Renungan & Kegelisahan

Tuesday, November 25, 2003

Bingkisan Lebaran dari India

Hari ini, 25 November 2003, Indonesia lebaran. Di ujung barat, di Timur Tengah, beberapa negara Arab menyertai.

Menurut laporan Metro-TV, di Iraq, lebaran sudah dirayakan kemarin. Saya menduga, Iraq masuk ke bulan baru Syawal pada saat negara lain menyempurnakan (takmil) puasa menjadi 30 hari. Iraq berpuasa selama 29 hari, dan 30 hari buat negara-negara lainnya. Wallahu a'lam, hanya Allah yang tahu.

Ala kullin, saya ucapkan selamat berlebaran pada teman-teman yang berada di negara-negara tersebut di atas.

Namun, kami warga muslim di India masih berpuasa. Hari ini, kami masih berpuasa, bukan karena langit mendung, sehingga `bulan baru' sulit terlihat, tetapi karena hari ini kami baru masuk pada hari yang ke-29. Nah, baru sore inilah kami akan melihat hilal. Jadi, kami di India dari Indonesia tertinggal sehari. Ini tidak membuat saya bertanya-tanya, karena selama ini juga begitu: India selalu terlambat sehari dari Indonesia. Bahkan, India sering terlambat sehari dari negara-negara Arab yang berada di sebelah barat.

Kegusaran saya, kenapa India bisa terlambat dua hari dari Iraq yang berada di sebelah barat? Jangan-jangan, saya menebak-nebak, kami warga muslim India telah terlambat sehari dalam memulai berpuasa.

India, terutama wilayah utara yang meliputi Delhi, Bombay, Lucknow, Maharasthra, Bihar, Gujarat dan lain-lain bermazhab Hanafi harus melihat bulan (ru'yah hilal). Tapi, cara melihat bulan ini kadang membuat saya berpikir ulang. Kenapa harus selisih dua hari dengan Iraq yang ada di sebelah Barat? Padahal, ulama Iraq berpegang pada mazhab yang sama sebagaimana di India utara. Sejauh ini, saya tak tahu persis bagaimana problem 'masuk syawal' di India selatan --penganut mazhab Syafi'i-- yang juga rukyah hilal.

Semalam saya harus menjawab seluruh pertanyaan jamaah musholla KBRI New Delhi yang diliputi kebingungan seputar perbedaan lebaran yang tidak seperti biasanya, karena ada beberapa negara yang sudah berlebaran jauh lebih dulu. Pendeknya, di India, jika nanti sore mendung dan akhirnya hilal nggak terlihat, berarti kami harus takmil (menyempurnakan) menjadi 30 hari. Itu artinya, bahwa kami harus berbeda tiga hari dengan Iraq yang ada di sebelah Barat.

Sekitar beberapa tahun lewat, ketika kami sedang menunggu konfirmasi sambil makan ayam tandoori di pinggiran masjid, di sebelah kantor team rukyah India, tentang berita lebaran, diumumkan bahwa karena mendung dan lain hal besok masih harus berpuasa sehari, tidak masuk bulan Syawal. Ohhh, kita masih puasa besok, begitu celetuk teman saya sambil mengunyah ayam tandoori yang hangat, padahal Saudi waktu itu mengumumkan bahwa besok sudah masuk bulan Syawal, dan Indonesia sendiri telah berlebaran kemarinnya. Kita bisa hitung, waktu itu, India akan berbeda dua hari dengan Indonesia. Tapi, sepuluh menit kemudian, tiba-tiba ada pengumuman susulan dari loud speaker: atas kesepakatan team rukyah India diumumkan bahwa keputusan tentang besok masih berpuasa telah dianulir, dan disepakati bersama, bahwa besok adalah lebaran, karenanya haram berpuasa. Kami terbengong-bengong, rasa senang dan bingung bercampur aduk. Ayam tandoori yang kami pegang tidak lagi berasa ayam, entah.

Malam tadi, ada beberapa jamaah yang mendesak saya untuk menkonfirmasi pada jam 9 malam, tentang informasi sudah masuk Syawal, atau tidak pada kantor team rukyah di Jama' Masjid, Old Delhi. Ketika, padahal, kami baru berpuasa 28 hari. Saya tegaskan, kita baru puasa 28 hari. Ini Berarti, bahwa tidak ada kemungkinan India akan berlebaran besok pagi, tapi kemungkinan besarnya adalah besok lusa.

Karena mereka tetap mendesak, akhirnya saya menyanggupi. Saya melanjutkan pembicaraan, seandainya besok lebaran, berarti ada yang salah dengan awal masuk puasa kita. Mungkin kita terlambat satu hari dari waktu semestinya. Karenanya, setelah lebaran Ied, keterlambatan satu hari itu kita wajib bayarkan di lain hari. Besok, lanjut saya, jika betul-betul masuk Ied, kita diharamkan untuk berpuasa.

Ketika ada satu jamaah yang bertanya: kenapa kita tidak mengikuti saja Indonesia, toh, kita adalah warga Indonesia. Saya hanya bergumam kecil dalam hati: wah, seorang nasionlis tulen, nih. Kita bisa mengikuti negara lain, begitu jawab saya, yaitu negeri Muslim terdekat, ketika di negara di mana kita berada, tidak ada satupun ulama tempat bertanya. Tindakan ini pernah dilakukan oleh salah satu Islamic Center di Belanda sekian puluh tahun lalu. Dan, kemungkinan mengikuti negeri muslim terdekat, masih lanjut saya, lebih terbuka lagi jika kita di Kutub Utara atau Selatan ketika kita sendirian.

Sejak awal hingga akhir pengajian, pertanyaan lebih sering dilontarkan oleh jamaah putra yang dipenuhi oleh para diplomat KBRI New Delhi dan para Staff. Sedangkan jamaah putri banyak diam dan menjadi pendengar yang baik. Ketika saya bilang bahwa ada kemungkinan besok lebaran (ketika kami baru berpuasa 28 hari), spontan Ibu-Ibu Dharma Wanita berteriak: seandainya besok lebaran, bagaimana kami menyiapkan masakan untuk open house? Kami tak sempat lagi mempersiapkan masakan jika mendadak lebaran adalah. Mas Riz, begitu Ibu-Ibu itu memanggil nama saya sambil setengah teriak karena panik, bisa nggak lebarannya diundur saja menjadi lusa sehingga kami bisa masak yang enak-enak?
Saya garuk-garuk, melongo.

Opo tumon ?



Foto: Lebaran di India. Foto bersama teman-teman mahasiswa Indonesia di India, yang bergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India.
Selengkapnya...



Wednesday, November 19, 2003

Eljihan, Selamat Datang.

Eljihan merupakan sebuah nama yang indah, mengesankan kecantik-an dan gemulai si pemilik nama. Jika Eljihan dipakai sebagai nama sebuah lembaga kajian dan keilmuan tentu mengesankan juga sebuah lembaga kajian yang padat dan memiliki potensi mencerahkan.

Eljihan singkatan dari Lembaga Kajian Islam Hanif, segera akan dideklarasikan. Kita masih menunggu kelanjutan kiprahnya. Disebut-sebut lembaga ini adalah counter terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dimotori oleh intelektual muda NU brillian, Ulil Abshar Abdalla. Selama ini gagasan-gagasan segar wacana keislaman yang ditawarkan oleh Islam Liberal (Islib) terkesan sangat tinggi, sulit untuk diterima oleh sebagian kalangan, meskipun kalangan tersebut berasal dari satu muara, yaitu kelompok masyarakat tradisionalis NU.

Kendati pemikiran yang digagas Islib pada tataran "bahan mentah" bukanlah barang asing, sebagai pendalaman dan pematangan beberapa ajaran doktrinal ahl al sunah wa al jama'ah milik NU, namun dengan dibumbuhi beberapa analisa tajam dan pengayaan wacana yang digelontorkannya masih menjadi sebuah wacana asing bagi sebagian kalangan NU. Aswaja yang tasamuh tidak saja pada sesama Muslim tetapi juga terhadap non Muslim yang telah menjadi tradisi mengakar di masyarakat tradisionalis NU, ketika diramu dan diperkaya dengan dimasukkan unsur-unsur pluralisme modern, menjadi sebuah sajian pemikiran yang masih aneh, dan membuat beberapa kalangan NU kaget.

Demikian pula tentang tawaran Islib yang mengajak untuk lebih mengedepankan rasio dalam membicarakan teks wahyu, masih disambut dengan ketakutan yang cenderung berlebihan. Padahal tidak kurang dari Imam Syafi'i yang masih menjadi Imam panutan terbesar warga NU dalam bermazhab adalah orang yang memuliakan rasio ketika bertabrakan dengan teks-teks yang kurang kuat. Imam Asy'ari yang menjadi acuan dasar dalam bertauhid kalangan NU, juga banyak dipengaruhi dialektika Aristoteles yang mengedepankan wahyu. Bahkan, Imam Ghazali yang sabda-sabdanya masih dirujuk oleh banyak kalangan NU tidak mengutuk penggunaan akal.

Muktamar Pemikiran Islam NU (MPI-NU) beberapa waktu lalu di Situbondo adalah upaya menetapkan sebuah ukuran dalam melihat hubungan naqal dan aql. Tidak saja anak-anak muda NU yang bergerak di Jaringan Islam Liberal yang merasa mendesak untuk segera memformulasikan ketentuan baku dan kesepakatan bersama dalam menyelesaikan soal tersebut, tetapi juga anak-anak muda NU di berbagai jaringan, seperti Jaringan Islam Emansipatoris (JIE), Jaringan Pesantren Virtual (JPV) dan lain-lain. Karena, pada soal ini sesungguhnya yang membedakan antara keislaman model NU dan kalangan selain NU.

Bahkan, pada jaringan disebut terakhir, kendati adalah sebagai jaringan dakwah di dunia maya yang menyosialisasi keislaman dan gagasan progresif di kalangan pesantren yang melibatkan santri-santri NU yang sedang belajar di luar negeri. Seperti, Muhammad Niam, Gus Ghofur Maemun, ustadz Nadhif, Luthfi Thomafi, Socheh, Charies, Arif Hidayat, Arif Rokhmat Widianto, Daniar Muhammad dan lain-lain, menemui kesulitan dalam merumuskan hubungan antara wahyu dan rasio.

Beruntung, soalan tersebut sudah agak tuntas dibahas di MPI-NU I Situbondo yang mulai menemukan benang merah penyelesaian. Setidaknya, ajakan untuk menempatkan rasio pada tempat yang layak sudah dimengerti dan disetujui oleh peserta muktamar yang bisa dipahami sebagai representasi wajah-wajah muda NU secara keseluruhan. Karena, tanpa membakukan metodologi yang baik, maka wacana keislaman yang ditawarkan kalangan NU sudah pasti akan tidak cukup sebagai bentuk jawaban atas zamannya.

Jika, Eljihan sebagai lembaga kajian, yang akan makin menambah semarak wacana keislaman yang dimunculkan oleh kalangan tradisional NU, adalah bukan counter terhadap gerakan Islib, maka merupakan satu poin penting yang perlu disambut dengan penuh kehangatan. Masih banyak sisi-sisi positif NU yang belum tergali. Terlalu banyak isi kitab-kitab `turats' (kitab kuning) yang belum tersentuh oleh tangan-tangan cerdik pandai, meminjam istilah Cak Nur, yang memiliki katalog. Cak Nur benar, bahwa metodologi sangat penting untuk membaca kitab `turats'. Hal ini terkait dengan kemunculan persoalan baru sebagai tantangan zaman yang menuntut ramuan Islam yang berjiwa kekinian.

Kami dari kalangan muda NU menyambut baik kehadiran lembaga kajian ini sebagai sebuah tawaran gagasan. Mengutip surat elektronik Mas Ulil, bahwa Hasil akhir bukanlah tujuan utama. Tetapi proses mengolah pikiran, mempertukarkan gagasan, mengadu argumen; dengan kata lain, perjalanan sebuah gagasan menuju suatu muara, melewati sungai, berbenturan dengan bebatuan, berkelok kiri kanan, itulah yang lebih penting.

Saya percaya, semakin banyak tawaran ide, maka terbuka kesempatan luas untuk berlangsung adanya pertukaran gagasan. Pada gilirannya, wajah Islam akan semakin genap dan wajah NU sebagai sebuah gerakan kultural dan pemikiran akan tampak jelas.

Kebenaran, pada dasarnya, adalah bersifat relatif. Klaim atas sebuah kebenaran adalah kekeliruan. Karena, tidak ada kebenaran kecuali hanya pada Qur'an. Dalam ilmu balaghah, hanya Qur'an yang `insya'. Adapun sisa selainnya adalah `khabar'. Sementara, teks Qur'an akan menjadi `khabar' ketika sudah tersentuh akal manusia yang menjadikannya berbunyi. Pada tataran ini berarti bahwa sebuah klaim sebagai satu-satunya kebenaran atas sebuah penafsiran Qur'an tidaklah bisa didukung. Sebuah tawaran wacana, karenanya, hendaklah tidak dibarengi dengan pengakuan sebagai sebuah kebenaran yang pasti dan sikap gampang menyesatkan pemikiran orang lain (takfir, pengkafiran).

Manakala banyak hidangan pemikiran yang tersedia, maka pilihan lebih banyak didasarkan pada `comfortability' (kenyamanan). Pada akhirnya, masyarakat akan memilih hidangan yang dirasa cocok dan pas bagi mereka. Pemaksaan hanya akan melahirkan sikap perlawanan yang dahsyat. Perjalanan Mu'tazilah yang seakan hilang dari panggung sejarah pergolakan pemikiran Islam cukup dijadikan sebagai sebuah teladan, bahwa sebuah pemikiran keislaman tidak akan diterima masyarakat dengan tulus jika disertai cara-cara kurang mengesankan.

Semoga kehadiran Eljihan makin melengkapi kajian keislaman yang sudah ada di kalangan NU, memperkaya tradisi intelektual NU, dan menghidupkan dialog-dialog dengan penguatan dialektika artikulasi pemikiran yang cerdas.

http://www.dutamasyarakat.com/detail.php?id=8215&kat=OPINI/
Selengkapnya...



Sunday, November 16, 2003

Konservatisme vs Liberalisme di Tubuh NU

Kehadiran Masdar F Mas'udi beserta P3M di Kairo, Mesir mendapat tentangan keras dari mahasiswa NU yang bergabung dalam PCI-NU Mesir. Bahkan Limra Zainudin, ketua PPMI, organisasi payung mahasiswa Indonesia di Mesir mengancam untuk membunuh, jika Masdar dan rombongan tidak segera membatalkan acara bertajuk " Simposium dan Pendidikan Islam Emansipatoris". Penolakan acara dengan disertai ancaman bunuh tersebut adalah hal yang sangat diluar dugaan. Apalagi jika penentangan tersebut berasal dari anak-anak muda NU yang sedang belajar di Mesir. Sementara, anak-anak muda NU ini adalah gambaran dari sedikit generasi NU yang berhasil mengecap pendidikan tinggi, dan dari sedikit yang berkesempatan untuk bersentuhan dengan pemikiran Islam dari sumbernya: Azhar al-Syarif dan Tanah Nil Mesir. Ada apa dengan NU?

***

Konservatisme vs Liberalisme di Tubuh NU
Oleh Rizqon Khamami

Duta Masyarakat,
Kehadiran Masdar F Mas'udi beserta P3M di Kairo, Mesir mendapat tentangan keras dari mahasiswa NU yang bergabung dalam PCI-NU Mesir. Bahkan Limra Zainudin, ketua PPMI, organisasi payung mahasiswa Indonesia di Mesir mengancam untuk membunuh jika Masdar dan rombongan tidak segera membatalkan acara bertajuk " Simposium dan Pendidikan Islam Emansipatoris".

Selama ini sebagai LSM keagamaan, P3M mengusung ide-ide Liberalisasi Islam. Beberapa diantaranya adalah isu-isu jender dan emansipasi wanita. Bahkan Masdar mengusung ide nakal peninjauan ulang waktu haji, zakat dan pajak dan lain sebagainya. Masdar adalah satu dari sekian banyak anak-anak NU yang sedang bergairah dalam upaya mendialogkan Islam-Barat.

Ide-ide segar Masdar bagi beberapa kalangan kelewat maju dan berani --jika tidak malah kelewat nakal--, membuat gerah sebagian kalangan NU. Namun pada sisi lain, tidak sedikit orang yang menanggapi ide-ide tersebut dengan menganggap hanya sebagai wacana yang lumrah --betapapun gila-- dalam kajian intelektual. Lontaran ide tersebut bagi kelompok terakhir dianggap sebagai upaya pengkayaan wacana. Sebuah hal yang wajar dalam tradisi intelektual.

Penolakan acara tersebut dengan disertai ancaman bunuh adalah hal yang sangat diluar dugaan. Apalagi jika penentangan tersebut berasal dari anak-anak muda NU yang sedang belajar di Mesir. Sementara, anak-anak muda NU ini adalah gambaran dari sedikit generasi NU yang berhasil mengecap pendidikan tinggi, dan dari sedikit yang berkesempatan untuk bersentuhan dengan pemikiran Islam dari sumbernya: Azhar al-Syarif dan Tanah Nil Mesir.

Produk-produk pemikiran Islam terkini kebanyakan berasal dan bermura dari negara tersebut. Sebagai contoh, Asmawy, Abu Zayd, Hassan Hanafi, Qardhawy dan lain-lain. Begitu juga pemikir Islam pada abad 20. Salah satunya adalah Muhammad Abduh. Ada apa dengan anak-anak muda NU ini?

Berdirinya NU

Jika kita kembali ke masa lalu, NU berdiri adalah sebagai reaksi atas serbuan ide-ide Muhammad Abduh dan meruaknya Wahabisme. Terutama disebabkan oleh berkuasanya rezim al-Su'ud dengan memberlakukan paham Wahabi di semenanjung Arabia.

Abduh dengan ide tajdid al din (pembaharuan agama) mempengaruhi banyak generasi muda Indonesia kala itu, berakibat pada goyahnya tradisi masyarakat Indonesia. Ajakan untuk membuang taklid memaksa para ulama yang setia dengan tradisi berkumpul dalam wadah yang satu: Nahdlatul Ulama, mempertahankan konservatisme.

Energi para kyai tradisi banyak terbuang dalam upaya-upaya defensif dan mempertegas identitas diri: pada batasan mana tradisi masih bisa diteruskan dan modernisme bisa dilanjutkan. Dibutuhkan setengah abad untuk pemantapan identitas diri ini.

Segera setelah "serangan" dari kelompok modernis yang seringkali memanaskan kuping mulai mereda, selain tatanan bangunan tradisi sudah kokoh, kalangan NU mulai memikirkan penambahan bangunan. Kalangan muda NU, terutama sejak satu dasa warsa terakhir, melirik tradisi Intelektual Barat dengan berpijak pada fondasi bangunan tradisi, mengejar ketertinggalan dari kalangan modernis. NU melesat jauh, bahkan disebut-sebut meninggalkan rekan-rekannya di kalangan modernis.

Upaya dialog Barat-Islam yang digagas oleh kalangan muda NU ini, mau tidak mau, menggeser posisi konservatisme ke arah liberalisme. Kalangan muda tidak cukup puas dengan semua tradisi keislaman yang ada tanpa ikut-serta membangun "bangungan tambahan" untuk dijadikan kamar dan ruang yang nyaman bagi mereka. Biarlah ruangan tradisi yang ada dihuni oleh para orang tua, sedang anak muda dengan kegelisahan dan ukuran kenyaman yang berbeda dari kalangan tua ini membuat ruang tersendiri di atas bangunan tradisi NU yang sudah ada. Anak-anak muda ini tidak keluar dari batasan NU, tapi hanya menambahi saja. Mereka merasa tergugah untuk memenuhi panggilan sejarah, dan --lebih luas lagi-- membuat sejarah.

NU baru

Kalangan baru NU ini muncul sejak kesempatan pendidikan tinggi terbuka bagi mereka. Perkenalan dengan pemikiran dunia lain, pada sisi lain, demikian juga menciptakan gelombang baru intelektualitas NU. Namun, sayangnya, hal ini tidak dibarengi oleh terbuka seluas-luasnya kesempatan tersebut bagi semua generasi muda NU sisanya. Faktor ekonomi, rupanya, sangat berpengaruh.

Pada saat kesempatan tersebut hanya bisa dinikmati oleh segelintir anak muda NU, maka pada gilirannya akan menciptakan gap besar. Sillabus pendidikan pesantren, jika tanpa perubahan, mencetak anak-anak NU secara otomatis menjadi konservatis. Liberalisme yang digagas oleh segelintir anak-anak NU yang "tercerahkan" hanya menjadi pemikiran elitis, sejalan dengan ke-elit-an pendidikan tinggi untuk kebanyakan generasi muda NU.

Selanjutnya, gesekan-gesekan intelektual akan tidak bisa dielakkan. Generasi konservatis, bisa jadi, tidak mudah menerima pemikiran rekannya dari generasi liberalis. Dari itu harus ada upaya-upaya baru untuk mempertemukan, --sekurang-kurangnya untuk mendialogkan--, dua kutub pemikiran tersebut.

Kasus Mesir

Ketika muncul pertanyaan, kenapa muncul gesekan intelektual pada mereka yang sama-sama telah menikmati pendidikan tinggi? Untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak bisa membagi wilayah hitam-putih. Faktor lain yang bermain di sini adalah warna abu-abu. Menurut sumber yang dekat dengan penulis, faktor abu-abu tersebut adalah ketidak-sukaan personal pada salah seorang pegiat di P3M, bukan pemikirannya. Konon, juga terkait dengan perasaan unggul intelektual --untuk tidak mengatakan keangkuhan-beberapa pelajar di Azhar. Disebut-sebut bahwa 'ajaran Islam Emansipatoris' yang masih perlu diperdebatkan kesahihannya tidak layak untuk mengajari Islam yang sudah mapan di Azhar. Wallahu a'lam.

Sudah pasti, menurut saya, jika gesekan-gesekan intelektual ini tidak segera diselesaikan, maka berkelanjutan menjadi pertempuran di kalangan NU, satu hal yang harus dihindari. Masa-masa pergolakan intelektual di tubuh NU yang sedang tumbuh membanggakan ini mengalami goncangan. Setelah lebih dari setengah abad kalangan NU sibuk memperteguh fondasi tradisi dari serbuan kaum modernis, jika pertikaian arus konservatisme dan liberalisme di tubuh NU ini --sebelum lebih jauh menjadi pertempuran terbuka-- tidak segera dilerai dan dicarikan jalan dialog, maka akan menumbangkan bangunan NU yang sudah sedemikian tinggi, kokoh dan nyaman ini. Apalagi kelompok yang bertikai ini adalah calon-calon pemegang tongkat estafet kepemimpinan NU.
Saya tidak bisa membayangkan kesedihan mendalam saya jika pada akhirnya NU harus pecah menjadi dua, tidak dalam kubu, tapi dalam dua organisasi berbeda seperti nasib organisasi massa Islam lain di belahan dunia Islam lainnya. Apakah NU akan tercerai-berai seperti organisasi-organisasi tersebut?
Come on, we have to take it into account.
Wallahu a'lam.

(Tulisan ini pernah dimuat di Dutamasyarakat)
Selengkapnya...



Thursday, November 13, 2003

Fenomena Intelektual Muda NU dan Muhammadiyah

Pada satu dekade terakhir dapat ditengarai sebuah kebangkitan intelektual di kalangan anak-anak muda Islam yang berpayung pada organisasi beraliran tradisional, dan disusul oleh anak-anak muda dari kalangan Islam modernis. Arah angin di kemudian hari kedua organasasi Islam ini perlahan terciptanya tipis batasan antara istilah tradisional dan modern. Lantas, apa yang akan terjadi?

***

Fenomena Intelektual Muda NU dan Muhammadiyah
Oleh Rizqon Khamami


Duta Masyarakat,
Pada satu dekade terakhir dapat ditengarai sebuah kebangkitan intelektual di kalangan anak-anak muda Islam yang berpayung pada organisasi beraliran tradisional, dan disusul oleh anak-anak muda dari kalangan Islam modernis. Arah angin di kemudian hari kedua organasasi Islam ini perlahan terciptanya tipis batasan antara istilah tradisional dan modern.

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam ) dari sayap tradisional, berangkat dari warisan tradisi kaya yang dimilikinya dipergunakan sebagai alat membaca dunia kekinian. Kemodernan telah dipadu secara apik dengan warisan-warisan tradisi keilmuan yang ada, melahirkan sintesis wacana keislaman yang segar. Fenomena ini berbarengan dengan meruaknya kegairahan beragama di Indonesia. Namun sebagian orang masih ragu-ragu untuk menapak dalam hidup modern dengan membawa Islam, yang selama ini mengesankan bahwa Islam tak seiring dengan pilihan hidup modern, mengajak kembali ke abad pertengahan sebagaimana Nabi Muhammad hidup. Kelompok muda dari kalangan tradisional memunculkan beragam wacana yang bisa menjawab kegamangan tersebut.

Ulil Abshar Abdalla, salah satu aktivis Lakpesdam, dalam "On Being Muslim" (Republika, 7 Juli 2002 ) menulis bahwa salah satu warisan intelektual Islam, yaitu qawaidul fiqhiyyah, kaidah-kaidah fiqh, sekurang-kurangnya menawarkan jawaban cara berislam yang "tidak kaku". Berkat kaidah fiqh ini pula anak-anak muda NU tidak terlalu sulit menembus dinding-dinding yang bagi kalangan lain masih dianggap tabu dengan mewacanakan hal-hal baru yang sama sekali di luar kajian Islam selama ini. Salah satu bunyi kaidah fiqh tersebut "mukhafadah ala al qadimi al shalih, wa akhdu al jadid al ashlah", mempertahankan perkara lama yang bagus dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.

Anak muda NU lain, Rumadi, juga mewartakan satu solusi soal pelik antara sekulerisme dalam hubungannya dengan sikap beragama (Religius Sekaligus Sekuler, Kompas, 12 Juni 2003). Dia mengkritik , terutama di Indonesia, berkembangnya cara berpikir oposisi biner yang saling menafikan dalam ungkapan: "Seseorang kalau dia religius maka pada saat yang sama, pasti (harus) tidak sekuler. Tidak ada ruang bagi seorang yang teguh keagamaannya untuk berpikir sekuler. Sebaliknya, orang yang sekuler pada saat yang sama, pasti (harus) tidak religius. Tidak ada ruang bagi orang sekuler untuk menjadi sosok yang religius." Menjadi sekuler bukan berarti tidak agamis.

Gesekan anak-anak muda NU dengan realitas sosial, terutama didorong kenyataan bahwa mayoritas warga NU masih belum terpedayakan dalam banyak hal, memaksa salah satu intelektual muda NU lain, Zuhairi Misrawi, bangkit dengan bendera Jaringan Islam Emansipatoris (JIE) mengusung tema pembebasan kaum terpinggirkan dari perspektif Islam.

Muktamar Pemikiran Islam NU (MPI-NU I) digelar di Situbondo, 4-6 Oktober 2003 merupakan satu lompatan penting dalam tubuh anak-anak muda NU. Pemikiran-pemikiran yang diwacanakan selama ini diupayakan adanya katup metodologi. Selain sebagai upaya penyeragaman dalam penggunaan metodologi untuk kajian keislaman, juga sebagai justifikasi bahwa wacana-wacana yang dilemparkan selama ini adalah pengembangan wacana yang ada di literatur kitab-kitab kuning (kitab turats) dan pengayaan wacana atas tradisi hidup di kalangan tradisionalis NU yang masih memegangi tradisi cukup kuat sebagai bagian dari keberagamaan mereka.

Kepiawaian anak-anak muda NU terlihat mampu memadukan dengan baik wacana-wacana modern yang mereka baca dengan warisan tradisi pesantren. Mereka dapat menyelesaikan, misalnya, soal pelik antara nasionalisme dan konsep `ummah', demokrasi dan `tasyawur', HAM dan `mabadi al-khamsah' dan lain-lain. Bahkan, ajaran dasar NU, ahlussunah wa al-jama'ah yang disingkat dengan `aswaja', dikembangkan sedemikian rupa. `Tasamuh', salah satu dari konsep aswaja NU, yang memiliki arti toleran, diperkaya menjadi konsep pluralisme dalam masyarakat Indonesia modern dengan segala pernik-perniknya.

JIMM dan Muhammadiyah

Pada tataran lain, anak-anak muda Muhammadiyah menunjukkan gejala kebangkitan yang sama. Sebagai salah satu organisasi massa Islam yang mendasarkan pada semangat pembaharuan Muhammad Abduh, dan semangat puritanisme Ibnu Taymiyah, Muhammadiyah telah mengalami "pergeseran" pergerakan. Meskipun berhasil memajukan amal usaha yang berhubungan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat, seperti rumah sakit, universitas, sekolah dan lain sebagainya, namun terkesan melupakan sisi kajian keislaman. Pengembangan wacana keislaman di tubuh organisasi modernis ini selama beberapa waktu tampak mandeg. Keberhasilan Muhammadiyah dalam bidang amal usaha belum membuat kalangan mudanya terpuaskan. Gesekan-gesekan kaum muda Muhammadiyah dengan fakta sosial, tak terelakkan, adalah pemicu geliat keintelektualan mereka, karena kaum tua Muhammadiyah lamban dalam mengantisipasi. Wacana-wacana anyar yang dimunculkan oleh kalangan muda Muhammadiyah merupakan bentuk kritik tak langsung dan sebagai ekspresi pemberontakan kepada kalangan tua Muhammadiyah.

Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) berdiri, dan pada 18-20 November 2003, menyelenggarakan Tadarus Pemikiran Islam - Muhammadiyah (TPI-Muh) di Malang, yang memiliki tujuan memetakan pemikiran Islam kontemporer, khususnya yang berkaitan dengan dialog Islam-Barat dan membangun kunci hermeneutik untuk turut andil memecahkan problem kekinian. Muncul nama-nama seperti Zuly Qodir, Happy Susanto, A Fuad Fanani, Piet A Khaidir, Zakiyuddin Baidhawy, Pradana Boy , Ai Fatimah Nur Fuad dan lain-lain.

Bahkan disebut-sebut TPI-Muh merupakan upaya awal membedah problem sosial, kemiskinan, keterbelakangan, krisis multidimensional yang memunculkan kegelisahan religius, keprihatinan sosial, dan moral. Intelektual muda Muhammadiyah terpacu untuk melakukan aksi penyadaran dan pencerahan kepada rakyat.

Persentuhan anak-anak muda muhammadiyah dengan fakta kekinian dengan mengangkat isu-isu kontemporer seperti demokratisasi, hubungan antaragama, hak asasi manusia, kesetaraan gender, civil society, globalisasi, dan multikulturalisme adalah sebuah sikap kritis dalam memahami persoalan sosial yang memerlukan "penyelesaian agama". Semangat kembali kepada Al Quran dan Sunah Nabi Muhammad Saw (al-ruju' ila al-Quran wa al-Sunnah al-Nabawiyah) dalam ranah agama, bagi kalangan muda Muhammadiyah belumlah cukup, tanpa melibatkan diri dalam ranah sosial dan moral.

Dalam Musyawarah Nasional XXIV Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam di Universitas Muhammadiyah Malang pada bulan Januari 2000 telah diputuskan agar manhaj tarjih dan pemikiran Islam dalam Muhammadiyah tidak hanya didominasi oleh pengkajian masalah-masalah akidah dan fikih yang dianalisa dengan pendekatan tekstual, tetapi harus menembus ke berbagai wilayah pemikiran keislaman, baik teologi (kalam), falsafah, fikih, tasawuf, dan agenda-agenda sosial kemasyarakatan. Tak pelak, pilihan ini harus dibarengi dengan peninjauan kembali metodologi. Semangat tajdid al din (pembaharuan pemikiran keagamaan) yang digagas Abduh mendapatkan tempat.

Menariknya, ketika angkatan muda NU dan Muhammadiyah secara bersamaan mengangkat isu-isu tersebut di atas, maka batas antara tradisionalis NU dan modernis Muhammadiyah semakin kabur, kecuali dari kenyataan bahwa anak-anak muda NU mengembangkan wacana keislaman berangkat dari warisan tradisi yang ditularkan secara turun temurun, dan angkatan muda Muhammadiyah menggali kajian keislaman dari semangat tajdid al-din. Akhirnya, warisan persengketaan intelektual masa lalu dua kelompok Islam ini sebagai akibat desakan identitas dan kuatnya kepentingan lambat laun mulai menghilang. Selanjutnya Islam Indonesia tidak selalu berwarna politik, tetapi bercorak kultural. []
Wallahu a'lam.

(Tulisan ini pernah dimuat di Dutamasyarakat).
Selengkapnya...



Monday, November 10, 2003

Tantangan Dakwah NU

Diaspora NU sudah tersebar banyak di penjuru dunia. Saya sepakat dengan penilaian, potensi utama yang bisa mempertotonkan ke khalayak dunia bahwa ada alternatif Islam moderat yang bisa dengan sangat mudah hidup di dunia modern. Di manapun tinggal, keberadaan diaspora NU ini sangat penting untuk ditugasi --dan menugasi dirinya sendiri-- sebagai ujung tombak dakwah Islam yang menawarkan hal positif dari Islam Indonesia (NU). Apakah perlu ada di antara kita menggagas Dakwah untuk menata ulang bangunan Islam-NU kita ini? Bagaimana respon LDNU ?

***

Tantangan Dakwah NU
Oleh Rizqon Khamami

Duta Masyarakat, Jumat, 21 Pebruari 2003

SEBUAH Diaspora, NU sudah tersebar banyak di penjuru dunia. Saya sepakat dengan penilaian, potensi utama yang bisa mempertotonkan ke khalayak dunia bahwa ada alternatif Islam moderat yang bisa dengan sangat mudah hidup di dunia modern. Di manapun tinggal, keberadaan diaspora NU ini sangat penting untuk ditugasi -dan menugasi dirinya sendiri- sebagai ujung tombak dakwah Islam yang menawarkan hal positif dari Islam Indonesia (NU).

Meminjam istilah Harun Nasution, "NU ditinjau dari aspek-aspeknya", NU memiliki sudut Emansipatoris yang lagi digarap oleh Zuhairi Misrawi, Liberal digarap Ulil Abshar-Abdalla, Pribumi digarap Khamami Zada, dkk, NU minus kajian dakwah. Setahu saya, dari dulu hingga sekarang dakwah di NU lebih banyak diserahkan kepada individu, jarang terorganisir. LDNU sewaktu dipegang oleh Syukron Makmun, saya setengah yakin, hanya dikarenakan Syukron dikenal sebagai dai. Entah LDNU sekarang. Artinya, dakwah dalam NU masih bersifat individual yang tak terorganisir. Pada saat sekarang, NU sudah semestinya mulai merambah medan dakwah yang lebih luas.

Seperti yang saya contohkan sebelumnya, masyarakat Islam di New Caledonia yang kebanyakan dari Jawa, masih memegang dan mempraktekkan Islam Tradisi (NU) sehingga tatkala (Allah yarham) Lukman Harun dari Muhammadiyah diminta untuk mengirim dai ke pulau tersebut, menemui kemacetan dialog antara jamaah dan si dai. Begitu pula di Suriname didapati hal yang sama.

Saya pernah berdialog dengan anak Suriname yang sedang berguru ilmu dakwah di Pusat Tabligh di Nizamuddin, India mengeluhkan beberapa hal tentang masyarakat Indonesian-origin, termasuk langkanya dai-dai yang mengetahui dan membimbing amaliah ibadah yang dipraktekkan oleh mereka. Terbersit di benak saya, jika ini diorganisir oleh, umpamanya, salah satu pesantren NU dengan mengirim santri-santri terbaiknya untuk KKN (kuliah kerja nyata) di dua negara tersebut, barangkali kegundahan pelaku dakwah di suriname yang sudah ada tadi akan bisa diminimalkan.

Secara organisasi, NU lebih besar dari DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) pimpinan (Allah yarham) Natsir. Pada akhir 80-an, DDII mengirimkan pelaku dakwah ke berbagai pelosok indonesia yang Muslim nya belum banyak menerima pembinaan. Sebagai saingan, buru-buru Suharto segera mengirim 1000 dai ke daerah-daerah transmigrasi. Regardless the reason behind, pengiriman dai oleh Soeharto ini makin melengkapi (saya memakai kata melengkapi, bukan menyaingi Natsir). Pada masa itu, adakah pengiriman dai-dai secara legal dari LDNU yang diorganisir?

Di Hongkong, menurut seorang diplomat yang pernah di tempat di sana mengungkapkan, langkanya (atau malah nggak ada sama sekali) para dai yang suka rela membimbing mereka. Sampai-sampai diplomat ini merangkap sebagai imam mushalla, khatib, dan imam Salat Idul Fitri, selain mengurusi 'tetek-bengek' soal-soal administrasi para muqimin dan muqimat di Hongkong yang sudah merambah angka di atas 60.000 orang. Satu orang untuk ngurusin segitu banyak Muslim Indonesia. Masih kata diplomat ini: orang-orang Indonesia ini sangat membutuhkan siraman agama untuk menetralisir kepenatan mereka mencari uang. Mereka membutuhkan dai-dai yang tidak harus permanen tinggal di Hongkong.

Begitu pula di Korea, angka orang Islam Indonesia sudah ribuan. Siapa yang peduli? Hal yang sama kita temui di Amerika. Hampir 100.000 Indonesian dan beberapa ribu Indonesian-origin, sepertiganya adalah Muslim.

Saya yakin, kebanyakan mereka adalah Muslim yang belum menyadari bagaimana menjadi Muslim Saleh di suasana dunia Amerika. Barangkali, mereka berpikir: untuk menjadi orang saleh harus meninggalkan Amerika, atau menolak menjadi bagian kebudayaan Amerika. So, tidak jarang dari mereka akhirnya lebih memilih sikap antipati terhadap Islam, karena mereka nggak mau melepaskan sumber rezeki. Mereka lebih memilih tidak menjadi Islam shalih asal mereka bisa mendapatkan uang. Ironis, bukan?

Sekali lagi, di sini pentingnya menegaskan kembali ke mereka, bahwa menjadi Muslim ideal tidak harus melepaskan budaya Amerika. Kita menawarkan dan memperkenalkan ke mereka sebuah Islam yang bisa menjadi pribumi untuk dimanapun, tidak harus menjadi arab. (Kedalaman kajian tentang Islam Pribumi sangat dinantikan nih, Khamami Zada, dkk).

Menjadi Islam ideal tidak harus menjadi orang puritan, salafi, atau fundamentalist. Siapa pun terbuka menjadi 'insan-kamil' sebagaimana terbukanya wacana tentang kajian keislaman. Bahkan, menjadi Muslim ideal (insan kamil, kaffah, shalih) tidak bertentangan dengan hidup modern dengan menjauhinya : demokrasi, pluralisme, bunga bank haram, assuransi dosa, dll seperti yang diusulkan oleh Ulil lewat Islam Liberal.

Masalahanya sekarang, ketika Islam liberal, Islam emansipatoris, dan Islam Pribumi sudah 'mengudar-udari' kedalaman kajian mereka, adakah yang membahas masalah aktivitas dakwah. Mas Ulil, saya rasa, masih kesulitan menempatkan bagaimana posisi dakwah dalam Liberal manakala segala sesuatu perilaku seseorang adalah masalah private. Begitu pula untuk emansipatoris yang mengandaikan Islam sebagai perantara keadilan sosial dan Islam pribumi yang hanya --minimal sampai detik ini saya memahami-- untuk akomodasi bentuk tradisi keislaman yang ada sambil mengkritisi. Apakah perlu ada di antara kita menggagas Islam Dakwah melengkapi ketiga aspek NU yang sudah ada itu untuk menata ulang bangunan Islam-NU kita ini?

Bagaimana respon LDNU ?

http://www.dutamasyarakat.com/detail.php?id=10616&kat=OPINI/
Selengkapnya...