengan mencetak kehidupan sosial Muslim India agar sesuai dengan kemajuan dan peradaban. Ideologi pergerakannya dikristalisasikan dalam jurnal Tahzib-ul-Akhlaq, dengan edisi pertama jurnal ini muncul pada tanggal 24 desember 1870. Jurnal tersebut digunakan untuk menyebarkan ide-ide pemikiran pada Muslim India dengan menghilangkan tradisi dan adat yang menghambat kemajuan dan peradaban. Sayyid Ahmad Khan menulis tafsir-ul-qur’an untuk memperlihatkan keselarasan antara Al Qur’an dan semangat abad modern dengan mendasarkan diri pada akal dan sains. Berangkat dari kenyataan bahwa hukum alam adalah ciptaan Tuhan, sementara Al Qur’an merupakan wahyu Tuhan, karena itu tidak akan ada kontradiksi antara keduanya, antara firman Tuhan dan Karya Tuhan, antara wahyu dan akal. Sayyid Ahmad Khan memperlihatkan keharmonisan antara Al Qur’an dan alam karena wahyu Al Qur’an didasarkan pada akal, dan yang demikian itu adalah alami. Semua makhluk hidup dianugerahi instint yang menggerakkannya menentukan sebuah tindakan, sedangkan manusia dianugerahi akal yang menentukan sebuah tindakan, dan yang demikian itu adalah bentuk instint dalam diri manusia. Manusia menerima wahyu melalui akal sebagai anugerah khusus bagi manusia dalam kerangka keteraturan alam. Akal tidak seragam untuk setiap orang, dan seorang filosof, negarawan, dan nabi memiliki akal yang lebih jernih. Nabi mempunyai bentuk akal yang tertinggi, dan wahyu yang datang seperti pancaran . Karena itu, wahyu adalah alami karena didasarkan pada akal dimana dengan wahyu seorang nabi dianugerahi instint yang melekat . Begitu juga elemen supranatural lainnya dalam Al Qur’an seperti mu’jizat, malaikat, setan, surga, dan neraka, ruh, dan lain-lain, dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang selaras dengan alam. Sayyid Ahmad Khan membatasi diri pada tafsir Al Qur’an karena Al Qur’an satu-satunya sumber otentik. Tafsir Al Qur’an Sayyid Ahmad Khan merupakan modal gerakan pembaruannya. Tampak jelas bahwa ide-ide keagamaan Sayyid Ahmad Khan sesuai dengan tuntutan masa itu. Ia menafsirkan Islam dalam semangat abad modern untuk kemajuan umat Muslim. Visinya tentang umat Muslim modern memperlihatkan bahwa ia ingin mengkombinasikan Islam dengan filsafat rasional dan sains. Ia menegaskan, “filsafat berada di tangan kanan kita, sementara sains di tangan kiri, sedang kalimat syahadat menjadi mahkota kepala kita.

PELEMBAGAAN GERAKAN DAN IDEOLOGI
Sayyid Ahmad Khan mendirikan beberapa organisasi sebagai alat ideologi gerakannya untuk kemajuan peradaban di kalangan masyarakat Muslim. Salah satu lembaga paling penting adalah Muhammadan Anglo Oriental College yang didirikan di Aligarh pada tahun 1877. Ia ingin menggunakan kampus ini sebagai pusat gerakan perubahan sosial masyarakat Muslim dengan mempropagandakan ideologi penafsiran Islam dengan dasar riset dan sains. Ia mengumpulkan dana untuk pendirian kampus ini melalui panitia pendanaan kampus yang mulai bekerja pada tahun 1872. Kesulitan utama Sayyid Ahmad Khan dalam mengumpulkan sumbangan dikarenakan pemikiran keagamaannya yang ia ungkapkan dalam tahzib-ul-Akhlaq, dan dalam tafsir Al Qur’annya. Ia dikritik sebagai penentang prinsip-prinsip baku Islam, dan para pengkritik menentang pendirian kampus tersebut karena mereka melihat bahwa kampus tersebut akan digunakan sebagai media penyebaran pemikiran-pemikirannya kepada mahasiswa.

Saat ia tanya kepada salah satu anak buahnya, apakah ia akan memperoleh satu juta rupees dari masyarakat sebagai sumbangan untuk kampus tersebut, ia mendapat jawaban, “Apakah pikiran anda sehat? Bahkan anda tidak mendapatkan satu senpun dari mereka”. Beberapa tokoh penting penentang Sayyid Ahmad Khan adalah Imdad Ali dan Ali Baqsh, dan mereka menerbitkan jurnal untuk menentang dan menyangkal pemikiran keagamaan Sayyid Ahmad Khan Imdad Ali berpedoman pada fatwa-fatwa ulama dari Delhi, Rampur, Moradabad, Amroha, Bareilly, Lucknow, dan Bhopal dalam penentangannya. Ali Baqsh meminta fatwa kepada seorang ulama di Mekkah, dengan bertanya: “Apa pendapat anda berkenaan dengan keabsahan sebuah institusi yang didirikan oleh seseorang yang tidak mempercayai wujud setan, yang menolak perjalanan isra’ mi’raj dengan badan wadag Nabi SAW, yang tidak mempercayai cerita Nabi Adam, yang memaksa umat Muslim untuk mengikuti orang-orang Inggris; yang berpendapat bahwa semua pelajaran keagamaan di perpustakaan Islam tidak diperlukan lagi; dan merasa perlu mendirikan sebuah kampus untuk mengajarkan filsafat modern. Saat ini, saya ingin mengetahui apakah sah di mata agama Islam seorang Muslim membantu kampus tersebut?”
Jawaban yang didapat: “Dalam kasus seperti ini, tidak dibenarkan membantu lembaga tersebut. Semoga Allah menghancurkan lembaga tersebut dan pemimpinnya. Tidak seorang pun Muslim dibenarkan memberikan bantuan untuk pendirian lembaga semacam itu. Justru kewajiban bagi mereka yang beriman adalah menghancurkannya jika telah didirikan, dan mengutuk siapapun yang terkait dengan lembaga tersebut.”

Sayyid Ahmad Khan juga ditentang oleh ulama-ulama Darul Ulum Deoband Maulana Muhammad Qasim Nanvatawi dan Rashid Ahmad Gangohi, atas pemikiran-pemikiran keagamaannya. Maulana Nanvatawi mengungkapkan kegembiraannya dengan adanya pendidikan dan usaha mensejahterakan masyarakat, namun tidak senang dengan pemikiran-pemikiran agamanya. Sayyid Ahmad Khan pernah menulis kepada salah satu temannya, Munshi Muhammad Arif, berharap dengan penuh kerendahan hati akan kunjungan sang Maulana. Maulana Nanvatavi segera menjawab ketika pesan itu sampai kepadanya dan menulis: “Iya, bagiku itu baik-baik saja, dengan dasar apa yang saya dengar tentang Sayyid Ahmad Khan bagi kesejahteraan umat Muslim, saya mengutarakan rasa persahabatan dan rasa cinta saya kepadanya, tetapi saya juga terluka dan kecewa dengan apa yang telah diberitahukan kepada saya tentang pandangannya tentang keyakinannya terhadap Islam.” Maulana Gangohi juga mengungkapkan tanggapan atas pemikiran-pemikiran Sayyid Ahmad Khan, ia takut hal tersebut akan merusak orang lain, dan karenanya melarang siapapun untuk bekerjasama dengannya. Ia mengatakan: “Sayyid Ahmad Khan bisa saja berniat baik, tapi sebaliknya ia memberikan manisan beracun yang mematikan. Karena itu janganlah mengikutinya.”

Pemikiran agama Sayyid Ahmad Khan menimbulkan badai protes, dan mereka yang menentangnya melancarkan kampanye keras perlawanan. Bahkan seseorang telah menulis surat tanpa nama terang kepadanya dengan isi ancaman pembunuhan. Orang-orang memaki dan memfitnahnya, dan memanggil nama Sayyid Ahmad Khan dengan julukan yang melecehkan seperti: dahariya (ateis), kristiani, dan nechari (naturalis). Mereka juga mengecamnya karena ia telah menyesatkan banyak anak-anak muda. Salah satu pengecam adalah Jamaluddin al-Afghani sejak kedatangannya di India sepulang dari Eropa, dari 1879 hingga 1882. Oposisi hebat pada pemikiran Sayyid Ahmad Khan membuat dirinya dan panitia pendanaan kampus kesulitan untuk mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Pelaksanaan rencana pendirian lembaga pendidikan Islam tersebut memaksa dirinya untuk melepaskan ideologi pembaruan sosial radikal yang didasarkan pada pembaruan agama Islam. Dalam hal ini, gerakan tersebut kehilangan karakter inovatif. Sumbangan uang akan mengalir hanya jika Sayyid Ahmad Khan dapat meyakinkan pihak panitia pendaan kampus bahwa ia tidak akan mengajak para mahasiswa mengikuti pemikiran pembaruan agamanya, dan jurnal Tahzib-ul-Akhlaq tidak disebarkan di area kampus. Sebagai akibatnya ia harus menarik diri secara total dari pengajaran agama di kemudian hari dan 1875 panitia pendanaan kampus membentuk dua panitia kecil yang punya otonomi mewakili kelompok sunni dan syiah dengan control penuh pada syllabus, buku-buku dan metode pendidikan keagamaan di kampus tersebut. Sayyid Ahmad Khan harus membuat kampus yang dapat diterima masyarakat, dan karena itu panitia kecil tersebut harus berada di tangan ulama untuk menjamin pendidikan agama tetap pada jalur pemikiran tradisional. Menurut M. Mujeeb: “dari silabus akidah agama yang diajarkan di kampus tersebut, tampak seakan-akan ia mengajukan penawaran, dan meminta masyarakat untuk menerima kampus tersebut, dengan syarat pemikiran-pemikiran barunya tentang Islam tidak diajarkan di kampus tersebut.”

DAMPAK GERAKAN
Dampak gerakan ini perlu dikaji dengan menguji alasan adanya jurang besar antara ideology gerakan pembaruan tersebut dengan apa yang telah dicapai. Untuk itu kita harus melihat adanya kepentingan kelompok pengikut Sayyid Ahmad Khan dalam organisasi bentukannya. Ia adalah seorang pemimpin karismatik dan mampu menarik banyak pengikut karena kualitasnya. Namun ideologi Sayyid Ahmad Khan menyesuaikan diri dengan kepentingan dan kebutuhan pengikutnya yang selama ini bertindak sebagai penyokong ideologinya dan sebagai penjamin kesuksesan gerakan ini. Kepentingan dan kebutuhan kelompok Muslim Uttar Pradesh berdampak pada adanya jurang lebar antara ideologi gerakan pembaruan sosial gerakan ini dengan apa yang telah dicapainya. Masyarakat Muslim India tidaklah seragam, homogen, dan komunitas yang monolitik, beragam secara sosial dan ekonomi di berbagai wilayah.

Kelompok Muslim Uttar Pradesh yang bertindak sebagai pembawa panji ideologi Sayyid Ahmad Khan yang secara ekonomi dan tingkat pendidikan lebih tinggi dibanding Muslim di wilayah lain memiliki kepentingan diri untuk mempertahankan jabatannya dalam pemerintahan. Mereka adalah para pengikut organisasi bentukan Sayyid Ahmad Khan dan mereka adalah pendukung kuat kesuksesan gerakannya. Jurang antara ideologi gerakan dan pembaruan sosial dengan apa yang telah dicapai oleh gerakan ini karena harus menyesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan kelompok ini. Ideologi gerakan ini untuk menciptakan pembaruan sosial dengan dasar tafsiran-tafsiran baru Islam harus ditinggalkan dalam dunia pendidikan karena penentangan oleh masyarakat pada pemikiran-pemikiran Sayyid Ahmad Khan dapat menghambat berdirinya kampus Aligarh. Pemikiran-pemkiran Sayyid Ahmad Khan terlihat modern,namun gagal dalam implementasi ideologinya dalam organisasi kampusnya. Pelembagaan gerakan tersebut justru menimbulkan dampak dijadikannya pengajaran Islam tetap seperti cara tradisional. Pembaruan Sayyid Ahmad Khan yang didasarkan pada penafsiran Islam sejalan dengan akal dan sains kurang sukses meskipun sukses secara sosial.
Wallahu a’lam



0 Comments:

Post a Comment

<< Home