Renungan & Kegelisahan

Thursday, December 02, 2004

Kudeta Saja PBNU

Melihat jalan NU struktural menjelang Pemilu Presiden RI, 2004, lebih ngurusin kekuasaan, dan minimnya akomodasi peran anak muda disitu, apa yang harus anak-anak mudanya perbuat? Kudeta saja PBNU

***

Kawan-kawan milis KMNU2000,

Di milis PKB, sekarang lagi hangat bagaimana anak muda NU harus bertindak. Melihat jalan NU struktural selama ini lebih ngurusin kekuasaan, dan minimnya akomodasi peran anak muda disitu, apa yang harus anak-anak mudanya perbuat?

Tadinya saya berharap, Pengurus Cabang Istimewa NU (PCI-NU) di Luar Negeri, terutama Mesir dan Malaysia, bisa memunculkan gagasan revolusioner sapanjang Muktamar kemaren. Kedengarannya, sih, tidak. Sepertinya malah terbawa arus, ikut-ikutan mendukung Hasyim. Harapan tentang peran PCI Mesir dan Malaysia ini saya simpan saja sejak kemaren, meskipun sejak awal saya ragu, karena memang sebelum berangkat ke Muktamar, saya tahu, dua cabang "anak muda" ini sudah "terkooptasi", dan mengantongi nama Hasyim sejak sebelum berangkat. Sampai detik terakhir, harapan saya tersebut pupus, minimal, dua cabang kumpulan anak muda ini, kagak sampai menciptakan isu sensasional, dan mengusulkan nama alternatif lain, ketika kita tahu nama Pak Masdar kagak bakalan laku di Muktamar. Semestinya nama seperti Fajrul Falaakh harus dimunculin.

PCI Saudi Arabia saya tidak tahu banyak.

Sedang untuk PCI UK, sejak awal saya berkeyakinan, Mbah Aji Hermawan mengakomodasi semangat mudanya. Tapi kok kagak kedengaran? Saya tidak tahu.

Biarkan Gus Dur membuat NU tandingan. Biarkan NU struktural sekarang berjalan untuk mengorek-ngorek jabatan dan kekuasaan, dan menjadikan NU sebagai kendaraan untuk itu semua. Anak muda NU pun harus bergerak dengan agendanya sendiri: KUDETA SAJA PBNU

Siapa takut???????


http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/message/15367



1 Comments:

  • http://groups.yahoo.com/group/puisisaja/message/2104/

    From: JJ. KUSNI
    Date: Sat Dec 4, 2004 2:36 am
    Subject: SANSANA DESEMBER [4]: DI TUNGGU ESOK


    SANSANA* DESEMBER[4]

    4. Di tunggu Esok

    [Kepada Rizqon Khamami]


    usai pertemuan hari itu berita koran membuatmu diam
    tak tertahan tinjumu menghempas muka meja dan
    dari kursi di hadapan aku melirik paham
    memandangmu mondar-mandir di ruang


    -- kita kalah, bukan? mengapa?
    adakah jawabnya pada kepalan berang di atas meja
    kau kalah tapi masih punya nyawa
    tidak menjadi martir seperti mereka di tahun '65
    kau kalah dan aku pun kalah
    dan tentu kau tak menuliskan kata nasib
    di hadapan tandatanya mengusik hati


    kukira kalah dan menang
    jalan pulang
    pasukan cadangan
    sekian ketiba-tibaan
    di peta rencana tempur panglima
    kongkret tertera
    bagian dari hitungan sangat rapi
    apalagi kita memang bukan barisan hura-hura


    aku sendiri sudah lama tidak lagi gemetar menapak jalan kembara
    pahit manis, suka duka mengalir di parit-parit dahi
    tahu seperti musim dingin sekarang
    mei nanti akan berlalu
    agustus menghangatkan kembali bumi
    kekalahan barangkali tanda kekurangan
    tanda kesalahan membaca isyarat medan
    pusaka lama tak lagi tanggap zaman bukan dasar hitungan


    - lalu?
    + kalau setuju
    seperti ntis bilang
    peta di tembok itu kita kaji ulang
    mata kita basuh untuk jelas membaca segala


    belum luruh bintang
    tak jatuh matahari
    langit pun tak runtuh
    kita ditunggu esok


    Paris, Desember 2004.
    --------------------
    JJ.KUSNI


    Catatan:

    *Sansana: bentuk puisi lisan paling populer sampai sekarang di suku Dayak Katingan, Kalimantan Tengah.

    By Blogger Najlah Naqiyah, at 7:55 AM  

Post a Comment

<< Home